Jago Kungfu Lapangan Hijau - Obituari - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Obituari 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jago Kungfu Lapangan Hijau

Iswadi Idris tidak pernah jauh dari bola sampai saat terakhirnya. Pemain Indonesia pertama yang dikontrak klub asing.

i

Indonesia kembali kehilangan seorang legenda sepak bola. Iswadi Idris, sang gelandang serang itu, dipanggil Yang Mahakuasa pada Jumat, 11 Juli lalu, di rumah sakit MMC Kuningan, Jakarta, akibat stroke. Mantan bintang tim nasional, Persija Jakarta, dan Jayakarta ini adalah pemain sepak bola pertama Indonesia yang dikontrak klub luar negeri, Western Suburbs di Australia, pada 1974.

Iswadi, yang lahir di Banda Aceh, 18 Maret 1948, menghabiskan hidupnya untuk sepak bola. Ketika berusia sembilan tahun, Iswadi sudah bergabung dengan klub Merdeka Boys Football Association Jakarta. Sampai akhir hayatnya pun, ia masih duduk sebagai manajer teknik Badan Tim Nasional Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.

Banyak hal yang membuat dia patut dikenang. Pemain yang selalu memilih kaus bernomor 13 baik di tim nasional maupun klub ini merupakan gelandang kanan dengan inteligensi tinggi bahkan jenius, berkarakter, dan berdisiplin tinggi. Ia bisa mengatasi tinggi badannya yang hanya 163 sentimeter—sehingga ia dijuluki si Boncel—dengan gerakannya yang mematikan lawan dan tendangan kerasnya dalam mencetak gol.


Sebagai sesama pemain nasional di era 1970 sampai 1980-an, saya bisa merasakan karisma kepemimpinannya. Sebagai kapten, di tim nasional, Jayakarta, atau Persija, dia sangat disegani, baik di dalam maupun di luar lapangan, karena sifat tegas dan mengayomi anak buah.

Beberapa kali kami menjuarai turnamen di tingkat klub ataupun saat memperkuat tim nasional di dalam dan luar negeri. Dia berperan besar mengantar Indonesia menjadi tim yang disegani. Tim Merah-Putih pernah menjuarai Merdeka Games di hadapan publik tuan rumah Malaysia. Kami juga membawa pulang trofi Piala Raja dari kandangnya, Thailand.

Kami pernah melanglang buana, termasuk ke Eropa, pada 1974 dan 1976. Pada masa itu, tim nasional sangat ditakuti di Asia. Itu sebabnya, kami bisa bermain dengan klub terkenal seperti Santos (Brasil), Cruzeiro (Brasil), Benfica(Portugal), Espanyol (Spanyol), Atletico Madrid (Spanyol), dan juga Manchester United (Inggris).

Prestasi terbaik Indonesia adalah pada 1976 di ajang pra-Olimpiade Montreal. Selangkah lagi tim Merah-Putih bakal berlaga di pesta olahraga dunia itu. Pertandingan berakhir seri sehingga harus adu penalti. Iswadi sebagai kapten melihat kaki Risdianto gemetar ketika akan mengeksekusi tendangan penalti keempat.

Ia kemudian menunjuk saya. Meski engkel kaki bengkak, ia tetap pada putusannya. Tendangan saya gagal sehingga kami pun kalah 3-4. Tentu saya terpukul, tapi Iswadi tampak tabah dan sambil memeluk saya ia mengatakan, ”Jangan putus asa, masa depanmu masih panjang. Kegagalan itu merupakan kehendak Yang Mahakuasa.”

Kesetiakawanannya patut diteladankan. Pernah ketika kami memperkuat Persija melawan Persatuan Sepak Bola Medan dan Sekitarnya (PSMS), Nobon mencederai saya. Pada saat itu juga, Iswadi dengan gaya kungfunya memukul wajah Nobon karena ia tahu persis bintang Medan ini dibesarkan oleh orang tua saya. Bukan hanya sekali ia memukul lawan untuk membela kawan. Risdianto, mantan pemain nasional lain, juga pernah dibelanya.

Tidak selalu hubungan saya dengan Iswadi berlangsung mulus. Sebagai pemain lama di Jayakarta, saya, Andi Lala, dan Sofyan Hadi pernah berang kepada Iswadi dan Sultan Harhara, yang masuk belakangan tapi mendapat fasilitas lebih baik. Kami merasa ia mencari muka ke pemilik klub sehingga dianakemaskan. Sebagai protes, kami bersama-sama keluar sehingga prestasi Jayakarta terus merosot.

Isu suap pernah menghampiri Iswadi ketika Indonesia dikalahkan Hong Kong di pra-Piala Dunia 1978. Saya tentu tidak percaya Iswadi bisa disuap, tapi memang kekalahan itu sangat janggal karena biasanya kami bisa mengalahkan mereka 5-0. Tapi tuduhan itu tidak pernah terbukti.

Iswadi memiliki kebiasaan unik: muntah sebelum bertanding. Bisa jadi dia stres. Tapi, begitu bisa mengeluarkan isi perut, ia bisa bermain bagus dan lebih fit. Untuk menghilangkan ketegangan sebelum bertanding, ia biasa membaca komik Kho Ping Ho sambil tiduran dan mengangkat kakinya ke tembok.

Cita-citanya untuk hidup demi sepak bola tercapai sudah. Bahkan pada saat akhir hayatnya sebelum stroke, ia masih bertugas memantau pemain tim nasional di bawah 16 tahun berlatih di Senayan, Jakarta. Selamat jalan, Bang Is.

Andjas Asmara, mantan pemain nasional

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-30 02:38:14


Obituari 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB