Pokok dan Tokoh 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Damai di Kuburan

MARISSA Anita menikmati setiap detik waktunya di permakaman. Aktris itu merasa damai di sana. Maka, saat syuting Perempuan Tanah Jahanam, yang sedang tayang di bioskop, Marissa mendapat berkah tambahan: bisa berlama-lama di kuburan.

i Marissa Anita. TEMPO/Nurdiansah
Marissa Anita. TEMPO/Nurdiansah

Film horor karya Joko Anwar itu banyak mengambil gambar di sebuah permakaman di Banyuwangi, Jawa Timur. Saat jeda, pemain lain menyingkir karena menganggap kuburan sebagai tempat angker. Tapi Marissa malah duduk-duduk di samping pusara dan memandangi pohon kemboja. “Saya tidak mistis dan tidak bisa melihat hal gaib,” katanya di Jakarta, Senin, 23 September lalu.

Marissa, 36 tahun, sudah lama jatuh cinta pada kuburan. Dari balkon apartemennya di Tanah Abang, Jakarta Pusat, dia kerap menghabiskan waktu dengan memandangi Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak. Menatap “rumah masa depan” juga membuatnya berpikir filosofis bahwa kematian bisa menjemputnya kapan saja sehingga dia harus menikmati hidup.

Mantan presenter berita televisi itu pun merasa terlindungi karena keberadaan kompleks pusara tersebut menjamin tidak akan ada gedung dibangun di seberang tempat tinggalnya, setidaknya dalam waktu dekat ini. “Jadi pemandangan saya tidak terhalang,” ucap Marissa.


 


162113097461

 

Jonathan Austin. TEMPO/Nurdiansah

 

Mimpi tentang Madu

DUTA Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Jonathan Austin, takjub melihat cara penjualan madu manuka. Dia tentu saja tahu madu khas Negeri Kiwi tersebut lebih mahal ketimbang madu lain. Namun hanya di Indonesia madu itu dipajang di lemari kaca terkunci di supermarket. “Sampai saya foto dan kirim ke keluarga, ha-ha-ha…,” katanya di kantor Tempo, Jakarta, Rabu, 9 Oktober lalu.

Austin punya kenangan tentang madu manuka. Saat dia kecil, di kota kelahirannya, Wellington, ayahnya mengunjungi peternak madu. Ketika itu, yang populer adalah clover honey alias madu asal semanggi. Adapun si peternak punya segentong besar madu manuka yang tidak kunjung laku. Dia merelakan madu yang lebah buat dari manuka (Leptospermum scoparium), semak yang hanya tumbuh di Selandia Baru dan Australia bagian tenggara, itu untuk dibawa pulang tanpa bayaran. Namun ayah Austin cuma mau mengambil satu stoples kecil.

Madu manuka memang baru populer sekitar sepuluh tahun terakhir, sejak terbukti secara ilmiah memiliki khasiat anti-peradangan lebih tinggi ketimbang madu lain. Harga sebotolnya yang berukuran 500 gram bisa lebih dari setengah juta rupiah. Austin pun menelepon ayahnya di kampung halaman. “Coba Ayah dulu ambil gentong itu, sekarang kita kaya raya, ha-ha-ha…,” ujarnya.

 


 

Aries Susanti. Dok. FPTI

 

Dinding Pelampiasan

DI balik tampangnya yang kalem, Aries Susanti Rahayu ternyata “tukang perintah” saat masih bocah. Hal itu terpampang di film biopiknya, 6,9 Detik, karya Lola Amaria, yang tayang di bioskop bulan lalu.

Aries kecil kerap melemparkan baju kotor sembari melengos di depan dua kakaknya. Begitu juga saat bermain dengan kawan-kawan yang kebanyakan lelaki. Perempuan asal Grobogan, Jawa Tengah, ini hanya mau jadi pemenang. Sekalinya kalah main gundu, dia ngamuk dan mengomeli teman-temannya.

Atlet panjat tebing peraih emas Asian Games 2018 itu mengaku pantang kalah dan suka main perintah. “Kalau kalah, biasanya ngambek, terus naik ke pohon sukun di depan rumah, ha-ha-ha…,” kata Aries, 24 tahun, kepada Tempo di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kebiasaan itu terbawa hingga Aries masuk pusat pelatihan nasional panjat tebing. Tekanan emosi menghadapi beratnya latihan dia gunakan untuk melesat di dinding hingga memenangi kejuaraan dunia di Cina pada Mei 2018, tiga bulan sebelum Asian Games di Jakarta-Palembang. “Olahraga sejak dulu menjadi pelampiasan saya,” tutur atlet berjulukan Spider-Woman ini.


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=162113097461



Pokok dan Tokoh 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.