Obituari Malik Fadjar: Tokoh yang Mengubah Wajah Pendidikan Islam - Obituari - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Obituari 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Warisan Besar Guru Awal Taliwang

Malik Fadjar mengawali kariernya sebagai guru agama di sekolah rakyat di Nusa Tenggara Barat. Wafat pada 7 September 2020, ia meninggalkan warisan besar tentang multikulturalisme hingga reformasi pendidikan nasional.

i Menteri Pendidikan Nasional Drs. H Abdul Malik Fadjar MSc di kantornya, Jakarta, 01 Desember 2001./TEMPO/ BODI CH
Menteri Pendidikan Nasional Drs. H Abdul Malik Fadjar MSc di kantornya, Jakarta, 01 Desember 2001./TEMPO/ BODI CH
  • Malik Fadjar meninggalkan warisan besar tentang multikulturalisme hingga reformasi pendidikan nasional. .
  • Ketika gelombang reformasi menemukan momentum berbarengan dengan krisis moneter, ekonomi, dan krisis politik, Malik Fadjar termasuk yang berdiri paling depan.
  • Warisan penting lain Malik Fadjar adalah menyangkut pengarusutamaan pendidikan Islam. .

AWALNYA adalah Yogyakarta. Awalnya adalah guru. Profesor Abdul Malik Fadjar, yang pernah menjabat Menteri Agama, Menteri Pendidikan Nasional, hingga Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat ad interim, berasal dari keluarga guru. Pria kelahiran Yogyakarta, 22 Februari 1939, ini memiliki ayah seorang guru yang juga aktivis Muhammadiyah, Fadjar Martodiharjo.

Malik Fadjar adalah contoh tipikal mobilitas intelektual, sosial, dan politik anak santri melalui pendidikan yang disertai etos keilmuan dan pengabdian. Berkat semua modal ini, ia meraih pencapaian tinggi dan meninggalkan warisan yang beyond imagination, sesuatu yang tak pernah dia bayangkan sepanjang hidupnya.

Berasal dari keluarga yang secara ekonomi bersahaja, Malik menempuh pendidikan guru agama pertama negeri di Magelang, Jawa Tengah, pada 1957 dan berlanjut ke pendidikan guru agama atas negeri di Yogyakarta dua tahun kemudian. Berijazah guru, ia melakukan sojourn alias menetap sementara di Taliwang, salah satu desa di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, yang terkenal dengan kuliner ayam bakar. Dengan etos keilmuan, dia mengajar di Sekolah Rakyat Negeri Taliwang sepanjang 1959-1963. Malik Fadjar juga mengajar di Sekolah Guru Bawah Negeri sekaligus menjadi Kepala Sekolah Menengah Ekonomi Pertama Muhammadiyah.


Untuk menunaikan semua pengabdian di Taliwang pada zaman susah dalam tahun-tahun menjelang berakhirnya pemerintahan Presiden Sukarno, Malik Fadjar muda harus berjalan kaki atau naik “kereta angin” berkilometer jauhnya. “Ini asyik. Menjadi guru haruslah berjuang. Menjadi guru tidak pernah berhenti,” kata Malik.

Dari Taliwang, ia melanjutkan menuntut ilmu di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel di Malang, Jawa Timur, untuk tingkat sarjana muda. Ia menamatkan kuliahnya pada 1972. Selama kuliah, Malik juga menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam serta Muhammadiyah. Ia kemudian menjadi salah satu pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Malang pada Desember 1990.

Selama menjadi aktivis, Malik juga memangku berbagai jabatan formal, seperti Sekretaris Fakultas Tarbiyah Sunan Ampel (1972-1979), Malang; serta Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (1983-1984). Di antara masa kedua jabatan ini, Malik mendapat kesempatan kuliah S-2 dalam bidang pendidikan di Florida State University, Amerika Serikat, pada 1979-1982.

Riwayat selanjutnya adalah kisah mobilitasnya ke atas. Sepulang ke Tanah Air, Malik menjadi Dekan FISIP dan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang sejak 1984. Ia mengemban jabatan itu selama 16 tahun. Selama berkiprah di Universitas Muhammadiyah Malang, Malik meninggalkan warisan berupa kampus besar dan indah serta mahasiswa yang terus bertambah. Dia juga sempat merangkap menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Menjadi rektor dua kampus dengan aktivisme sebagai salah satu tokoh puncak di Muhammadiyah dan ICMI, Malik Fadjar terlibat dalam interplay dengan kekuasaan Orde Baru, khususnya pada dasawarsa terakhir Presiden Soeharto. Sangat dekat dengan Menteri B.J. Habibie, yang kemudian menjadi wakil presiden sejak 1997, Malik tidak terlibat konfrontasi dengan Pak Harto.

Namun ketika gelombang reformasi menemukan momentum berbarengan dengan krisis moneter, ekonomi, dan politik sejak akhir 1997, Malik Fadjar menjadi salah satu focal point. Bersama Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid khususnya, yang satu generasi dengannya, Malik Fadjar termasuk berdiri paling depan.

Walhasil, ketika Presiden Soeharto merasa posisinya kian sulit, dia mengundang sepuluh tokoh untuk bertemu dan memberikan pertimbangan tiga hari sebelum lengser pada 18 Mei 1998. Dari sepuluh tokoh yang diundang, sembilan di antaranya berangkat ke Istana dari kediaman Malik Fadjar di Jalan Indramayu, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka adalah Malik Fadjar, Nurcholish Madjid, Ahmad Bagja, Ali Yafie, Anwar Haryono, Ma’ruf Amin, Emha Ainun Najib, Sutrisno Muhdam, dan KH Ilyas Ruhiyat. Sedangkan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur satu-satunya yang berangkat sendiri.

Singkatnya, dalam pertemuan itu, para tokoh menyarankan Presiden Soeharto agar mundur dari jabatannya. Pak Harto, yang didampingi Menteri Sekretaris Negara Saadillah Mursjid dan penulis pidato presiden, Yusril Ihza Mahendra, tampak cukup memahami aspirasi yang disampaikan para tokoh. Maka, dalam waktu tidak terlalu lama, ia mundur dan menyerahkan kekuasaan kepada B.J. Habibie.

Kisah selanjutnya tentang Malik Fadjar adalah keterlibatannya dalam lingkaran birokrasi kekuasaan, yaitu menjadi Menteri Agama pada era Presiden Habibie serta Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat ad interim di masa Presiden Megawati Sukarnoputri. Ia terakhir didapuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden di masa Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Pada masa itu, Malik Fadjar menyiapkan warisan penting, yaitu pengembangan serta sosialisasi konsep dan praksis multikulturalisme. Selama menjabat Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, ia sering menugasi saya menyelenggarakan seminar nasional dan diskusi tentang subyek ini.

Usaha Malik Fadjar lebih intensif untuk pengembangan multikulturalisme adalah ketika ia menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Hampir setiap tahun di masa jabatannya ini, ia menugasi saya menjadi ketua tim serangkaian kajian multikulturalisme dari segi sosial-budaya, politik, ekonomi, agama, dan pendidikan.

Minat kuat Malik Fadjar pada multikulturalisme ini sejalan dengan sikap dan jalan hidupnya yang selalu menampilkan inklusivisme. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan, selama hidupnya, Malik Fadjar kerap berpesan tentang filosofi hidup yang luwes dan luas. “Ini menunjukkan sikap Malik yang inklusif terhadap siapa saja, tidak pernah membedakan ras, suku, golongan, dan agama,” ujar Haedar.

Salah satu warisan signifikan lain dari Malik Fadjar adalah reformasi pendidikan nasional. Inti dari reformasi pendidikan nasional yang dijalankan Malik saat dia menjabat Direktur Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama, Menteri Agama, dan Menteri Pendidikan Nasional adalah pemberian otonomi serta demokratisasi lebih besar kepada lembaga pendidikan, penyederhanaan birokrasi, dan perampingan kurikulum.

Dalam reformasi pendidikan, Malik Fadjar berprinsip “kalau bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit”. Bagi dia, lembaga pendidikan jangan dibelenggu urusan birokrasi dan administrasi. Pendidikan Indonesia sejak dari tingkat dasar, menengah, sampai pendidikan tinggi tidak bakal bisa maju dan kompetitif selama lingkungan pendidikan terbelenggu.

Atas dasar prinsip ini pula, sebagai Menteri Pendidikan Nasional, dia membebaskan perguruan tinggi swasta dari kewajiban ujian negara dan keharusan ijazah ditandatangani rektor atau Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis). Malik Fadjar juga membuka kesempatan bagi perguruan tinggi swasta memiliki fakultas kedokteran.

Warisan penting lain Malik Fadjar adalah menyangkut pengarusutamaan pendidikan Islam. Sebagai Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, ia memerdekakan fakultas-fakultas “cabang” IAIN di berbagai kota tingkat II menjadi sekolah tinggi agama Islam negeri.

Tidak kurang pentingnya ia membuka jalan, mendorong, dan memfasilitasi pengembangan IAIN menjadi universitas Islam negeri (UIN). Sebagai rektor IAIN/UIN Jakarta periode 1998-2006, saya pernah bahu-membahu dengan dukungan Malik Fadjar mengubah IAIN Jakarta menjadi UIN pertama pada 2002. Berkat rintisan Malik Fadjar, kini ada 17 universitas Islam negeri di seluruh Indonesia.

Perubahan IAIN menjadi UIN adalah pengarusutamaan pendidikan Islam yang semula terpinggir menjadi ke tengah. Dengan pendekatan ini, UIN Jakarta, misalnya, dapat mengembangkan program Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan sejak 2003.

Pengarusutamaan pendidikan Islam memperluas cakrawala pemikiran para peserta didiknya. Dengan pengarusutamaan terjadi integrasi ilmu agama dengan ilmu umum. Dengan pengarusutamaan, alumnus perguruan tinggi Islam dengan berbagai keilmuan, keahlian, dan keterampilan dapat memberikan pengabdian lebih luas kepada pembangunan negara-bangsa Indonesia.

AZYUMARDI AZRA, PROFESOR SEJARAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH, JAKARTA

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-26 00:24:10

Malik Fadjar Muhammadiyah

Obituari 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB