maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin

Mengapa Pemerintah Gagal Menangani Sampah Plastik

Sepuluh persen sampah plastik Indonesia bocor ke laut lepas, hingga ke pantai Afrika. Saatnya melarang total plastik sekali pakai.

arsip tempo : 171872863987.

Salah Urus Sampah Plastik. tempo : 171872863987.

KEBIJAKAN pengelolaan sampah plastik di Indonesia membutuhkan evaluasi yang jujur dan mendalam. Penanggulangan sampah plastik dan segala bahayanya tidak cukup melalui slogan kosong “3R” (reduce, reuse, recycle) seperti yang digaungkan pemerintah. Perlu langkah radikal untuk mengatasi akar permasalahan: produksi dan penggunaan plastik sekali pakai yang terus meningkat.

Pemerintah terbukti gagal menangani sampah plastik di lapangan. Volume plastik yang tidak dapat didaur ulang terus menggunung di tempat-tempat pembuangan akhir sampah. Yang lebih parah, sebagian sampah plastik malah tercecer di mana-mana, termasuk di pantai dan lautan lepas. Bila masih diperlukan bukti, bacalah hasil riset Noam Vogt-Vincent dari University of Oxford, Inggris.

Laporan penelitian yang terbit tahun lalu itu mengungkap sebagian besar sampah plastik yang terdampar di pantai Seychelles berasal dari Indonesia. Temuan itu berbasis pada merek produk Indonesia yang tertera pada sampah plastik yang berserakan di negara kepulauan di Afrika tersebut. Sampah plastik asal Indonesia bisa sampai di Seychelles karena terbawa arus air laut.

Studi tersebut sejalan dengan temuan Muhammad Reza Cordova dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, yang menyoroti bahwa sekitar 10 persen dari total sampah plastik yang mencemari laut berasal dari sungai-sungai di Pulau Jawa dan Bali. Menurut penelitian ahli dalam negeri ini, sampah plastik yang bocor ke lingkungan sekitar 0,59 juta ton per tahun.

Dengan sampah plastik yang beredar begitu jauh, mengarungi lautan hingga mencapai pantai Afrika, saatnya pemerintah Indonesia mengubah arah kebijakan. Langkah drastis diperlukan untuk menghadapi krisis sampah plastik ini. Salah satunya melarang penggunaan plastik sekali pakai secara menyeluruh.

Rwanda, sebuah negara kecil di Afrika, telah memberikan contoh yang patut diikuti dengan pelarangan penggunaan plastik sekali pakai sejak 2004. Larangan berlaku dari hulu ke hilir, baik pada sisi produksi maupun konsumsi. Siapa pun yang melanggar diancam hukuman denda bahkan penjara.

Krisis sampah plastik memerlukan tindakan segera dan berani. Pemerintah Indonesia harus berani menetapkan larangan total terhadap plastik sekali pakai dan mendorong penggunaan alternatif yang ramah lingkungan. Tidak perlu menunggu hingga 2030—seperti janji pemerintah untuk melarang total kemasan plastik sekali pakai. Kondisi darurat limbah plastik memerlukan langkah konkret sekarang juga.

Penanganan sampah plastik kini telah menjadi bagian dari upaya dunia untuk menanggulangi pemanasan global. Produksi plastik yang bergantung pada bahan bakar fosil berkontribusi besar pada emisi karbon. Maka, makin besar produksi plastik, makin besar pula dampaknya terhadap pemanasan global. Bila benar peduli pada isu pemanasan global, pemerintah Indonesia juga semestinya lebih serius mengurusi sampah plastik.

Konsistensi dan ketegasan pemerintah dalam menanggulangi sampah plastik memang sangat penting. Tapi kita semua, sebagai masyarakat, juga memiliki tanggung jawab untuk turut serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, demi menyelamatkan lingkungan dan generasi kita di masa depan.

Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Salah Urus Sampah Plastik".

Konten Eksklusif Lainnya

  • 16 Juni 2024

  • 9 Juni 2024

  • 2 Juni 2024

  • 26 Mei 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan