Olahraga 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Antara cruyff, koeman, dan paus

Barcelona melengkapi diri sebagai klub sepakbola ketiga Eropa yang sempurna. berkat "jenderal" Johan Cruyff yang bertangan dingin. atau karena Koeman?

i
LIBERO Barcelona, Ronald Koeman, memang layak dijuluki man of the match. Di final perebutan Piala Champions, di Stadion Wembley, London, Rabu pekan lalu, pemain berusia 29 tahun ini membuktikan kehebatan itu. Ia mengantar kemenangan klubnya melawan Sampdoria, Italia, hanya delapan menit menjelang usai, setelah perpanjangan waktu 2x15 menit. Kemenangan 1-0 itu membuat lambang supremasi tertinggi kejuaraan antarklub Eropa diboyong ke Spanyol. Terakhir Piala Champions ke Spanyol dibawa klub Real Madrid, 26 tahun yang lalu. Kemenangan ini pantas dirayakan, baik di London apalagi di Barcelona. Sebab, prestasi ini mengukir sejarah Barcelona sebagai klub ketiga, setelah Juventus (Italia) dan Ajax (Belanda), yang menjadi juara terlengkap di Eropa. Yaitu memenangkan Piala UEFA (1959, 1960, dan 1966), Piala Winners (1979, 1982, dan 1989), dan Piala Champions (1992). "Ini kemenangan yang paling membahagiakan saya," kata Johan Cruyff, 45 tahun, pelatih Barcelona. Bekas pemain nasional Belanda, yang pernah mengantarkan timnya ke final Piala Dunia 1974, itu menangani klub kaya raya ini sejak 1988. "Sungguh fantastik," komentar Koeman tentang tendangannya dari jarak sekitar 30 meter itu. Ia memang spesialis penendang bebas. Dalam musim kompetisi ini saja, tercatat 13 kali tendangan bebas dan pinaltinya yang membuahkan gol. "Tapi, yang satu ini merupakan yang terpenting dalam hidup saya," kata bekas pemain klub PSV Eindhoven, Belanda ini. PSV yang diperkuat Koeman juga pernah menggondol Piala Champions tahun 1988. Koeman memang dari keluarga sepakbola. Ia mengenal bola sejak usia lima tahun. Ia telah 40 kali bermain untuk tim Belanda. Kakaknya, Erwin Koeman, juga pemain nasional Belanda. Koeman selalu berpenampilan tenang, penuh percaya diri. Pemain tengah yang tangguh ini memang sering membantu serangan. Idolanya adalah Johan Cruyff. Cruyff pulalah yang mengajak Koeman ke Barcelona. Cruyff punya kekuasaan besar di Barcelona. Ia boleh memilih dan memasang pemain sesukanya. Ia memiliki kharisma. Ibarat seorang jenderal, Cruyff itu bertangan dingin. Ia membawa Barcelona menjuarai Piala Winners 1989, Piala Spanyol 1990, dan juara Liga 1991. Pelatih Sampdoria, Vujadin Boskov, pun semula yakin akan mengimbangi permainan Barcelona. Namun, kenyataan tak terbukti. Justru, selama pertandingan Sampdoria keteteran. Serangannya tak terfokus atau kurang daya dukung. Duet Gianluca Vialli-Roberto Mancini terasa tumpul. Play maker asal Brasil, Toninho Cerezo, juga tak bisa berkutik karena ditempel terus oleh Jose Mario Bakero. Hanya si kepala licin Attili Lombardo yang sekali-sekali mendobrak dan ngrecoki kiper Barcelona. Sebaliknya, pemain Barcelona, yang rata-rata punya kemampuan individu lebih, sering membuat repot Sampdoria. Duet Michael Laudrup (asal Denmark) Hristo Stoichkov (Bulgaria) memang ampuh. Laudrup, 27 tahun, daya penetrasinya ke kotak penalti sering membuat jantung Boskov ketar-ketir, walau tak menghasilkan gol. Sedang daya serang Stoichkov, yang belum lama ini membeli hotel untuk cadangan hari tua, juga belum menciptakan gol. Malapetaka justru terjadi pada menit ke-112 atau delapan menit menjelang bubar pada perpanjangan waktu. Yaitu, saat pemain pengganti Sampdoria, Giovanni Invernizzi, melakukan pelanggaran pada Eusebio Sacristin. Wasit Aron Schmidhuber memberi tendangan bebas tak langsung buat Barcelona. Koeman menerima umpan pelan dari Bakero, lalu mengeksekusi dengan tendangan geledek. Gol!. Mancini langsung menangis. Juga sekitar 30.000 pendukung Sampdoria yang datang ke Wembley tak bisa melupakan kesedihan itu. Boskov yang sebelumnya sudah berjanji akan membuat konperensi pers menggagalkan janji itu. Ia lebih memilih menghibur anak buahnya dan menemani di dalam bus menuju ke hotel. Enam tahun di Sampdoria, Boskov memang telah menyulap Sampdoria dari klub kelas lokal menjadi klub yang disegani di Eropa. Dan kekalahan atas Barcelona itu, "Merupakan kenyataan pahit yang sulit saya terima. Sebenarnya kami yang salah. Mancini tak berhasil memasukkan gol saat mengambil tendangan bebas, tapi Koeman berhasil dengan tendangannya," kata Boskov. Adakah Anda bisa tidur setelah itu? Dengan enteng, Boskov yang akan hijrah ke AS Roma musim kompetisi mendatang, menjawab: "Tentu saja bisa tidur. Mau apa? Haruskah saya bunuh diri? Enam tahun ini saya melahirkan pemain-pemain emas di klub Sampdoria. Saya merasa bangga bahwa itu terjadi karena, antara lain, berkat kerja saya." Sementara itu, Vialli, menurut Reuter, pada musim kompetisi mendatang akan beralih ke klub Juventus. Transfernya sangat mahal, Rp 40-Rp 50 milyar, mengalahkan transfer Roberto Baggio dari Fiorentina ke Juventus, Rp 26 milyar dua tahun lalu. Vialli kabarnya akan mendapat bayaran Rp 5 milyar setahun. Dengan kemenangan ini, klub Barcelona semakin harum. Dan Paus Johannes Paulus II, penggemar fanatik sepak bola yang tercatat sebagai anggota klub Barcelona dengan nomor 108.000, tentunya ikut merasakan kemenangan ini. Widi Yarmanto & Lisa Sallusto (Italia)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162052267434



Olahraga 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.