Belajar Sejarah Lewat Ketoprak - Pokok dan Tokoh - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Pokok dan Tokoh 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Belajar Sejarah Lewat Ketoprak

BERKAT bermain ketoprak, Direktur Keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Evi Afiatin banyak belajar tentang tokoh dan peristiwa sejarah.

i Evi Afiatin
Evi Afiatin

Melalui lembaran naskah lakon yang kerap ia baca dalam perjalanan pergi-pulang kantor, Evi jadi terbiasa mencari tahu karakter yang akan ia perankan dan kisah sejarah yang akan diangkat ke pertunjukan ketoprak. “Lewat karakter dan ceritanya, saya jadi belajar banyak. Sering penasaran, lalu jadi sering cari di Google soal peristiwa sejarah,” katanya seusai pementasan Ketoprak Eksekutif 2019 dengan lakon Sultan Agung di Jakarta, Jumat, 30 Agustus lalu.

Lewat pertunjukan itu pula Evi tahu bahwa karakter Lembayung yang ia perankan adalah tokoh fiktif yang dimunculkan dalam film tentang Sultan Agung tahun lalu. “Saya jadi belajar sejarah juga karena main ketoprak. Jadi benar-benar memahami jalan ceritanya seperti apa,” tuturnya.

Evi awalnya tak begitu akrab dengan dunia panggung, apalagi seni peran. Tapi, beberapa tahun belakangan, ia dan beberapa pejabat lain di bidang perbankan dan perekonomian kerap tampil di panggung ketoprak. Ia sudah memerankan beberapa tokoh penting, seperti Bre Kahuripan Dyah Tribuana Tunggadewi dalam Sumpah Palapa Gajah Mada dan Ratu Kalinyamat dalam Arya Penangsang.

 



 

W251bGwsIjIwMjAtMTItMDEgMDM6Mjg6MDEiXQ

Tanta Ginting

 

Kawan Pengusir Bosan

AKTOR Tanta Jorekenta Ginting, 37 tahun, punya kebiasaan membawa gitar setiap kali ikut syuting di luar kota. Alasannya, gitar bisa menjadi kawan pengusir rasa bosan saat menunggu waktu pengambilan gambar. “Hampir selalu bawa gitar kalau syuting di luar kota lebih dari tiga hari,” ujarnya di Jakarta, Selasa, 3 September lalu.

Kehadiran Tanta dan gitarnya di tempat pengambilan gambar selalu sukses mencairkan suasana. Apalagi, kata dia, bila ada banyak pemain baru yang masih canggung berbaur dengan aktor-aktor senior. “Kan, suka ada saja gap antara yang baru dan yang sudah saling kenal lebih dulu. Ada tendensi ngegeng. Main gitar biar bisa nyanyi-nyanyi bareng.”

Menurut Tanta, suasana yang sudah cair bisa membuat pemain lebih kompak saat pengambilan gambar. Biasanya, kalau sudah berkumpul dan menyanyi bersama pada waktu istirahat, berbagai permintaan lagu muncul. Tanta umumnya memainkan lagu dari era 1990-an. “Kayak ngamen di jalanan. Semua lagu yang diingat dibawain. Yang muda biasanya minta lagu yang kekinian,” ucapnya.

Tanta tak merasa repot meladeni permintaan lagu yang mengalir karena lirik lagu bisa dicari di Internet. “Semua lirik dan kunci gitar bisa dicari selama ada sinyal, ha-ha-ha…,” tuturnya.

 


 

Salvita Decorte

 

Sketsa Pembunuh Waktu

SEBAGAI perupa dan pemain film, Salvita Decorte tidak bisa lepas dari kegiatan menggambar. Lokasi syuting menjadi salah satu tempat menyenangkan baginya untuk memperhatikan beragam karakter manusia. “Aku suka melukis karakter orang. Kalau di film itu pasti bertemu dengan banyak orang, banyak karakter,” tutur Salvita di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa, 3 September lalu.

Karena kerap memanfaatkan waktu menunggu syuting untuk membuat sketsa, ibu satu anak itu pun selalu membawa buku sketsa dan pensil atau charcoal ke tempat pengambilan gambar. “Sebagian besar waktu saat syuting kan menunggu. Karena suka gambar, jadinya aku menggambar. Jadi bisa produktif juga,” kata Salvita, 29 tahun.

Saat pengambilan gambar film terbarunya, Ratu Ilmu Hitam, perempuan berdarah Indonesia-Jerman itu menghasilkan sekitar sepuluh sketsa wajah pemain film yang rencananya tayang bulan depan tersebut. Dalam syuting film pertamanya, Mantan Terindah (2014), Salvita bahkan menghabiskan satu buku sketsa untuk menggambar para pemain dan kru.

Salvita mengungkapkan, tidak semua gambar selalu ia tuntaskan di lokasi syuting. Ada juga obyek yang ia lihat di tempat syuting mempengaruhi karya lukis yang ia buat di lain waktu. “Aku paling nyaman berbicara lewat lukisan. Melukis, menggambar, itu caraku berbicara, menyampaikan sesuatu,” tutur perempuan kelahiran Bali tersebut.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-12-01 03:28:01


Pokok dan Tokoh 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB