Mengenang 100 Tahun Maestro Asal Laweyan - Selingan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mengenang 100 Tahun Maestro Asal Laweyan

TAHUN ini genap seratus tahun kelahiran Dullah, maestro pelukis Indonesia. Dullah lahir di kawasan yang kondang sebagai sentra bisnis kain batik, yakni Laweyan, Solo, Jawa Tengah, pada 19 September 1919. Dia meninggal pada 1 Januari 1996 setelah bertahun-tahun didera stroke. Ia dikenal karena kemampuannya yang tinggi dalam menggambar realis. Berikut ini catatan tentang proses melukis Dullah sehari-hari, dari merenung sampai eksekusi lukisannya.

i Pelukis Dullah, di Sanggar Pejeng, Bali./Buku Dullah, Raja Realisme Indonesia
Pelukis Dullah, di Sanggar Pejeng, Bali./Buku Dullah, Raja Realisme Indonesia

SUATU senja. Di rumah pelukis Dullah. Sepi. Beberapa tahun menjelang kematiannya, sekitar 1993-an. Tatapan mata Dullah berfokus ke depan. Merenung. Khusyuk. Sesekali ia menggaruk ubun-ubunnya. Rambutnya saat itu menipis. Juga memutih. Empat kanvas bertengger di hadapannya.

Satu yang paling luas menampakkan sapuan paling lengkap. Ada sosok perempuan dengan rambut tergerai. Bermahkota. Anggun. Agung. Lumrahnya seorang ratu. Ia seakan-akan melayang di atas gelombang samudra nan biru. Tak salah. Itu lukisan Nyai Ratu Kidul.

Tapi wajah sang Nyai (masih) dibiarkan kosong. Tiada coretan ataupun goresan. Hanya sedikit bercak pewarna. Dullah, rupanya, masih dalam perenungannya. Ia belum jua menemukan kesejatian sang Nyai. Sosok wajah Nyai yang sakral seolah-olah masih samar. Misterius. Begitu susah dikuak. Tapi Dullah sepertinya tak mau surut. Meski  didera stroke menahun, ia tak mau berhenti. Ia terus mencari wajah sang Nyai. Hari demi hari. Pekan demi pekan. Bulan demi bulan, hingga menahun. Hingga ia wafat.

Pelukis Dullah dengan lukisan hasil karyanya di Museum Dullah di Solo, Jawa Tengah, 1987./Dok.TEMPO/Kastoyo Ramelan


Awalnya, Dullah “berurusan” dengan Nyai tatkala datang kepadanya seorang pengusaha yang memesannya untuk melengkapi dekorasi di sebuah hotel yang dibangun si pengusaha. Ia kala itu tak serta-merta menampiknya. Tawaran ini disikapinya sebagai tantangan. Mengapa tidak? Dalam perjalanan kemudian, pergulatan Dullah dengan Nyai sepertinya tak akan berujung, kecuali Yang Maha Kuasa menghentikannya.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMzAgMTg6MTk6NTAiXQ

Senasib dengan wajah kosong Nyai, tiga kanvas lain bahkan masih banyak menyisakan ruang kosong. Goresan yang ada baru sketsa. Sebenarnya tak hampa nian. Di ruang “kosong” itu, ada sesuatu. Pesan yang tegas arahnya. Bahkan tajam, hingga menusuk kalbu. Ada kelembutan. Seakan-akan ada roh. Hidup. Kendati masih meninggalkan banyak tanya.

DULLAH. Betul, hanya sekata itulah namanya. Sesederhana sosoknya. Tanpa embel-embel lain. Bahkan tiada nama imbuhan. Ia lahir di kawasan yang kondang sebagai sentra bisnis kain batik, yakni Laweyan, Solo, Jawa Tengah, pada 19 September 1919. Tahun ini genap 100 tahun kelahirannya. Sang Maestro meninggal pada 1 Januari 1996, setelah bertahun-tahun didera stroke.

Dullah (bertopi, kiri) dan Affandi./Buku Dullah, Raja Realisme Indonesia

Sebenarnya, sulung dari lima bersaudara ini lahir dari keluarga yang berkecukupan. Kedua orang tuanya dikenal sebagai pedagang yang ulet. Lazimnya kebanyakan warga Laweyan, Darsohatmodjo, ayahnya, dan Kati, ibunya, merintis usaha batik.

Mereka bahu-membahu meniagakan batik, kain khas kebanggaan Nusantara. Sepak terjang itu digerakkan dari rumahnya. Usaha keluarga ini tergolong berhasil hingga mampu mempekerjakan puluhan orang. Tak berhenti di situ. Ayahnya berhasil mengembangkan usaha hingga ke pabrik susu sapi segar.

Layaknya anak yang hidup dalam keluarga berkecukupan, Dullah tergolong bahagia pada masa kecil. Pendek kata, ia lebih menikmati hidup sebagai anak-anak. Ia bersekolah di Tweede Inlandsche School, atau sekolah rakyat (SR), di Mangkuyudan. Setamat SR, ia melanjutkan pendidikan ke Taman Siswa, juga di Solo. Tapi, entah mengapa, sekolahnya tidak tamat. Setelah itu, ia belajar sendiri.

Minat menggambar Dullah sudah tampak meletup- ketup sejak tingkat awal di SR—kelak mengantarkannya menjadi pelukis ternama. Ia begitu menonjol, setidaknya dibanding kebanyakan anak sebaya. Dullah kecil begitu keranjingan menggambar. Hampir tiada waktu luang yang tidak dimanfaatkannya untuk menggambar. Ia menggambar apa saja. Seakan-akan ada yang mendorongnya. Nilai pelajaran menggambarnya di SR selalu mencapai angka tertinggi, hampir sempurna (9).

Dullah melukis di Candi Borobudur ditemani Gesang (ketiga kanan)./Buku Dullah, Raja Realisme Indonesia

Minat dan bakat menggambar Dullah sangat mungkin diwariskan ibunya, yang piawai memainkan canting dengan corak-corak berkualitas—terbukti, kebanyakan peminat batiknya dari kalangan atas. Sebenarnya masih ada figur lain, yakni Mbah Sri, nenek dari ibu, serta Mbah Dul, pembantu kakeknya. Semasa kecil, bisa dibilang Dullah berhubungan sangat dekat dengan kedua orang itu.

Sebagai siswa, Dullah berprestasi cukup cemerlang. Karena prestasinya itu, dalam beberapa kesempatan ia ditugasi gurunya membantu mengajar menggambar di kelas-kelas di bawahnya. Masih ada catatan lain. Dua bulan menjelang kelulusan, siswa Dullah dibebaskan belajar di kelas. Tapi ia mendapat tugas khusus, yakni melukis dinding kelas untuk dekorasi.

Minat menggambarnya terus menggebu. Tak cuma di rumah atau di sekolah. Jika ada kesempatan, Dullah memanfaatkannya untuk keluyuran ke pasar, ke pinggir kali, ke mana saja, sekehendak hati. Kadang ia bersama kawannya. Kadang juga ditemani Mbah Dul. Dullah mulanya belajar menggambar teknik cat minyak kepada teman sebayanya, R. Gunadi. Kemudian ia berkesempatan menyantri kepada R. Cokrodijoyo, seniman kerabat Keraton Mangkunegaran, serta pelukis R. Hadisuwarno.

Dari mereka Dullah belum jua menemukan “dirinya”. Ia merasa belum “lahir”. Hingga suatu saat, tatkala menyusuri jalan dekat Taman Sriwedari, Solo, ia melihat sederet pelukis jalanan yang menjajakan karya mereka di emper-emper. Dalam bingkai mereka berkisah tentang cerita rakyat, seperti legenda Joko Tarub dan Joko Tingkir. Ada juga kisah heroik Untung Suropati. Beberapa memajang lukisan pemandangan.

Pada suatu kesempatan, ia juga melihat sekumpulan anak muda sedang melukis. Berbeda dengan yang lalu, mereka “bermain” di tengah-tengah alamnya. Di realitasnya. Langsung di depan mata. Gunung, sungai, tetumbuhan, dan lainnya. Yang nyata. Yang (benar-benar) hidup. Pemandangan itulah yang menjadi fokus para pelukis tersebut. Dullah seakan-akan terpana. Mereka begitu fantastis. Serasa dicubit, dalam sekejap Dullah tersadar. Ia sepertinya telah menemukan jalannya. “Akhirnya kudapat!”

Dullah selalu menempelkan karya-karyanya pada dinding di rumah. Sambil mengamati buah karyanya, pikirannya pun melayang. Arahnya jelas. Kelak, kata dia, ia akan membangun rumah gambar untuk memajang semua karyanya. Dan, lebih dari setengah abad kemudian, “khayalannya” menjadi kenyataan. Rumah gambar itu berupa Museum Dullah. Penggalian fondasi pada 1984 di atas lahan seluas 2.000 meter persegi menjadi penanda. Semua berdasarkan rancangannya sendiri. Pada 1 Agustus 1988, museum yang bertengger di Jalan Dr Cipto Mangunkusumo, Solo—-sepagar dengan rumah tinggal di sebelahnya—ini diresmikan Fuad Hasan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Dullah (kiri) dengan kedua adiknya, Wasinah dan S. Wakidjan./Buku Dullah, Raja Realisme Indonesia

Seperti keinginannya, ratusan karyanya dipajang di sana. Juga karya para sahabat. Di antaranya Affandi, Sudjojono, dan Basoeki Abdullah. Bahkan ada satu masterpiece karya Raden Saleh, maestro fenomenal yang terkenal itu.

DI rumah Dullah di Solo, di loteng, di kamar paling pojok agak tersembunyi, tersua ruang “tapa”. Tempat yang “sakral”, tempat sang Tuan biasa merenung. Menerawang. Bertindak. Melukis. Itulah studio yang digaulinya berpuluh tahun. Di tempat itu, tangannya—setrengginas pikirannya—bisa begitu terampil memainkan kuas dan cat pewarna, menyapukannya di atas kanvas. Tangkas. Ratusan, bahkan ribuan karya sudah diciptakannya. Tak terhitung. Tak sedikit di antaranya yang dinilai sebagai masterpiece.

 

Seperti masa-masa sebelumnya, di studio itu Dullah tampak bersimpuh. Duduk hanya beralas dingklik kayu (sepertinya dirancang khusus) sebagai singgasananya. Ia hanya berkaus oblong. Warnanya sudah pupus. Dibilang putih (bisa jadi warna aslinya) bukan. Krem pun bukan. Jika kelihatan rapi, kaus itu tanpa cacat, tak ada sobekan atau lubang. Sedangkan bawahannya dibalut sarung bercorak kotak-kotak berwarna agak cerah. Tiada celetuk. Pun gumam. Diam. Sepi. Sendiri.

Dullah sepertinya tak sedang bekerja. Ia lebih terlihat sedang melamun. Merenung. Entah tentang apa. Atau siapa. Mungkin itu seperti tapa. Atau berzikir. Berserah diri kepada Maha Pencipta. “Ritual” yang biasa saja. Kata Dullah ia sedang menyegarkan diri. Pikirannya. Batinnya. Menyegarkan dari berbagai hal yang kompleks. Yang pelik. Termasuk yang ribet.

Mencari dan memperoleh ide, bagi Dullah, sesederhana sosoknya. Bisa tak jauh-jauh amat. Di rumah. Di halaman. Ide bisa dari siapa saja. Istri, anak menantu, cucu, keponakan. Bahkan ide bisa datang dari tumbuhan, bunga, buah, atau hewan ternak. Juga bangunan, batu, awan, laut, dan tentunya pemandangan. 

Buah jambu air salah satu obyek yang paling disukai Dullah. Tak sekali-dua kali, berkali-kali ia melukisnya. Dari berbagai sudut pandang. Serasa tak pernah bosan. Gandrung pada jambu air, sampai-sampai Dullah mencari cangkok pokoknya. Bibit unggul setinggi tak lebih dari semeter ia tanam di kebun depan rumah. Dirawatnya. Disirami. Setiap hari—jika sang Tuan tak berpergian ke luar kota. Disiangi, dijaga, jangan sampai ada yang mengganggu atau merusaknya.

Lukisan Nyai Roro Kidul karya Dullah./Repro/Tempo/Ratih Purnama

Beberapa bulan setelahnya, pokok jambu pun berbunga. Dullah bersuka, kendati dalam diam. Segera difotonya pokok jambu itu. Juga dibuat sketsa. Dan diamati. Setiap hari. Bak gaya ahli botani. Hingga muncul bakal buah yang merontokkan kelopak bunga. Waktu terus berjalan. Hingga suatu saat kembang menjadi buah. Dengan warna yang ranum, mengundang selera. Segar. Siapa pun akan terusik ingin memetiknya. Indah. Dan menggiurkan.

Giliran Dullah menggarapnya. Bermodal sketsa dan foto, ia mulai bekerja. Melukis. Di studionya. Kuas, tube pewarna, kanvas, dan alat pendukung sudah tersedia tak jauh dari jangkauannya. Tentu ukuran, warna, serta takarannya sudah disesuaikan. Pada tahap mula, ia mulai merancang “fondasi”. Cukup dengan pensil. Bentuk dan komposisi sudah tampak. Kendati masih samar-samar. Lalu ia mulai bermain dengan kuasnya. Warna dasar didulukan. Tipis-tipis saja. Tapi tajam. Juga tegas.

Setelah warna merata, sesi akhir dituntaskan. Proses yang begitu panjang. Bisa berbilang minggu. Atau bulan. Bahkan tahun. Ada karakter yang berbeda yang dimiliki Dullah. Ciri khas yang menunjukkan “Seorang Dullah”, bukan yang lain. Bukan satu-satunya, tapi terbilang langka. Dengan begitu, akan mudah mengenal karyanya. Goresannya. Pewarnaannya.

Yang khas itu ada pada sapuan dan penggunaan pewarna. Menurut kalangan dekatnya, termasuk murid-muridnya, Dullah terkesan irit menggunakan bahan. Sapuannya terkesan hanya menggunakan ujung bulu-bulu kuas yang runcing. Lembut. Halus. Tapi tegas. Dilakukan berulang. Dan berulang. Terutama pada titik yang perlu penampakan detail. Tekun. Telaten. Begitulah, kata mereka, kekhasan Dullah dalam bekerja.

Museum Dullah di Solo, Jawa Tengah, Maret 2015./TEMPO/Ahmad Rafiq

Hasilnya amat proporsional. Bahkan menakjubkan. Lihat saja tangkai dan putik kembang jambu yang halus itu—bahkan lebih halus daripada batang jarum. Dullah menggarapnya dengan sempurna. Total. Terutama pada tekstur bentuk dan warna, bisa dibilang, seindah alam aslinya. Realistis. Jika disandingkan dengan yang asli, sulit dibedakan. Seakan-akan kembar. Ada rasa. Serasa hidup. Tak begitu berlebihan jika sejumlah kalangan menjulukinya si “Raja Realisme”. Dullah sejatinya kenyataan.

Bicara aliran dalam seni, sebenarnya Dullah cenderung menghindar. Ia tak mau berdebat. Atau berpolemik. Semua (karya) seni, kata dia, sama. Tergantung bagaimana menyikapinya. Juga dasar berpikir. Ada persepsi. Dan suasana batin. Semua itu yang mendorong lahirnya ekspresi. Masing-masing punya sifat sendiri. Ada identitas. Itu yang menyebabkan terjadinya perbedaan.

Suatu seni, kata Dullah, pada prinsipnya ada semata-mata bukan karena bakat. Atau penampakan yang indah, estetis. Atau abstrak. Tapi juga harus dirasakan ada pesan bermakna. Seperti rasa. Manis, pahit, asin. Dingin atau panas. Segar, layu. Senang atau benci. Ada (yang) hidup.  Misalnya lukisan buah semangka. Menurut Dullah, lukisan itu baru bisa dikatakan sebagai karya sempurna jika tak semata-mata menonjolkan estetika, tapi juga rasa. (Seakan-akan) ada “rasa manis” di sana.

Banoe Moera (Penulis)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-30 18:19:50


Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB