Darah Hebron di jalan perdamaian - Luar Negeri - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Luar Negeri 8/9

Sebelumnya Selanjutnya
text

Darah Hebron di jalan perdamaian

Perundingan damai Israel-Palestina bakal macet akibat pembantaian Hebron. kelompok ekstrim Palestina maupun Israel menentang perjanjian itu.

i
MUNGKIN inilah cara Tuhan menolong bangsa Palestina untuk membuka mata dunia. Pembantaian di Masjid Ibrahim, Hebron, itu memang kelewat keji. Jemaah yang sedang khusyuk salat, seusai santap sahur pada bulan Ramadan yang disucikan ini, bergelimpangan diterjang berondongan ratusan peluru. Darah membanjiri lantai, membuatnya begitu licin. Mereka yang hendak lari menyelamatkan diri malah terjerembab dan mati tertembak. Dari tangan Baruch Goldstein yang meluncurkan 111 peluru dari senapan mesinnya, tercatat 43 tewas dan 170 orang terluka. Namun, kematian mereka 25 Februari silam tidaklah sia-sia. Dunia terbelalak dan tersadar, ada sesuatu yang salah di wilayah itu. Reaksi keras bermunculan di mana-mana. Hampir semua negara mengutuk kejadian biadab yang jauh dari ukuran perikemanusiaan model apa pun. Israel jelas tak luput dari sasaran kutukan, sekalipun mengaku tak ikut bertanggung jawab atas tindakan anggota ekstrem yang gila-gilaan itu. Dewan Keamanan PBB segera bersidang untuk mengeluarkan resolusi mengecam peristiwa itu. Bisa diduga, kerusuhan berkepanjangan bakal meletus di daerah pendudukan Israel itu. Hingga sepekan setelah pembantaian, 21 warga Palestina yang berniat melakukan aksi balas dendam atas pembantaian itu tewas, sebagian besar karena peluru tentara Israel yang mencoba meredakan kericuhan. Di pihak pemukim Yahudi, dua orang terbunuh. Di New York, seorang warga Libanon membalas berondongan Goldstein di Hebron itu kepada empat siswa sekolah ultra-Ortodoks Yahudi, keempatnya terluka parah. Dunia memang penuh ironi. Kematian demi kematian inilah yang sekarang membuat Palestina mempunyai posisi tawar yang tinggi dalam perundingannya dengan Israel. Sebagai reaksi keras atas pembantaian Hebron, Palestina menghentikan segala pembicaraan perdamaian yang tengah berlangsung. Negosiasi dua pihak yang mestinya terus berjalan adalah kelanjutan dari Deklarasi Prinsip yang diteken Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan Presiden Palestina Yasser Arafat, di Washington, 13 September tahu lalu. Palestina menuntut pengusutan tuntas atas tragedi itu. Palestina memang berhak curiga bahwa pembantaian ini adalah sebuah konspirasi yang mengait militer Israel. Si jagal, Dokter Goldstein, adalah mayor dalam korps cadangan militer Israel. Ia pun bisa masuk ke lokasi masjid melewati dua tentara yang berjaga di pintu gerbang sambil melenggang karena berseragam militer. Tampaknya ia sudah berencana membuat aksi gila itu bila ditilik ucapannya beberapa hari sebelumnya: "Saya akan melakukan sesuatu yang bakal mengguncang dunia." Sadar bahwa posisinya sekarang cukup menguntungkan, Yasser Arafat lantas mengajukan empat syarat yang harus dipenuhi Israel bila ingin melanjutkan pembicaraan damai. Keempat syarat yang tampaknya sangat berat untuk dipenuhi Israel itu adalah: * Perluasan daerah permukiman Yahudi harus dihentikan dan tak boleh lagi ada pembangunan permukiman baru. * Daerah-daerah kantong terorisme, seperti Kiryat Arba tempat tinggal Goldstein, harus "dibersihkan". * Senjata 120 ribu pemukim Yahudi harus dilucuti. * Kehadiran kekuatan internasional di daerah pendudukan untuk melindungi warga Palestina. Sebenarnya, sebelum kemarahan Palestina marak, Rabin sudah mencoba meredamnya. Ia mengecam pembantaian yang disebutnya "tindakan kriminal yang menjijikkan" dan melucuti sebagian pemukim Yahudi. Rabin juga segera membentuk sebuah komisi penyidik untuk mengoyak tabir di balik pembantaian itu. Tapi semuanya tampaknya sungguh tak sebanding dengan 43 nyawa yang melayang. Arafat, yang bergeming, menyebut langkah Rabin itu aksi omong kosong belaka. Arafat tak cuma melempar jurus gertak mematikan langkah. Begitu berita tentang pembantaian Hebron meletus, Arafat segera mengadakan pembicaraan serius dengan Presiden Dewan Menteri Uni Eropa, Karolos Papoulias, dan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Igor Ivarov. Tentu, yang dicarinya, dukungan. Israel pun seperti orang gagap yang harus menangkis debat. "Sebaiknya hanya satu saluran yang dipakai. Terlalu banyak saluran akan membuat situasi menjadi semakin ruwet," kata seorang pejabat tinggi Israel yang dikutip Reuters. Maksudnya, tentu, Israel tak ingin perundingan di luar payung Amerika Serikat -- yang pasti tak akan mengorbankan kepentingan negeri Yahudi itu. Kekhawatiran Israel cukup beralasan karena baik Papoulias maupun Ivarov sama-sama mendukung usulan Arafat tentang kehadiran pengawas internasional untuk melindungi warga Palestina. Namun, buat Rabin, syarat ini sungguh berat untuk dipenuhi -- bila pasukan internasional itu bersenjata. "Kalau pengawas itu tidak bersenjata, kehadirannya masih bisa dipertimbangkan," katanya. Tapi, apalah artinya pengawas tanpa senjata di daerah yang begitu ganas bergolak? Belakangan ini merupakan hari-hari yang memusingkan Rabin. Di luar dugaan, Amerika pun agaknya tak keberatan adanya pengawas internasional di daerah pendudukan Israel. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Warren Christopher, menilai daerah rawan yang dihuni dua juta warga Palestina dan 120 ribu Yahudi bisa saja berada di bawah pengawasan internasional, paling tidak untuk sementara. Lagi pula, pengawasan internasional tak bertentangan dengan Deklarasi Prinsip yang diteken Palestina-Israel September lalu. "Ada pasal yang memungkinkan untuk membicarakan soal itu," kata Christopher. Bisa dipastikan, bila dunia berhasil mendesak Israel untuk menyerahkan pengawasan daerah pendudukan ke tangan pasukan internasional, reputasi Rabin di dalam negeri bakal jeblok. Saat ini saja Rabin sudah dituduh menjual negeri Israel ke Palestina oleh para ekstremis yang menentang perundingan perdamaian. Dalam situasi begini, sulit agaknya buat Rabin untuk menuruti segala tuntutan. Soal pelucutan senjata, misalnya, bisa jadi tak akan dipedulikan. Seperti disebutkan tadi, Palestina menuntut pelucutan senjata bagi semua pemukim Yahudi. Senjata, bagi orang Yahudi di sana, bisa disetarakan dengan nyawa. Di mana- mana senjata otomatis seperti M-16 buatan Amerika atau senapan Uzi Israel terlihat ditenteng oleh segenap lapisan orang. "Kami tak akan menyerahkan apa pun. Perintah itu berlawanan dengan hukum, tak bermoral, dan tak masuk akal," kata Benny Kahane, putra mendiang Rabi Meir Kahane, pemimpin gerakan Kach yang bergaris keras. Tuntutan Palestina lain yang masih jauh dari memuaskan adalah soal pembebasan tahanan. Hingga pekan lalu, Israel baru mau melepas 900 tahanan Palestina dari 9.000 orang -- versi resmi pemerintah Israel -- yang disekap. Padahal, menurut berbagai organisasi internasional yang dikutip Reuters, jumlah tahanan sekitar 12.000 orang. Jika demikian posisinya, jalan damai tampaknya akan macet. Perundingan Israel-Palestina tak akan pernah diteruskan tanpa ada satu pihak yang mau mengalah. Untuk menyelamatkan jalan damai itu, sampai-sampai Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, langsung mengambil alih penyelenggaraan perundingan, yang selama ini diadakan di Kairo, ibu kota Mesir. Clinton menawarkan tempat perundingan di Washington, yang akan berlangsung terus-menerus. Segala kerikil persoalan yang mengganjal bisa disingkirkan. "Bila ada yang menolak meneruskan perundingan," katanya, "sama saja memberikan kemenangan ke orang-orang gila yang anti perdamaian." Dengan atau tanpa pembantaian Hebron dan tuntutan baru Palestina yang membuat masalah kian ruwet, negosiasi Israel-Palestina sebenarnya juga sudah terantuk-antuk. Perundingan Kairo bertele-tele dan gagal menyelesaikan masalah yang masih tertinggal, seperti: * Kesepakatan tentang luas Yerikho yang akan diambil oper oleh Palestina. * Kontrol atas 13 dari 38 departemen yang saat ini dikuasai militer Israel, seperti air, listrik, dan kantor urusan pertanahan. * Bagaimana nanti polisi Palestina akan mengontrol keamanan. Pembebasan tahanan Palestina yang masih dipenjara oleh Israel. * Persetujuan perdagangan. Memang bisa dimaklumi jika kedua pihak kian sulit mengalah. Di pihak masing-masing ada tentangan keras atas perjanjian damai itu. Gerakan-gerakan ekstrem semakin berkembang (lihat Yang Ekstrem di Kedua Kubu). Kelompok Yasser Arafat, Al Fatah, sempat diguncang oleh mundurnya tokoh-tokoh kunci yang tak menyetujui konsep perdamaian. Si Orang Tua, demikian Arafat dipanggil para anak buahnya, mulus-mulus saja melewati berbagai tantangan atas kepemimpinannya di masa lalu. Namun, saat ini Arafat mesti menghadapi ujian berat yang mencemaskannya. Setiap saat ia bisa dikudeta -- yang tentu akan membuat perjanjian damai itu buyar. Belum lagi rongrongan Hamas yang tampak semakin mendapat sambutan warga Palestina di daerah pendudukan. Arafat menjadi semakin kurang populer karena hak otonom yang didapat atas Jalur Gaza dan Yerikho dinilai mayoritas orang Palestina justru akan menutup kans mereka untuk memperoleh sebuah negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Seperti kata Abdullah Hourani, Ketua Departemen Kebudayaan PLO yang mengundurkan diri: "Sudah tertutuplah pintu." Demikian halnya kubu lain, Israel. Berbeda dengan kelompok Hamas, yang paling banter hanya mengekspresikan ketidaksetujuannya lewat kerusuhan sporadis ala intifadah di kawasan pendudukan Israel, kelompok-kelompok ekstrem Yahudi sangat sistematis menggalang dukungan untuk menggagalkan perjanjian damai. Gerakan yang menamakan diri "Pro Israel", misalnya, memasang iklan satu halaman penuh di koran Jerusalem Post. Isinya, segala fakta tentang Perdana Menteri Rabin, yang mereka cap pengkhianat, dibeberkan. Dukungan tersebut juga diperluas hingga ke masyarakat Yahudi Amerika yang amat berpengaruh terhadap kebijakan luar negeri AS. Di sinagoga-sinagoga New York, dalam dua bulan terakhir ini, kampanye anti perjanjian damai selalu dikumandangkan. Mereka menganggap bahwa perjanjian ini akan menghancurkan Israel karena membiarkan negara Palestina berdiri di jantung wilayahnya. Selain itu, mereka juga khawatir bila kawasan Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan akhirnya juga dikembalikan oleh Rabin, Israel akan kehilangan sumber air yang memasok sekitar 65% kebutuhan air negeri itu. Secara terang-terangan kelompok-kelompok ekstremis ini mengancam akan melakukan apa saja untuk menggagalkan perjanjian damai yang diteken Rabin dan Arafat. Seperti yang dikatakan oleh seorang anggota Kach, salah satu kelompok ekstremis Yahudi, kepada televisi CNN, "Pembunuhan di Hebron itu memang perlu untuk menyelamatkan Israel." Melihat sulitnya perundingan untuk dimulai kembali, agaknya kemenangan memang sedang berpihak pada orang-orang gila yang suka main bunuh itu. Kiranya, tewasnya 43 orang di Masjid Ibrahim, yang membuka mata dunia itu, lebih dari cukup bagi para pembuat keputusan untuk bertindak nyata. Atau, mungkin ini yang terbaik bagi Palestina, paling tidak untuk sementara, agar tak lagi terperangkap oleh tipu daya Israel.Yopie Hidayat

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-28 00:04:36


Luar Negeri 8/9

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB