Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Politik

Berita Tempo Plus

Bagaimana Pengungsi Rohingya Bisa Sampai ke Aceh?

Pengungsi Rohingya bertaruh nyawa untuk bisa sampai di Aceh. Ditolak masyarakat dan nasibnya tak jelas.

24 Desember 2023 | 00.00 WIB

Imigran etnis Rohingya saat berlabuh di Pantai Ulee Madon, Aceh Utara, 16 November 2023. Reuters/Stringer
Perbesar
Imigran etnis Rohingya saat berlabuh di Pantai Ulee Madon, Aceh Utara, 16 November 2023. Reuters/Stringer

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TERPAAN angin membuat tubuh Sanaullah menggigil setiap malam. Duduk di atas kapal kayu yang mengangkutnya dari Pantai Teknaf, Bangladesh, laki-laki dari etnis Rohingya itu tak bisa menghindari sapuan angin laut yang sangat kencang. Dingin kian menggigit ketika hujan turun. Terpal yang menutup tubuhnya bersama puluhan laki-laki lain tak sanggup mengusir hawa beku.

Lebih dari sebulan, sejak 5 November 2023, Sanaullah bertaruh nyawa melintasi Laut Andaman menuju Aceh. Tak terhitung berapa kali tubuhnya kuyup akibat ombak mengguyur kapal. Kala siang tiba, badannya mengering saking panasnya. Bibirnya pecah dan kulitnya pun menggelap karena tak henti tersiram sinar matahari.

Masuk ke kapal bukan pilihan. Di sana sudah ada puluhan perempuan dan anak-anak berjejalan. Kapal sepanjang 20 meter yang ditumpangi para pengungsi Rohingya itu mengangkut 137 orang. “Perjalanan ini seperti mimpi yang mengerikan,” kata Sanaullah di pos pengungsi Rohingya di gedung Meuseuraya, Banda Aceh, 20 Desember 2023.

Laporan Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) menyebutkan hampir semua kapal nelayan yang digunakan pengungsi Rohingya berkapasitas kecil dan tak bisa menampung banyak manusia. “Banyak penumpang hanya bisa duduk, tak bisa rebahan,” ujar Assistant Protection Officer UNHCR Indonesia Hendrik Therik, 22 Desember 2023.

Tak hanya menghadapi ganasnya laut, para pengungsi Rohingya juga harus bertahan dengan perbekalan yang minim. Sepekan sebelum mereka tiba di daratan Aceh, hanya tersisa beras dan bumbu masak seadanya. Mohammad Sahidul Islam, pengungsi yang bertugas menjadi juru masak, harus mengirit-irit makanan.

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Raihan Lubis dari Banda Aceh berkontribusi dalam penulisan artikel ini. Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Terusir di Tanah Harapan"

Egi Adyatama

Bergabung dengan Tempo sejak 2015. Alumni Universitas Jenderal Soedirman ini sejak awal meliput isu politik, hukum, dan keamanan termasuk bertugas di Istana Kepresidenan selama tiga tahun. Kini menulis untuk desk politik dan salah satu host siniar Bocor Alus Politik di YouTube Tempodotco

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus