Nasional 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

LGBT, Diskriminasi tanpa Henti

DEWAN Perwakilan Rakyat dan pemerintah berencana memperluas ancaman pidana untuk kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

i

DEWAN Perwakilan Rakyat dan pemerintah berencana memperluas ancaman pidana untuk kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Nantinya bukan hanya pencabulan sesama jenis terhadap anak-anak-seperti tercantum dalam KUHP yang berlaku sekarang-yang akan dikenai sanksi. Hubungan sesama jenis antar-orang dewasa pun bakal dipidana.

Agaknya kelompok LGBT masih dianggap sebagai ancaman terhadap masyarakat. Survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) terhadap 1.220 orang menunjukkan 87,6 persen responden menolak keberadaan kelompok LGBT. "Sekitar 80 persen responden keberatan LGBT menjadi tetangga mereka dan 90 persen tidak menerima jika LGBT menjadi bupati, gubernur, atau presiden," kata Direktur Media SMRC Ade Armando saat memaparkan hasil survei di Jakarta, Kamis dua pekan lalu.

Diskriminasi terhadap kelompok LGBT di negeri ini terjadi sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Majalah Tempo edisi 12 April 1986 mengulasnya dalam tulisan berjudul "Korban AIDS dan Protes Waria". Tulisan itu berisi soal protes para waria terhadap larangan pria homoseksual mengikuti donor darah karena berisiko tinggi sebagai pengidap dan penular AIDS, acquired immunodeficiency syndrome, penyakit yang belum ada obat penyembuhnya.


Markas Unit Transfusi Darah PMI DKI di Jalan Kramat Raya, Jakarta, mendadak didatangi para waria gara-gara ramainya berita tentang AIDS. Lima waria mengenakan pakaian yang sopan dan dandanan tidak menor, yang dipimpin Myrna alias Bambang Wisnu Pribadi, 40 tahun, Ketua Persatuan Waria DKI, rupanya hendak menemui Ketua Divisi IV Usaha Transfusi Darah PMI Dokter Masri Rustam. "Kami hendak menyampaikan protes," ujar Myrna, serius.

162092110871

Bersama teman-temannya, Myrna merasa keberatan atas pernyataan Masri yang mengimbau agar para pria homoseksual tak menjadi donor darah karena berisiko tinggi sebagai pengidap dan penular AIDS.Malah Masri sudah punya rencana akan mengkampanyekan imbauannya itu kepada PMI cabang di daerah, antara lain dengan memasang poster-poster imbauan. Dan inilah yang diresahkan orang-orang seperti Myrna.

Myrna menganggap yang dimaksud Masri tersebut termasuk orang-orang seperti dia dan kawan-kawannya yang, saat itu, berjumlah sekitar 2.000 orang di seluruh Jakarta. Padahal Myrna dan kawan-kawannya sudah punya rencana menggalakkan donor darah di kalangan waria.

Dengan imbauan Masri, Myrna betul-betul merasa terpojok. Bukan karena tak bakal mendapat kesempatan menyumbangkan darah. Juga karena pernyataan Masri itu sudah mulai terasa pengaruhnya. "Banyak tamu yang kalau datang ke rumah kami menolak bila disuguhi minuman," tutur Myrna.

Dengan agak mengomel, Myrna menyesalkan ucapan Masri itu. "Kalau memang kami tak boleh donor, bukan begitu caranya," katanya. Sayang, Masri masih dirawat di rumah sakit, para waria itu gagal menjumpainya.

Itu sudah menunjukkan soal AIDS, memang bukan perkara yang ringan. Banyak kalangan lain juga tampak sempat tersengat setelah munculnya berita ditemukannya kasus korban terkena virus penyakit yang menakutkan itu di Jakarta.Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, ratusan calon tenaga kerja Indonesia yang akan dikirim ke Arab Saudi antre setiap hari guna memeriksakan darah.

Mereka juga adalah bagian lain yang harus terkena rentetan pelbagai efek pencegahan yang dilakukan Arab Saudi untuk mencegah penularan AIDS. Duduk berimpit di ruang tunggu kamar periksa di lantai dua RSCM, para calon TKI itu hari-hari ini menambah sibuk rumah sakit milik pemerintah tersebut.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162092110871



Nasional 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.