Nasional 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tersandung Saham Gadai Pensiunan

Investasi saham PT Sugih Energy Tbk oleh Dana Pensiun Pertamina dianggap merugikan keuangan negara Rp 599 miliar. Edward Soeryadjaya turut menjadi tersangka.

i

DUDUK di kursi terdakwa, Muhammad Helmi Kamal Lubis irit bicara meski hakim mengejarnya dengan berbagai pertanyaan. Mantan Presiden Direktur Dana Pensiun PT Pertamina itu juga terlihat pasrah saat ketua majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Supeno, memberinya hak bertanya kepada saksi. "Cukup yang disampaikan tim kuasa hukum," kata Helmi, Kamis pekan lalu.

Helmi menjadi terdakwa dalam perkara penempatan investasi pengelolaan Dana Pensiun Pertamina periode 2014-2015. Ia dianggap memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi sehingga merugikan keuangan negara. "Dia tidak mengikuti mekanisme pembelian saham," ujar jaksa Tasjrifin Muljana Abdul Halim.

Jaksa mendakwa Helmi melanggar Pasal 2 ayat 1 juncto Pasal 18 atau Pasal 3 juncto Pasal 18 dan Pasal 12a atau Pasal 12b atau Pasal 11 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.


Syahdan, perkara ini bermula saat Helmi menunjuk secara langsung PT Millenium Danatama Sekuritas (PT MDS) sebagai perantara pedagang efek jual-beli saham PT Sugih Energy Tbk (SUGI). Pembelian itu direalisasi dengan adanya pertemuan antara Helmi, Bety selaku Komisaris Utama PT Millenium Danatama Sekuritas, dan Ketua Direksi Ortus Holdings Edward Seky Soeryadjaya di kantor Ortus, Jalan Teluk Betung Nomor 38, Jakarta.

161821040229

Pada pertemuan itu, Bety memperkenalkan Helmi kepada Edward, pemilik 11 persen saham SUGI. Putra pendiri Grup Astra, William Soeryadjaya, itu mengajak Helmi bergabung sebagai pemegang saham di PT Sugih. Ajakan itu disetujui. "Edward tahu saham dalam keadaan repo (tergadai)," ucap Tasjrifin.

Menurut Tasjrifin, Edward, Bety, dan Hemi lalu bertemu beberapa kali lagi di restoran berbeda-beda di Jakarta membicarakan soal repo saham itu. "Harga di pasar reguler telah direkayasa agar tetap memiliki nilai ekonomis," kata Tasjrifin. Pada Oktober atau November 2014, Helmi memantapkan pembelian saham SUGI dengan meminta diskon 25 persen dari harga pasar.

Tasjrifin mengatakan Helmi juga meminta imbalan 5-8 persen dari nilai transaksi pembelian saham SUGI oleh Dana Pensiun Pertamina kepada Bety. Atas kesepakatan itu, pada 29 Desember 2014, Helmi memerintahkan pejabat sementara Presiden Direktur Dana Pensiun Pertamina, Hadi Budi Yulianto, membeli saham SUGI dengan menandatangani perjanjian penjualan dan pembelian kembali saham dengan Direktur Utama PT Bumimas Inti Cemerlang Ivan Lius.

Saham yang dibeli saat itu sejumlah 311.526.480 lembar dengan harga Rp 321 per lembar. Nilai total pembelian Rp 100 miliar yang dibagi dua termin. Saham itu akan dibeli kembali oleh PT Bumimas dengan tenor 12 bulan dan harganya Rp 428 per lembar.

Perjanjian itu ditindaklanjuti pada 30 Desember 2014 dengan realisasi pembelian saham SUGI 155.763.240 lembar dengan harga Rp 321 per lembar dan total pembayaran Rp 50 miliar kepada PT Bumimas melalui broker PT Millenium Danatama Sekuritas. "Padahal dalam aturan Dana Pensiun tidak boleh repo," ujar Tasjrifin.

Pada 10 April 2015, Helmi bertransaksi lagi dengan PT Millenium membeli saham SUGI sebanyak 33.333.300 lembar dengan harga Rp 300 per lembar dan total senilai Rp 99,99 miliar. Pada sekitar April hingga Mei 2015, Helmi menukarkan saham Dana Pensiun Pertamina melalui PT Millenium dengan saham SUGI.

Saham yang ditukar itu adalah saham ELSA (PT Elnusa Tbk) senilai Rp 76,1 miliar, saham PGAS (Perusahaan Gas Negara) 3.407.300 lembar senilai Rp 18,8 miliar, dan saham BWPT (PT Eagle High Plantation Tbk) senilai Rp 7,3 miliar. Total saham yang dibeli sebanyak 130.307.400 lembar yang ditukar dengan saham SUGI 262.648.500 lembar atau seharga Rp 102,4 miliar. Jaksa menyatakan harga riilnya seharusnya Rp 80,6 miliar.

Lima bulan kemudian, Helmi kembali menukarkan 13.639.500 saham Dana Pensiun Pertamina kepada PT Millenium dengan saham SUGI sebanyak 146.940.100 lembar. Nilai penjualannya Rp 58 miliar. Menurut jaksa, harga riilnya Rp 46,6 miliar. Penukaran saham ini kembali dilakukan tiga kali pada periode September dengan penjualan/pertukaran masing-masing Rp 154,5 miliar, Rp 57,4 miliar, dan Rp 202,4 miliar.

Dari semua transaksi itu, PT Millenium Danatama menerima pembayaran dari Dana Pensiun Pertamina Rp 59,9 miliar. Maka total penerimaan PT Millenium dari transaksi SUGI sejumlah Rp 601,8 miliar.

Atas semua transaksi tersebut, jaksa menyatakan Helmi menerima imbalan dari Bety sebesar Sin$ 706.426 dan US$ 219.633 atau sekitar Rp 9,97 miliar. Helmi juga disebut meminta Bety memberikan saham SUGI dengan cara transfer efek sebanyak 68 ribu lembar atau setara dengan Rp 26,5 miliar. Karena harga yang telah direkayasa itu, kata jaksa, saham SUGI akhirnya ditangguhkan per 24 Agustus 2016 hingga Agustus 2017. Pada saat penangguhan, harga saham SUGI menjadi Rp 114 per lembar.

Jaksa menyebutkan uang Rp 601,8 miliar hasil dari transaksi penjualan saham SUGI yang diterima PT Millenium dipakai untuk menyelesaikan pembayaran kewajiban pinjaman/kredit dari Ortus Holdings Ltd. Edward Soeryadjaya dianggap turut serta menikmati bonus yang diterima Helmi. Walhasil, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung mengumumkan Edward sebagai tersangka pada Selasa pekan lalu.

Tuduhannya pelanggaran Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Ancaman pasal tersebut adalah hukuman 20 tahun penjara. "ESS (Edward Seky Soeryadjaya) juga dicegah bepergian ke luar negeri sejak Oktober tahun lalu saat masih berstatus saksi," ucap Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Warih Sadono.

Kuasa hukum Helmi, Wa Ode Nur Zainab, mengatakan jaksa salah sasaran. Menurut dia, Helmi bukan penyelenggara negara karena Dana Pensiun Pertamina bukan anak usaha PT Pertamina sehingga bukan bagian dari badan usaha milik negara. Hasil pengelolaan investasi pun, kata dia, tidak terkait dengan keuangan Pertamina. "Tidak ada uang negara yang dirugikan Pak Helmi," ujar Zainab.

Warih Sadono berkukuh ada kerugian negara sekitar Rp 599 miliar. "Itu berdasarkan perhitungan Badan Pemeriksa Keuangan," ujarnya.

Ihwal kewenangan pembelian saham, kata Zainab, berdasarkan ketentuan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun, pengelolaan dana pensiun dapat ditempatkan pada investasi saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Saham SUGI tercatat di BEI. Menurut Zainab, pada 2015, SUGI ada di peringkat ketiga dari 50 perusahaan aktif yang tercatat berdasarkan volume perdagangan.

Masalahnya, kata Zainab, investasi itu terganggu karena ekonomi kurang bagus pada 2015. Imbasnya indeks harga saham gabungan anjlok hampir 20 persen pada September 2015. Nilai portofolio saham Dana Pensiun Pertamina juga anjlok sekitar Rp 600 miliar. Otoritas Jasa Keuangan memanggil direksi Dana Pensiun Pertamina dan memberitahukan bahwa Dana Pensiun Pertamina harus melakukan restrukturisasi portofolio saham.

Saham-saham tersebut, menurut Zainab, dibeli sebelum zaman Helmi. Harga saham PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) anjlok negatif 74 persen, saham PT Indo Tambang Raya Megah Tbk (ITMG) anjlok negatif 84 persen, bahkan saham PT Perusahaan Gas Negara Persero Tbk anjlok -50 persen. Tim analis menemukan ada potensi kerugian dari selisih harga yang dibeli sebesar Rp 688,3 miliar menjadi tinggal Rp 541,8 miliar. Karena itu, direksi Dana Pensiun Pertamina menukarkan saham-saham yang merugi tersebut dengan SUGI Rp 708,1 miliar dengan potongan 25 persen.

Zainab mengatakan harga saham SUGI naik menjadi Rp 470 per lembar sehingga nilainya menjadi Rp 942,2 miliar pada 30 Desember 2015. Artinya, kata dia, Dana Pensiun Pertamina justru untung pada 2014-2015 karena nilai pasarnya naik Rp 300 miliar menjadi Rp 942,2 miliar.

Zainab juga menolak tuduhan jaksa bahwa Helmi main curang dengan Bety dan Edward Soeryadjaya ketika membeli saham SUGI. Menurut dia, Helmi tidak tahu uang untuk Bety dipakai Edward buat menutup tagihan Ortus. "Mungkin Bety dan Edward punya bisnis. Tapi itu bukan lagi urusan Pak Helmi sebagai pembeli," ujar Zainab.

Ia menantang Bety untuk membuktikan imbalan Rp 9,8 miliar kepada Helmi. "Kalau memang uang itu ada, dibuktikan saja," katanya. Bety tak menjawab ketika dimintai konfirmasi soal itu. Pengacaranya, Rhaditya Putra Perdana, mengatakan bahwa mereka belum bisa menjawab pertanyaan seputar tuduhan jaksa. "Kami hormati proses hukum," ujarnya.

Edward Soeryadjaya dan pengacaranya juga hanya membaca pesan konfirmasi tanpa menjawabnya. LINDA TRIANITA


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161821040229



Nasional 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.