Narasi Media, Narasi Nostalgia - Seni Rupa - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Seni Rupa 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Narasi Media, Narasi Nostalgia

Pameran “Dunia dalam Berita” menjadi contoh pendekatan kuratorial yang cukup penting dalam lingkup institusi seni di Indonesia.

i Tak Kutuk Dadi Watu karya perupa Teddy D. dalam pameran “Dunia dalam Berita” di Museum MACAN, Jakarta, 29 April 2019. TEMPO/Nurdiansah
Tak Kutuk Dadi Watu karya perupa Teddy D. dalam pameran “Dunia dalam Berita” di Museum MACAN, Jakarta, 29 April 2019. TEMPO/Nurdiansah

BULAN Mei menjadi tonggak penting perjalanan sejarah demokrasi di Indonesia, terutama dalam kerangka untuk mengingat dan merefleksikan kembali peristiwa-peristiwa yang menandai jatuhnya rezim Orde Baru. Bukan hanya pengunduran diri Soeharto yang diumumkan pada 21 Mei 1998, serangkaian peristiwa sebelum itu juga penting untuk dicatat sebagai narasi perlawanan masyarakat sipil.

Pameran “Dunia dalam Berita” yang dibuka pada 1 Mei 2019 (akan berlangsung hingga 21 Juli 2019) di Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN), Jakarta, meskipun tidak secara langsung menunjuk peristiwa reformasi 1998, secara gagasan menautkan bagaimana kebebasan berekspresi telah berkontribusi secara signifikan pada keberagaman narasi, pertumbuhan media-media baru, dan perluasan praktik-praktik artistik. Pameran ini diikuti sepuluh seniman, yakni Agus Suwage, F.X. Harsono, Heri Dono, I Gusti Ayu Kadek Murniasih, I Nyoman Masriadi, Krisna Murti, Mella Jaarsma, S. Teddy D., Taring Padi, dan Tisna Sanjaya. Nama-nama tersebut juga menunjukkan bagaimana pameran ini secara tidak langsung memfokuskan seniman yang berkarya pada periode 1998 hingga awal 2000-an.

Bagi sebagian pengunjung yang telah mengikuti perkembangan seni rupa sejak akhir 1998, nama-nama itu barangkali membangkitkan semacam nostalgia atas sebuah masa yang sedemikian dinamis tapi juga menegangkan sebelum dan sesudah reformasi. Judul yang dipilih untuk pameran pun sudah memancing perasaan nostalgik itu. Hampir semua orang yang mengalami periode 1980-an dan 1990-an pasti punya memori kolektif sangat kuat atas acara televisi tersebut.

Pameran dibuka dengan karya F.X. Harsono, Blank spot in my TV, yang menampilkan potongan gambar dari berita televisi yang pada bagian mulutnya ditutup dengan lingkaran putih. Berita ini menampilkan wajah-wajah narasumber berita dari berbagai profesi, dari politikus sampai ahli ekonomi. Karya ini secara frontal menunjukkan ungkapan kemuakan pada kata-kata yang disampaikan melalui televisi. Kritik atas pengaruh televisi sebagai media dominan yang mengubah gaya hidup masyarakat juga ditampilkan melalui karya S. Teddy D. (almarhum), Tak Kutuk Dadi Watu (1997), yang berupa kotak televisi yang dipahat dari batu. Seperti banyak karya lain Teddy, karya ini berangkat dari simbol yang sederhana dan nyaris frontal, tapi seperti secara langsung menunjukkan kompleksitas realitas sosial yang sedang ia tunjuk.


I Eat You Eat Me karya perupa Mella Jaarsma dalam pameran “Dunia dalam Berita” di Museum MACAN, Jakarta, 29 April 2019. TEMPO/Nurdiansah

W251bGwsIjIwMjAtMTItMDEgMDI6MzU6MzUiXQ

Setelah melalui karya pembuka yang sangat relevan dengan tema pameran, pengunjung memasuki ruang yang menyentuh diskusi tentang gender, terutama melalui karya I Gusti Ayu Kadek Murniasih dan Mella Jaarsma. Karya-karya Murni muncul dalam jumlah cukup signifikan. Sepuluh karya pentingnya yang cukup lama tidak ditampilkan muncul dengan pernyataan tegas.

Seperti sudah banyak diulas, karya Murni sangat fenomenal dalam mengangkat suara kesadaran perempuan atas hak ketubuhannya. Karyanya acap kali sensual dan nakal dalam membicarakan sensualitas, yang membuatnya menjadi tidak biasa dalam khazanah karya rupa Indonesia, apalagi dibalut dalam tafsirnya yang penuh humor, kepahitan, dan kepedihan. Karya Mella Jaarsma juga dimunculkan dalam bingkai tentang tubuh dan gender. Sepuluh karya yang terentang selama hampir tiga dasawarsa menunjukkan bagaimana Mella tertarik pada gagasan tentang identitas, yang tak tunggal dan terus berubah, yang ia jelajahi dalam bahasa visual bentuk kostum dengan berbagai konteks budaya. Karya lamanya, I Eat You Eat Me, misalnya, memberi pengunjung museum ruang untuk menjadi bagian dari karya. Adapun karya tenda pengungsi yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain menunjukkan terjemahan dari konsep pakaian sebagai pelindung (shelter). 

Meskipun relevan dan tak terhindarkan, bingkai cara pandang yang digunakan untuk membicarakan gender dalam pameran ini terlalu luas, bahkan cenderung arbitrer. Dalam sebuah teks pameran disebutkan bahwa masa pascareformasi membuka kemungkinan bagi seniman untuk membicarakan keberagaman identitas. Diskusi-diskusi feminisme mulai muncul seiring dengan narasi mengenai kesetaraan sosial, keadilan berbasis gender, kelas, agama, dan ras. Tentu saja karya-karya Murni merupakan bagian penting dari sejarah seni periode 1990-an, tapi kemunculannya dalam bingkai “pengaruh media dalam pembicaraan gender” saya kira cukup disayangkan. Apalagi tidak ada konteks yang menunjukkan kepada audiens—terutama generasi yang lebih muda—bagaimana media massa pada masa itu membentuk stereotipe perempuan dan bagaimana gambaran Murni memberikan perlawanan atas stereotipe-stereotipe tersebut.

Jika ada konteks yang dihadirkan, saya kira terdapat kemungkinan yang lebih luas untuk mendiskusikan bagaimana identitas perempuan Orde Baru dimunculkan dalam ideologi domestikasi dan “ibuisasi” negara serta bagaimana seniman perempuan memberikan alternatif atasnya (termasuk yang dilakukan Murni). Demikian pula karya Mella Jaarsma. Saya tidak langsung melihat pilihan karya yang ditampilkan secara konseptual berada dalam kerangka “demokratisasi media”.

Agus Suwage menampilkan karya yang dibuatnya untuk pameran “AWAS!” pada 1999 berjudul Pleasure and Pressure. Karya ini berbentuk barak militer yang di dalamnya dipaparkan lukisan-lukisan Agus yang meminjam bahasa visual baliho film. Pada masa itu memang Agus mulai cukup konsisten memunculkan gagasan tentang “diri” yang direpresentasikan melalui kemunculan wajahnya pada berbagai lukisan. Pada karya ini beberapa kali wajah itu muncul, seolah-olah Agus menjadi bintang dalam film-film yang ia tampilkan.

Dalam pembahasan tentang demokratisasi media dan kebebasan ekspresi, pameran ini juga menggarisbawahi munculnya eksperimentasi media-media baru dalam karya seni dan bagaimana budaya populer mempengaruhi bahasa visual karya seni yang diciptakan pada periode tersebut. Karya Makanan Tidak Mengenal Ras oleh Krisna Murti menjadi satu karya yang ditampilkan untuk melihat eksperimen seniman dengan media berbasis gambar gerak dan citraan digital—di luar konten karyanya sendiri yang menunjukkan bagaimana makanan menjadi bagian penting dalam identitas kelompok masyarakat. Karya ini dengan cepat menarik perhatian pengunjung terutama karena foto makanan-makanan tersebut ditempelkan pada obyek yang kontradiktif, yaitu kloset. Pada salah satu dinding ruang pamer, pengunjung dapat menyaksikan video tentang para penjual makanan dalam dialog keseharian yang lucu dan menggelitik.

Di tengah ruang pamer, panggung menjadi milk Tisna Sanjaya. Seperti milik Agus Suwage, karya Tisna awalnya juga dipamerkan dalam “AWAS!”. Ia membuat lukisan serupa poster “Visit Indonesia Year” yang seperti kontradiktif dengan masa itu yang penuh ketegangan seusai peristiwa bom Bali. Dalam poster itu Tisna menampilkan dirinya memakai kaus Partai Golkar dan seragam militer seperti menyambut turis yang datang. Bersama poster tersebut, Tisna menyuguhkan instalasi berbasis bentuk-bentuk estetika kelas bawah seperti dinding toilet umum dari bambu serta kaus suvenir yang secara ironis tidak menampilkan keindahan—ia justru memilih daerah penuh konflik seperti Sampang dan Semanggi.

Selain lewat karya Agus Suwage, pengaruh budaya populer banyak muncul melalui karya I Nyoman Masriadi. Karya-karya Masriadi pada awal 2000-an mengentak dunia seni rupa Indonesia terutama karena ia menampilkan bagaimana moda kreatif yang lebih berbasis pada budaya populer, seperti video game atau komik, bisa menjadi sebuah cara membicarakan politik.

Masriadi melihat politik dalam konteks yang lebih sehari-hari. Ia mencampuradukkan berbagai realitas sosial dengan narasi-narasi politik serta teks-teks yang nakal dan penuh humor. Tapi banyaknya lukisan Masriadi yang ditampilkan tidak terlalu relevan dengan kuratorial pameran sehingga ada kesan pameran ini hendak memberikan ruang yang lebih besar bagi karya Masriadi ketimbang karya seniman lain. 

Viva La Muerte karya Teddy D. di Museum MACAN, Jakarta, 29 April 2019. TEMPO/Nurdiansah

Pertemuan antara budaya populer dan tradisional dapat ditemukan dalam instalasi Heri Dono, Hoping to Hear from You Soon (1992). Karya ini penting untuk melihat pengaruh tradisi wayang kulit dalam trajektori kreatif Heri Dono, yang hingga sekarang masih menjadi bahasa ungkap utama dalam perjalanan keseniannya. Mengambil visual dari spanduk ala pedagang kaki lima (warung pecel lele pinggir jalan), Hari Dono menggunakan spanduk itu untuk menggantikan geber pada wayang. Cara-cara bermain yang cair dan luwes—tidak membedakan antara seni modern dan seni tradisi tapi melihat keduanya sebagai sumber inspirasi—ini saya kira juga menjadi penanda penting bagi munculnya generasi baru seniman Indonesia pada periode 1990-an. 

Karya lain yang mengesankan adalah Viva La Muerte dari S. Teddy D.; sebuah kritik tajam terhadap dominasi kelompok-kelompok militer dalam berbagai industri selama Orde Baru, yang dengan spirit penguasaan ini mereka juga berulah seperti predator. Instalasi ini muncul dalam bentuk hewan berkaki empat bersepatu bot khas tentara—yang tak mudah diidentifikasi apakah kuda, kerbau, atau lainnya—berwarna hijau militer dan membawa tangki minyak di kanan-kirinya. Di atas kepala hewan ini, sepasang tanduk berbentuk pedang seperti menghadang. 

Pameran “Dunia dalam Berita” ini menjadi contoh pendekatan kuratorial yang cukup penting dalam lingkup institusi seni di Indonesia. Museum MACAN saya kira menunjukkan upaya membangun tradisi baru kerja kuratorial sebuah institusi yang berbasis pada riset panjang dan cara display yang berbasis pada narasi sejarah. Lebih dari itu, meski sarat dengan lanskap seni 1990-an yang kemudian mengundang nostalgia, saya kira pameran ini justru menantang kita melihat bagaimana nostalgia bisa menjadi titik berangkat untuk terus menjaga sikap kritis sehingga demokratisasi media tidak dilihat sebagai hal yang terberi.

ALIA SWASTIKA, PEMERHATI SENI

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-12-01 02:35:35

Pameran

Seni Rupa 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB