Perlawanan Aris Prabawa - Seni Rupa - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Seni Rupa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Perlawanan Aris Prabawa

Perupa Aris Prabawa menyuguhkan puluhan karya instalasi dan lukisan berupa citraan manusia berkepala binatang buas. Bertema sosial-politik.

i Pameran seniman Aris Prabawa bertajuk “Hadap Hidup” di Jogja National Museum, Yogyakarta. TEMPO/Shinta Maharani
Pameran seniman Aris Prabawa bertajuk “Hadap Hidup” di Jogja National Museum, Yogyakarta. TEMPO/Shinta Maharani

CITRAAN manusia berkepala hiu itu sedang berendam di dalam bathtub yang terbuat dari helm pekerja proyek. Obyek digambarkan sedang bersantai menghadap figur manusia berkepala musang dalam posisi sama. Seni instalasi karya perupa Aris Prabawa itu menggunakan bahan fiberglass, helm plastik, dan cat akrilik. Seni instalasi bertarikh 2018 dengan judul Nikmatnya Pembangunan itu menyindir pesatnya pembangunan hotel dan apartemen di Yogyakarta.

Karya seni instalasi lain menggambarkan manusia berperut buncit dengan kepala piranha bergigi tajam. Piranha dikenal sebagai ikan pemangsa yang kejam. Manusia berkepala piranha itu mengenakan setelan kaus berkerah dan celana panjang hitam bersabuk lengkap dengan sepatu pantofel. Aris memberi judul karya itu Wild Capital Resident City/Penghuni Rimba Ibu Kota. Aris membuat karya berbahan cat akrilik di atas fiberglass, besi, dan cor beton tersebut pada 2011.

Sebanyak 86 karya pendiri komunitas Taring Padi itu ditampilkan dalam pameran retrospektif bertajuk “Hadap Hidup” di Jogja National Museum, Yogyakarta, pada awal hingga pertengahan Januari ini. Semua karya yang dipamerkan dibuat Aris selama 1999-2018. Semua karya—sebagian besar berkepala binatang buas yang terlihat rakus dan menyeramkan—bertema sosial-politik. “Binatang setengah manusia adalah simbol predator,” kata Aris.


Simbol-simbol hewan juga muncul pada lukisan teranyar Aris berjudul No Doubt berukuran 150 x 120 sentimeter. Karya berbahan cat minyak di atas kanvas ini menggambarkan perempuan berkepala ajak atau anjing hutan Jawa yang sedang terbang dan siap menerjang lawan. Posisi tangan dan kaki perempuan ini seperti dalam gerakan kungfu.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjggMjE6MDA6MjciXQ

Wild Capital Resident City/Penghuni Rimba Ibu Kota. TEMPO/Shinta Maharani

Karya tersebut berbicara tentang perlawanan terhadap industri yang mengisap dan merusak lingkungan. Lukisan tercipta dari kemarahan Aris kepada pabrik-pabrik yang mengepung Solo, kota kelahirannya. Perempuan berkepala anjing hutan dalam posisi silat berkonteks menolak kerakusan proyek pembangunan. Figur dalam lukisan itu, menurut Aris, menjelaskan bagaimana orang tidak ragu dan maju terus dalam melawan industri. 

Perlawanan atas kerusakan alam akibat industri juga tergambar pada lukisan berjudul Get Up Stand Up. Seorang lelaki berkepala elang Jawa bertelanjang dada dengan gerakan silat. Lelaki ini menggenggam kayu beranting di tangan kanannya.

Karya dua dimensi dan tiga dimensi terbaru Aris itu tampak berbeda dibanding karya-karyanya pada tahun-tahun sebelumnya. Pada karya teranyarnya, dia lebih berfokus pada obyek tunggal. Sedangkan pada karya lama dia membuat banyak obyek di satu kanvas atau terlihat lebih ramai. Dia juga memunculkan tulisan sebagai narasi, seperti terlihat pada karya drawing berjudul Bigger the War than the Peace.

Karya ini menggambarkan figur manusia, senjata, bendera, dan simbol-simbol yang sangat detail secara visual dengan warna hitam-putih goresan pulpen pada kanvas. Tentara-tentara berseragam lengkap dengan baret di kepala digambarkan sedang membawa senapan.

Mereka menodongkan senjata ke arah kepala dan tubuh manusia yang berjejal. Mayat-mayat telanjang bergelimpangan. Karya ini bertulisan “siapa yang tidak peduli dengan kejadian perang dan damai”. “Situasinya dulu lebih kompleks,” ujarnya.

Penulis pameran, Kiswondo, yang juga berhimpun di Taring Padi, menyebutkan tak ada yang berubah pada karya Aris dari sisi tema. Hanya, pada sisi teknik penggarapan, karyanya lebih matang. Aris mulai banyak membuat karya berfigur tunggal pada 2000-an. Pada 1999, karyanya lebih dihiasi banyak obyek.

Karya-karya Aris sangat kuat dengan tema antimiliterisme, antiperang, serta perlawanan terhadap pemodal atau kapitalis dan perusak lingkungan. Dia meletakkan seni instalasi berbentuk senapan yang menghunjam hampir seluruh permukaan bola. Karya ini menggambarkan kekerasan sebagai virus yang menyebar di bumi akibat manusia yang haus kekuasaan.

Aris punya sikap menolak perang. Militerisme dalam pandangan Aris selalu berbicara tentang kekerasan terhadap manusia. Industrialisasi yang menghancurkan alam juga dipandang berdampak buruk pada manusia.

Karya-karya Aris menggambarkan keberpihakan pada mereka yang tertindas. Aris tidak hanya bertutur tentang situasi sosial-politik dan kehancuran alam Indonesia, tapi juga mengangkat soal lingkungan tempat dia tinggal bersama keluarganya, yakni Australia. Protesnya atas kerusakan alam karena pertambangan muncul pada lukisan berjudul Leaving Wounded Land atau Meninggalkan Tanah Terluka yang dibuat pada 2009.

Lukisan ini menunjukkan seorang pria berkepala binatang bertanduk yang menunggangi kuda berkaki manusia. Keduanya digambar dengan latar kawasan tanah berwarna merah. Karya ini memotret kerusakan lingkungan yang masif karena pertambangan di Lismore, New South -Wales, Australia. “Dia konsisten dengan komitmen sosialnya,” ucap Kiswondo.

Nikmatnya Pembangunan. TEMPO/Shinta Maharani

Pameran tunggal Aris terselenggara berkat peran seniman Heri Pemad, yang menjadi promotor. Heri melobi pengelola Jogja National Museum untuk menggelar pameran tunggal itu. Dalam pameran tersebut juga ada karya bersejarah ciptaan Aris, yakni mural di dinding ruang pamer. Mural itu dibuat Aris pada 1999, ketika ia bersama komunitasnya, Taring Padi, menempati Jogja National Museum.

Di gedung inilah Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) berdiri. ASRI kini menjadi Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan berlokasi di Sewon, Bantul. Di kawasan Jogja National Museum itu, sejumlah mahasiswa ASRI mendirikan Sanggar Bumi Tarung pada pertengahan 1961. Bumi Tarung menolak aliran abstrak dalam seni rupa dan memilih mengusung aliran realisme revolusioner. Karya-karya mereka lebih banyak menyoroti isu buruh dan tani.

Mural karya Aris yang masih tersisa itu sebelumnya ditutupi tripleks oleh pengelola Jogja National Museum untuk kepentingan terselenggaranya berbagai pameran seni. Di depan mural itulah Aris pernah tinggal bersama komunitas seni Taring Padi.

Selain karena faktor kedekatan seniman dengan tempat pameran (kesejarahan), Heri memilih Aris dalam pameran itu lantaran karya Aris punya kekuatan menyuarakan tema perlawanan sosial dan politik. Dari sisi teknik, Aris punya pengetahuan yang baik tentang anatomi, komposisi, isi, dan dimensi karya. “Dia sedang berbicara tentang wacana yang disuarakan Taring Padi,” tutur Heri.

SHINTA MAHARANI

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-28 21:00:29


Seni Rupa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB