Opini 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pentingnya Obama buat Kita

Barack Obama kembali terpilih menjadi presiden. Sikapnya terhadap Cina akan menentukan masa depan Asia-Pasifik.

i

KETIKA kemenangan Barack Obama diumumkan, Selasa pekan lalu, kita seakan-akan bisa mendengar seluruh dunia menarik napas lega. Ucapan selamat dari para pemimpin dunia, status para pengguna Facebook, atau kicauan Twitter, sebagian besar menyiratkan hal yang sama: untunglah Obama menang. Meraih 303 suara elektoral, Obama mengalahkan telak pesaingnya, Mitt Romney. Kandidat Partai Republik itu hanya bisa menjaring 206 suara elektoral, jauh dari ambang batas 270 suara yang dibutuhkan untuk berkantor di Gedung Putih.

Hasil pemilihan melenceng jauh dari perkiraan semua lembaga survei sehari sebelumnya, yang meramalkan pertarungan memperebutkan kursi Presiden Amerika Serikat kali ini bakal ketat. Pertarungan Obama versus Romney merupakan kontes atas dua pandangan yang berbeda—kalau tak mau disebut bertolak belakang. Sejak kampanye dimulai, pada Mei lalu, Romney sudah menegaskan posisinya yang amat Amerika-sentris dalam isu-isu politik luar negeri.

Mantan Gubernur Massachusetts itu memulai kampanyenya dengan mengkritik cara Obama menangani krisis di Libya dan Suriah. Prinsip "memimpin dari belakang" yang dikumandangkan Obama disebut sebagai kesalahan strategi yang berakibat fatal: tewasnya Duta Besar Amerika di Libya. Romney kemudian menilai Obama terlalu lunak kepada Cina. Jika terpilih, Romney berjanji menerapkan tarif tambahan untuk semua produk impor dari Cina. Seakan-akan masih kekurangan musuh, Romney menyebut Rusia sebagai rival geopolitik terbesar Amerika.


Semua formula kebijakan luar negeri Romney mengingatkan kita pada era kepresidenan George W. Bush, 2001-2009. Cara pandang Bush yang agresif dan mengedepankan pendekatan militer mendorong Amerika bertingkah bak koboi Texas. Bukan suatu kebetulan: dari 24 penasihat politik luar negeri Romney, 17 merupakan bekas orang kepercayaan Bush. Bahkan dua arsitek perang Irak, mantan Wakil Presiden Amerika Dick Cheney dan bekas Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld, juga berada di barisan penasihat Romney.

161833223791

Obama, kita tahu, merupakan antitesis Bush. Dia percaya pada pendekatan soft-power dan tidak ragu mengakui tatanan dunia saat ini sedang bergeser menjadi multipolar. Dia sudah berjanji akan bekerja sama dengan Rusia untuk mengurangi jumlah hulu ledak nuklir di dunia. Obama juga siap bernegosiasi dengan Iran. Kita berharap dia mampu bersikap lebih keras kepada Israel, untuk membuka jalan bagi kemerdekaan Palestina.

Tapi ujian terbesar Obama tetaplah Cina. Pada banyak kesempatan, mantan dosen hukum tata negara Universitas Chicago itu menegaskan niatnya menempatkan Asia-Pasifik sebagai prioritas politik luar negeri Amerika. Untuk mewujudkan itu, Amerika harus bisa memahami Cina. Dalam sepuluh tahun terakhir, Tiongkok makin perkasa. Seiring dengan kemajuan ekonominya, sang Naga kini mulai meningkatkan kemampuan militernya. Di luar negeri, para pemimpin Cina pun makin asertif dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya.

September lalu, Cina tak ragu bergesekan dengan Jepang dalam sengketa Pulau Diaoyu/Senkaku. Demonstrasi anti-Jepang di Cina sempat berkobar dan memaksa banyak pabrik Jepang di sana tutup. Di Laut Cina Selatan, Cina punya sengketa yang sama dengan Filipina, Vietnam, juga Indonesia.

Di sini Obama harus meniti buih. Salah langkah bisa berakibat fatal. Strategi yang jelas dan jernih dari Washington akan menentukan masa depan Asia-Pasifik. Dan itulah yang membuat kita lega ketika Obama, dan bukan Romney, yang berada di Gedung Putih.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833223791



Opini 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.