Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TERPAAN angin membuat tubuh Sanaullah menggigil setiap malam. Duduk di atas kapal kayu yang mengangkutnya dari Pantai Teknaf, Bangladesh, laki-laki dari etnis Rohingya itu tak bisa menghindari sapuan angin laut yang sangat kencang. Dingin kian menggigit ketika hujan turun. Terpal yang menutup tubuhnya bersama puluhan laki-laki lain tak sanggup mengusir hawa beku.
Lebih dari sebulan, sejak 5 November 2023, Sanaullah bertaruh nyawa melintasi Laut Andaman menuju Aceh. Tak terhitung berapa kali tubuhnya kuyup akibat ombak mengguyur kapal. Kala siang tiba, badannya mengering saking panasnya. Bibirnya pecah dan kulitnya pun menggelap karena tak henti tersiram sinar matahari.
Masuk ke kapal bukan pilihan. Di sana sudah ada puluhan perempuan dan anak-anak berjejalan. Kapal sepanjang 20 meter yang ditumpangi para pengungsi Rohingya itu mengangkut 137 orang. “Perjalanan ini seperti mimpi yang mengerikan,” kata Sanaullah di pos pengungsi Rohingya di gedung Meuseuraya, Banda Aceh, 20 Desember 2023.
Laporan Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) menyebutkan hampir semua kapal nelayan yang digunakan pengungsi Rohingya berkapasitas kecil dan tak bisa menampung banyak manusia. “Banyak penumpang hanya bisa duduk, tak bisa rebahan,” ujar Assistant Protection Officer UNHCR Indonesia Hendrik Therik, 22 Desember 2023.
Tak hanya menghadapi ganasnya laut, para pengungsi Rohingya juga harus bertahan dengan perbekalan yang minim. Sepekan sebelum mereka tiba di daratan Aceh, hanya tersisa beras dan bumbu masak seadanya. Mohammad Sahidul Islam, pengungsi yang bertugas menjadi juru masak, harus mengirit-irit makanan.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Raihan Lubis dari Banda Aceh berkontribusi dalam penulisan artikel ini. Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Terusir di Tanah Harapan"