Selingan 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jejak Sang Penghulu

Plang nama jalan itu bertulisan "Jl. PHH Mustofa". Berada di sebelah timur Kota Bandung. Terkenal sebagai kawasan sentra produksi pakaian, kaus, dan jaket. Ruas jalan ini merupakan terusan dari Jalan Surapati mulai simpang Jalan Pahlawan hingga berakhir di Terminal Cicaheum. Dulu jalan ini bernama Jalan Suci. PHH merupakan singkatan dari Penghulu Haji Hasan. Ya, jalan ini didedikasikan untuk Hasan Mustapa, pujangga, penghulu Islam zaman kolonial, tokoh tasawuf, penulis risalah keagamaan, dan pemerhati kebudayaan, khususnya adat-istiadat Sunda.

Bagi orang awam, Hasan Mustapa bukan tokoh yang populer. Terbukti ketika ditanyakan kepada Ahmad, pengguna jalan yang paling tidak sebulan sekali melintas di Jalan PHH Mustofa dengan sepeda motornya. Karyawan swasta ini malah balik bertanya, "Dia pahlawan nasional atau kiai?" Hasan Mustapa bukan pahlawan nasional. Ia hanya pernah mendapatkan Anugerah Seni dari presiden sebagai Sastrawan Daerah Sunda pada 1977.

i

Plang nama jalan itu bertulisan "Jl. PHH Mustofa". Berada di sebelah timur Kota Bandung. Terkenal sebagai kawasan sentra produksi pakaian, kaus, dan jaket. Ruas jalan ini merupakan terusan dari Jalan Surapati mulai simpang Jalan Pahlawan hingga berakhir di Terminal Cicaheum. Dulu jalan ini bernama Jalan Suci. PHH merupakan singkatan dari Penghulu Haji Hasan. Ya, jalan ini didedikasikan untuk Hasan Mustapa, pujangga, penghulu Islam zaman kolonial, tokoh tasawuf, penulis risalah keagamaan, dan pemerhati kebudayaan, khususnya adat-istiadat Sunda.

Bagi orang awam, Hasan Mustapa bukan tokoh yang populer. Terbukti ketika ditanyakan kepada Ahmad, pengguna jalan yang paling tidak sebulan sekali melintas di Jalan PHH Mustofa dengan sepeda motornya. Karyawan swasta ini malah balik bertanya, "Dia pahlawan nasional atau kiai?" Hasan Mustapa bukan pahlawan nasional. Ia hanya pernah mendapatkan Anugerah Seni dari presiden sebagai Sastrawan Daerah Sunda pada 1977.

Akan halnya makam Hasan Mustapa berada di Kompleks Makam Boepati Bandung, Jalan Karanganyar, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung. Di pemakaman ini terdapat makam RA Wiranatakusumah III (Dalem Karanganyar), yang menjadi Bupati Bandung ketujuh; para menak; pahlawan nasional Raden Dewi Sartika; dan keluarga dr Hasan Sadikin.


Makam PHH Mustapa berada di luar pagar makam para Bupati Bandung keturunan Wiranatakusumah. Di bawah naungan sebuah pohon yang batangnya sebesar paha orang dewasa, makamnya telah diganti oleh pihak keluarga dari tempelan keramik menjadi campuran semen dan batu granit hitam. Makam itu dibentuk berundak empat dari lantai. Bagian tengah teratasnya ditumbuhi rumput.

162450518968

"Batunya asli dari Nagrek (Kabupaten Bandung)," kata Kardi, 63 tahun, juru pelihara kompleks makam.

Aksara di batu nisannya sudah kurang jelas terbaca. Warna bagian dasarnya yang dicat hitam telah banyak mengelupas sehingga menjadi sewarna dengan relief huruf berwarna kelabu. Kalimat syahadat menghias bagian atas tulisan kapital berbunyi "R.H. Hasan Mustafa (Penghulu Bandung) Wafat 20 Jan. 1930".

Makam Hasan, ujar Kardi, masih rutin diziarahi keluarga, ulama, dan para pejabat ketika peringatan hari jadi Kota Bandung pada September, juga pada April saat peringatan hari jadi Kabupaten Bandung.

Adapun rumah peninggalan Hasan kini tidak jelas lagi keberadaannya. Budayawan Ajip Rosidi, yang banyak menulis tentang PHH Mustapa, menduga kediamannya di sekitar daerah Alun-alun Bandung. "Mungkin sekitar Jalan Kalipah Apo," katanya.

Menurut salah seorang keturunan PHH Mustapa, Yeti Sarwiti Rasjidi, 78 tahun, rumah keluarga yang mereka tempati turun-temurun dulu di Jalan Balonggede. Kini rumah itu bernomor 77 dan 79. "Sudah lama dijual ke orang Cina," ujarnya saat ditemui di rumahnya di perumahan Gading Regency Bandung, Rabu pekan lalu. Dari foto keluarga yang diambil pada 1940-an, tampak tembok rumah itu separuhnya ke bagian atas berdinding bilik berwarna putih.

Yeti anak sulung dari 14 bersaudara. Ayahnya, mendiang Kolonel TNI Angkatan Udara Agus Rasjidi, salah seorang cucu Hasan. Agus menikah dengan Raden Ende Sumirah Retnawati, kini berusia 96 tahun. Agus putra bungsu dari salah seorang anak Hasan Mustapa bernama Dadang. Kakak Dadang, Rembana, dulu bidan terkenal di Balonggede. "Penghulu punya istri empat orang," ujar Yeti.

Namun silsilah dan keturunan dari pernikahan Hasan Mustapa, kata Yeti, tak jelas. Orang tuanya tak pernah menceritakan pohon keluarga Hasan. Setahu dia, ada istri Hasan Mustapa di daerah Cicaheum, juga Cirebon. Adapun naskah dan peninggalan lain dari kakek buyutnya, ujar Yeti, sudah tidak ada di rumah. "Pernah ada orang dari dinas budaya mengambil naskah tembang Penghulu, bilangnya mau pinjam tapi tak dikembalikan," katanya.

Anwar Siswadi


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162450518968



Selingan 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.