Warna Indonesia di Okinawa - Selingan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Selingan 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Warna Indonesia di Okinawa

Okinawa memiliki persinggungan dengan kebudayaan Nusantara sejak abad ke-13. Orang-orang dari Kerajaan Ryukyu datang ke Jawa dan Sumatera menjalin perdagangan. Makanan, musik, dan sikap hidup masyarakat di sana mengadopsi kebudayaan sebagian besar negara Asia Tenggara. Wartawan Tempo Bagja Hidayat berkunjung ke provinsi paling selatan di Jepang ini pada awal Februari lalu dan menemukan "tahu campur" sebagai makanan favorit, yang membuat orang Okinawa punya usia terpanjang di dunia.

i

DI Bandar Udara Ishigaki, baliho yang menampilkan Yoko Gushiken sedang tersenyum dan mengepalkan tangan menyambut siapa pun yang baru turun dari pesawat. Yoko, kini 55 tahun, adalah juara tinju kelas ringan versi World Boxing Association pada 1976-1981. Namanya melegenda dan jadi maskot tanah kelahirannya di Pulau Ishigaki, pulau terluar Jepang di Laut Pasifik.

Untuk mencapai pulau seluas 209 kilometer persegi ini perlu naik pesawat dari Tokyo selama tiga jam ke selatan. Pada awal Februari 2017, harga tiket dari ibu kota Jepang itu sekitar 8.000 yen atau Rp 1,3 juta pada kurs Rp 167 per yen. Kini banyak juga penerbangan langsung dari Hong Kong, Beijing, atau Taiwan. Dari Taiwan, pulau ini hanya berjarak 109 kilometer, seperdua puluh dibanding ke Tokyo.

Setiap tahun setidaknya ada 1,2 juta pelancong yang menikmati Ishigaki sebagai Jepang lain di Pasifik. Pantai-pantainya berpasir putih dengan wisata bawah laut yang menyajikan beragam terumbu karang.


Ishigaki juga unik karena bahasa, orang-orang, dan sopan-santunnya berbeda jauh dengan orang Jepang pada umumnya. "Bahasa Jepang di sini punya logat dan beda dengan bahasa Jepang di daratan," kata Muhammad Endrik Fathoni, nelayan asal Rembang, Jawa Tengah, yang bekerja di sebuah perusahaan ikan Ishigaki.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjkgMTA6NTA6MTgiXQ

Menurut Endrik, ketika pertama datang ke pulau ini, tiga tahun lalu, ia boleh dikata tak bisa berkomunikasi. Kursus bahasa Jepang praktis selama lima bulan sebelum bekerja tak bisa dipakai bercakap-cakap karena perbedaan itu. "Bahasa Jepang lokal di sini tak lengkap kalimatnya. Kata kerja dan kata benda sering bertukar-tukar," ujar pemuda 23 tahun ini.

Orang Okinawa juga sedikit lain dibanding mereka yang tinggal di Jepang daratan. Yoko Gushiken berambut kribo dan kulitnya sawo matang. Ia lebih mirip orang Hawaii ketimbang Jepang. "Pekan lalu saya ke Tokyo," kata Kazuhiko Yosekawa, kurator di Museum Yaeyama, melalui penerjemah. "Kami memang berbeda."

Di Bandara Ishigaki, kita bisa melihat apa yang tak terjadi di Tokyo atau Kyoto. Orang-orang berjalan santai sambil mengobrol ke arah tempat pengambilan bagasi. Ketika koper-koper muncul, mereka berebutan sehingga tabrakan tak terhindarkan. Tapi, tak seperti di Narita atau Haneda, mereka yang bertabrakan tak saling meminta maaf dengan anggukan yang dalam. Setelah tabrakan, mereka berlalu seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Ishigaki kian terasa beda dengan Jepang begitu melewati pintu bandara. Para penjemput ramai menanti. Salah satunya anak muda dengan kaus, celana pendek, dan sandal jepit. Ia menunggu pacarnya di sana. Dengan pakaian minimalis seperti itu, ia tak kedinginan. Padahal pacarnya yang baru pulang dari Tokyo memakai overcoat dan jaket tebal.

Suhu Tokyo pada 2 Februari 2017 itu turun hingga 5 derajat Celsius. Pekan sebelumnya malah menyentuh nol derajat. Sedangkan di Ishigaki, hari itu angin berembus disertai gerimis dengan cuaca hangat 20 derajat Celsius, mirip udara di Puncak, Bogor.

Ishigaki adalah kabupaten yang menjadi bagian dari Prefektur Okinawa. Dengan sejarah yang panjang sejak abad ke-12, banyak monumen peninggalan Kerajaan Ryukyu yang masih berdiri. Salah satunya rumah Bupati Miyara pertama, Miyara Touen, di pusat kota.

Rumah kayu dengan taman karang di sekelilingnya itu dijaga Yoshiaki Miyara, generasi ke-12 keluarga Miyara. "Rumah ini dibangun pada 1891 karena rumah-rumah sebelumnya hancur akibat tsunami besar yang datang setiap 400 tahun," katanya dalam bahasa Jepang.

Dengan luas separuh Jakarta Pusat, penduduk Ishigaki hanya 49 ribu orang. Setelah magrib, jalan-jalan utama sepi, seperti dinihari di Indonesia. "Kalau naik sepeda, bisa mengelilingi pulau dalam satu hari," ujar Endrik Fathoni.

Nelayan adalah pekerjaan sebagian besar orang Ishigaki, selain petani. Seperti di negara tropis, di sini ada sawah dan kebun tebu. Karena itu, semua makanan di Ishigaki memakai bahan utama sayur-sayuran. Makanan paling terkenal adalah goya chanpuru atau tofu chanpuru. Goya tak lain paria, sementara tofu adalah tahu. Adapun chanpuru adalah kata dalam bahasa Okinawa yang artinya sama dengan kata dalam bahasa Indonesia: campur!

Maka tofu chanpuru adalah tahu rebus yang dicampur dengan aneka sayuran: tumis wortel, taoge, selada, jamur, telur, kol, yang disiram dengan kecap kedelai. Tak ada restoran yang tak menyediakan menu ini di Ishigaki atau Okinawa--pulau utama yang berjarak satu jam penerbangan dari Ishigaki. "Di sini tofu chanpuru paling laris," kata Soto Aki, pelayan di restoran Paikagi di pasar Ishigaki.

Harga satu piring "tahu campur" di Paikagi adalah 650 yen atau sekitar Rp 70 ribu. Di Funakuranosato--restoran tradisional Ishigaki paling ternama--harganya 850 yen. Tahu sutranya lembut dan kecapnya serasa merembes jauh ke dalam pori-pori tiap lembar sayuran mentah itu. Menurut Soto Aki, membuat chanpuru hanya perlu lima menit karena sayuran cuma direbus lalu dicampur dengan tahu dan telur serta saus kedelai.

Soto Aki, perempuan 20 tahun ini, terbahak ketika diberi tahu bahwa makanan seperti ini ada juga di Indonesia dengan nama yang sama. Ia pernah mendengar nama Indonesia tanpa bisa membayangkan letaknya di peta. "Sungguh? Coba saya cek di Internet," katanya. Setelah mengecek, tawanya kian berderai. Baru kali itu ia mendapat pengetahuan baru tentang pengaruh Indonesia dalam makanan Ishigaki.

Tahu campur tak benar-benar dari Indonesia. Menurut Profesor Kurayoshi Takara, sejarawan di Universitas Ryukyu di Okinawa, tahu campur adalah makanan yang diadopsi dari Cina. Para nelayan dan pedagang Ryukyu berkelana ke Cina 600 tahun lalu dan menemukan tahu sebagai makanan utama yang diolah dari kedelai.

Ketika berlayar ke selatan, mereka juga menemukan tahu dan kedelai, terutama ketika mereka tiba di Majapahit dan Pajajaran di Jawa, yang selama enam abad sebelumnya mendapat pengaruh dari Cina karena persinggahan dan perdagangan. Pengetahuan mengolah kedelai menjadi tahu itu oleh pedagang Okinawa dikombinasikan dengan sayuran, makanan orang Jawa dan Sunda. "Chanpuru awalnya dari champoon, kata dari bahasa Cina," ujar Takara.

Takara belum meneliti lebih jauh perubahan "champoon" menjadi "chanpuru" di Okinawa. "Soal teori ada pengaruh dari Jawa, sampai saat ini belum bisa dibuktikan," katanya. Sebab, di Nagasaki ada juga makanan bernama champoon yang bentuk, isi, dan cara memasaknya persis chanpuru. Di provinsi ini terdapat kantor Konsulat Cina sejak abad ke-14.

Abad ke-13-14 adalah era keemasan perdagangan Kerajaan Ryukyu. Semua negara di Pasifik mereka datangi untuk menjalin perdagangan dan pertukaran komoditas. Nasi, sayur, dan hasil perkebunan mereka angkut dari Jawa dan Sumatera. "Di universitas, semua aktivitas masa itu terekam dalam banyak dokumen perdagangan dan surat-menyurat," ujar Takara.

Kata "chanpuru" mengalami pergeseran makna seusai Perang Pasifik, yang dimenangi Amerika Serikat setelah mengebom Hiroshima dan Nagasaki pada 1945. Sebelum masa itu, kata Takara, "chanpuru" merujuk pada cara memasak orang Okinawa yang mencampur pelbagai makanan dalam satu wajan. "Setelah perang Pasifik, maknanya berubah dari percampuran budaya menjadi milik sendiri," kata Takara.

Bukan hanya "chanpuru" yang berubah makna sejak 1945. Nama Ryukyu menjadi Okinawa ketika Amerika Serikat menyerahkannya kepada Jepang pada 1972 dengan syarat: mereka bisa membangun pangkalan militer. Ada 24 pangkalan militer yang mengokupasi 69 persen lahan provinsi ini. Dengan 45 ribu tentara dan 4.500 pegawai sipil dari Amerika, kebudayaan Okinawa kian bercampur-baur.

Maka "chanpuru" adalah identitas orang Okinawa. Mereka tak terpaut pada Jepang yang homogen di daratan utama. Orang Okinawa dan Ishigaki menggabungkan pelbagai kebudayaan, makanan, dan musik dari kebudayaan bangsa lain menjadi kebudayaan mereka. Lambang Kerajaan Ryukyu adalah gabungan tubuh naga dan anjing, yang terpengaruh sangat kuat oleh kebudayaan Cina.

Kastil Shurijyo, yang berada di Naha, ibu kota Okinawa, sepenuhnya kayu berwarna merah. Istana raja ini berada di bukit yang menghadap persis Teluk Okinawa. Pada abad ke-14, raja memantau kapal-kapal yang buang sauh dan kapal asing yang datang membawa pelbagai barang untuk dijual dari istananya itu. Di Museum Yaeyama di Ishigaki, ada replika kapal Majapahit yang pernah datang ke pulau ini.

Menurut Takara, selain makanan, banyak komoditas yang diangkut dari Jawa dan kini menjadi identitas Okinawa. Kayu secang mereka bawa dari Jawa sebagai bahan baku pewarna tekstil. Kebudayaan mewarnai tekstil yang terdapat dalam batik kimono Okinawa diserap dari kebudayaan Jawa. "Juga merica, timah, gading gajah, dan arak," ujar Takara.

Okinawa adalah wilayah yang memproduksi sake terbaik di Jepang. Di sini namanya awamori. Menurut Takara, awamori dibawa pedagang Okinawa dari Vietnam. Mereka mencoba mengenalkan arak itu ke Nusantara, tapi kurang laku. "Mungkin karena waktu itu pengaruh Islam sudah menguat di Jawa," kata Takara, merujuk pada kedatangan Wali Songo pertama ke Gresik, Jawa Timur, pada abad ke-13.

Musik tradisional Okinawa juga berbeda dengan musik Jepang daratan. Para pengunjung Restoran Funakuranosato, pada Sabtu malam pertama Februari lalu, disuguhi musik dengan penyanyi yang memetik shamisen--gitar dengan tiga senar--dan penari. Musiknya mirip degung dalam kebudayaan Sunda, yang melangut dan kawih panjang di akhir nada.

Kawih itu kian kental jika alat musiknya ditambah dengan suling. Menurut Kouchi Ishikawa, seorang pembuat flute bambu di seberang pangkalan militer Kadena di Naha, flute Okinawa sangat khas karena berbeda dengan flute Jepang. "Dalam bahasa Jepang namanya fue, dan dalam bahasa lokal namanya suli," katanya.

Ishikawa terkejut ketika diberi tahu bahwa di Indonesia alat musik tiup yang sama disebut "suling", suling bambu. "Wow, mirip," katanya. Kepada para turis yang mampir untuk melihat pesawat-pesawat tempur Amerika di Kadena itu, Ishikawa menjual satu sulingnya 6.000 yen atau sekitar Rp 700 ribu.

Budaya campur-campur di Okinawa kian terasa dalam percakapan dan pergaulan. Ketika saya berjalan dalam gelap dari Restoran Paikagi menuju hotel, seorang laki-laki sekonyong-konyong muncul dari tikungan dan menyapa dalam bahasa Jepang sembari melambaikan tangan.

Rupanya, ia nelayan yang kenal dengan Endrik Fathoni, yang berjalan di samping saya. Mereka begitu saja mengobrol sambil tertawa. Di pengkolan lain, kami juga bertemu dengan manajer pelabuhan Ishigaki, yang membawa saya kepada Endrik dan kawan-kawan tiga jam sebelumnya.

Dari jauh ia melambai dan memanggil kami. Ketika mendekat, ia menyalami dengan genggaman yang kuat. "Oke, selamat, ya. Mereka pekerja yang tangguh," ujarnya menunjuk Endrik, dalam bahasa Inggris yang tak pas, lalu melambai dengan senyum. Tak ada anggukan sambil berkata "haik" dan "arigato", dua kata yang selalu mengiringi kalimat orang Jepang dalam percakapan.

Pergaulan yang luwes itu terpengaruh oleh hubungan kekerabatan orang Ryukyu yang kuat. Budi Firmansyah sudah 15 tahun tinggal di Okinawa dan beristrikan orang sana. Laki-laki 36 tahun asal Kuningan, Jawa Barat, ini manajer di Ken Churashima Jigyo Koudo, perusahaan penyalur tenaga kerja asal Indonesia di Kuimai. "Di sini anak-anak bebas keluar-masuk rumah tetangga," tuturnya.

Di Okinawa, kakak-adik masih saling mengunjungi jika ada hari-hari besar dan perayaan. Maka, kata Budi, ada pepatah yang mengatakan di Okinawa tak mungkin hidup sengsara karena akan ada selalu kerabat yang membantu kita jika mendapat kesulitan.

Chanpuru dan kuatnya kekerabatan itu, menurut sejumlah penelitian, yang membuat usia orang Okinawa paling panjang di dunia. Sopir taksi, pegawai restoran, pegawai hotel, dan mereka yang terlihat di jalan adalah kakek-nenek berusia 70 tahun ke atas. Mereka berjalan atau naik ke stasiun monorel dengan gesit dan lincah.

Usia rata-rata orang Okinawa sekitar 90 tahun. Saat ini orang paling tua di sana berumur 120 tahun. "Mungkin karena chanpuru itu makanan rendah garam dan lemak, jadi lebih sehat," ujar Profesor Takara. "Kekerabatan di Okinawa memang kuat sehingga tingkat stres akibat hubungan antarmanusia sangat sedikit."

Tertawa dan makanan bersayur yang rendah lemak adalah identitas orang Okinawa yang membedakan mereka dengan orang Jepang daratan. Seperti Yoko Gushiken, yang berambut kribo dan berkulit cokelat, yang tersenyum di poster di bandara Ishigaki. "Maka saya betah tinggal di sini karena serasa di kampung sendiri," kata Budi, yang beristri orang Okinawa dan punya dua anak.

Bagja Hidayat

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-29 10:50:18


Selingan 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB