maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin

Beban Berat PT KAI Akibat Kereta Cepat

Keuangan KAI terseok-seok mengoperasikan kereta cepat Jakarta-Bandung. Berbagai upaya penyelamatan malah melahirkan mudarat.

arsip tempo : 171839083828.

Sumur tanpa Dasar Kereta Cepat. tempo : 171839083828.

SEPERTI sudah diduga, kereta cepat Jakarta-Bandung senilai Rp 108 triliun kini menjadi sumur tanpa dasar bagi Indonesia. PT Kereta Api Indonesia (Persero), yang mendapat mandat pemerintah memimpin proyek strategis nasional ini, tenggelam dalam rentetan masalah tak berujung. Celakanya, setiap upaya penyelamatan perseroan itu kini justru menimbulkan petaka lebih besar.

Manuver KAI memangkas layanan Argo Parahyangan pada akhir Januari 2024 menjadi contoh. Jadwal kereta api rute Stasiun Gambir-Stasiun Bandung itu tinggal enam perjalanan per hari dari 14 perjalanan. Manajemen KAI mengklaim keputusan itu mereka ambil karena penambahan dua kereta baru, yakni Papandayan (Jakarta-Garut) dan Pangandaran (Jakarta-Banjar). Tapi, sebenarnya, pemangkasan jadwal Argo Parahyangan dipicu kinerja Whoosh—nama kereta cepat Jakarta-Bandung—yang tak membaik.

Sejak kereta cepat itu beroperasi komersial pada 17 Oktober 2023 sampai awal Februari 2024, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) hanya menjual 1,57 juta tiket. Artinya, Whoosh melayani rata-rata 15 ribu penumpang sehari, jauh dari target 30 ribu. Keuangan KAI pada akhirnya berdarah-darah karena menomboki biaya operasional konsorsium badan usaha milik negara Indonesia dan Cina yang menjadi anak usahanya tersebut. KAI juga harus menanggung pembayaran sebagian besar utang proyek kereta cepat.

Utak-atik jadwal kereta terlihat sebagai strategi yang masuk akal. Lenyapnya jadwal perjalanan Argo Parahyangan, terutama pada jam premium, akan mengalihkan penumpang ke layanan Whoosh. Namun skenario itu agaknya hanya ada di angan-angan manajemen KAI. Liputan majalah ini menemukan sebagian pengguna Argo Parahyangan beralih ke layanan mobil travel lintas jalan tol Cipularang. Misi meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan kereta api untuk mengurangi kepadatan jalan raya, yang boros emisi, terancam berantakan.  

Argo Parahyangan, juga penumpang setianya, bukan satu-satunya korban jebakan Whoosh. Pada akhir Januari 2024, KAI memutuskan membeli tiga rangkaian kereta komuter senilai Rp 783 miliar buatan CRRC Qingdao Sifang Co Ltd untuk menggantikan unit tua kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek. 

PT Kereta Commuter Indonesia, anak usaha KAI, berdalih memilih tawaran Cina karena lebih efisien dibanding proposal serupa dari Jepang dan Korea Selatan. Lagi-lagi kuat diduga keputusan ini bagian dari negosiasi agar KAI mendapatkan kepastian pinjaman dari Bank Pembangunan Cina (CDB) untuk membiayai cost overrun Whoosh.

Keputusan itu bisa menimbulkan problem baru. KAI akan kembali terbebani biaya pemeliharaan serta pengadaan peralatan anyar mengingat spesifikasi kereta komuter buatan Cina berbeda dengan rangkaian KRL selama ini. Bukan tidak mungkin gunungan beban keuangan ini berujung memburuknya kualitas layanan kereta yang sudah bagus.

Adakah jalan keluar dari sumur tanpa dasar yang digali Presiden Joko Widodo itu? Jawabannya lebih membuat cemas. Masalah utama Whoosh adalah keputusan serampangan membangun kereta cepat mahal dengan rute jarak pendek. Karena itu, pemerintah berancang-ancang memperpanjang trayek lewat proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya. Kita tahu, proyek baru yang diincar Cina ini kelak menjadi kuburan bagi layanan perkeretaapian dan ekonomi Indonesia.

Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Sumur tanpa Dasar Kereta Cepat"

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 9 Juni 2024

  • 2 Juni 2024

  • 26 Mei 2024

  • 19 Mei 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan