Nasional 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jalur Beringin Merdeka Barat

Akil Mochtar ditengarai memainkan perkara sengketa pemilihan Gubernur Jawa Timur. Bernegosiasi sebelum ditangkap, ia menyeret petinggi Golkar.

i

NAMA mereka disebut terang-benderang dalam percakapan di BlackBerry Messenger Akil Mochtar ketika masih memimpin Mahkamah Konstitusi. Mereka dua politikus Partai Golkar, Idrus Marham dan Setya Novanto, serta pengusaha Nirwan Bakrie, adik Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie.

Percakapan melalui jaringan BlackBerry itu dilakukan Akil Mochtar dengan Zainudin Amali, politikus Beringin yang menduduki kursi Wakil Ketua Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat. Ketika percakapan dilakukan pada awal Oktober tahun lalu, Zainudin adalah Pelaksana Tugas Ketua Dewan Pengurus Daerah Golkar Jawa Timur.

Hari itu, Selasa, 1 Oktober 2013, Akil dan Zainudin bernegosiasi mengenai "tarif" mengurus sengketa pemilihan Gubernur Jawa Timur yang bergulir di Mahkamah Konstitusi. Dalam pembicaraan, Akil menyebutkan nama Idrus, Setya, dan Nirwan. Sehari setelah komunikasi itu, Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap Akil di rumah dinasnya, kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan. Ia dituduh menerima suap untuk pengurusan hasil sengketa pemilihan Bupati Gunung Mas, Kalimantan Tengah.


Pengacara Akil Mochtar, Adardam Achyar, mengakui ada percakapan kliennya dengan Zainudin perihal pengurusan perkara pemilihan Gubernur Jawa Timur. "Meskipun hal tersebut pernah ditanyakan kepada Pak Akil, saya tidak bisa mengomentarinya lebih jauh," katanya Kamis pekan lalu. "Tanya penyidik saja."

161832377346

Ketika itu sengketa pemilihan kepala daerah Jawa Timur sedang bergulir di Mahkamah Konstitusi. Dalam pemungut­an suara pada 29 Agustus 2013, pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf meraup 8.195.816 suara, atau 47,25 persen pemilih. Adapun duet Khofifah Indar Parawansa-Herman S. Sumawiredja dipilih 6.525.015 orang, setara dengan 37,62 persen. Merasa dicurangi, Khofifah-Herman menggugat hasil pemilihan.

Pendukung Soekarwo merapat ke Akil menggunakan jalur Golkar. Selain didukung Demokrat, Soekarwo-Saifullah berlaga disokong Golkar dan tujuh partai lain yang punya kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur. Sedangkan Khofifah-Herman disokong enam partai dengan Partai Kebangkitan Bangsa sebagai tulang punggung.

Dalam percakapan pada 1 Oktober itu, Akil bertanya kepada Zainudin, siapa yang bertugas mengurus perkara. Sebelum mengontak Zainudin, Akil mengaku ditelepon Sekretaris Jenderal Golkar Idrus Marham, yang juga ingin "membereskan" sengketa Jawa Timur. "Ini Jatim yang mengurus Idrus Marham atau Zainudin?" Akil mengirim pesan. Ketika diperiksa penyidik, menurut sejumlah sumber, Akil menjelaskan "mengurus" dalam percakapan itu adalah mengupayakan "bagaimana caranya agar perkara sengketa pilkada Jatim bisa menang, dengan cara menjanjikan sesuatu atau apa".

Zainudin tak keberatan bila Akil lebih suka berhubungan dengan Idrus. Tapi ia menyatakan bersedia menyampaikan permintaan baru Akil "ke pihak Jatim". Dijawab begitu, Akil kembali menggerutu bahwa pengurusan perkara di Jawa Timur itu tak jelas. Ia mengancam akan membatalkan kemenangan Soekarwo-Saifullah. "Suruh mereka siapkan Rp 10 M kalau mau selamat. Masak, saya ditawari uang kecil, enggak mau saya."

Obrolan mereka di BlackBerry semakin jauh. Akil mengungkapkan kekesalannya terhadap Idrus Marham. "Tipu-tipu saja sekjen kalian itu," ujarnya. Menurut Akil, dia mendengar dari sejumlah koleganya di Golkar bahwa Idrus memainkan nomor urut calon anggota legislatif. Akil tak mau berhubungan dengan Idrus, yang menurut dia ujuk-ujuk mengontaknya ketika ada urusan soal "Jatim".

Kepada Zainudin, Akil menceritakan pembicaraannya dengan Idrus Marham di telepon. Idrus, menurut Akil, mengatakan orang yang akan menanggung biaya pengurusan perkara pilkada Jawa Timur di Mahkamah Konstitusi adalah Setya Novanto dan Nirwan Bakrie. "Menurut sekjenmu, karena ada kepentingan bisnis di sana," kata Akil. Apa bisnis Setya dan Nirwan di Jawa Timur, tak ditanyakan Akil. Idrus pun tak menjelaskan.

Khusus Nirwan Bakrie, ia adalah pemimpin kelompok usaha Bakrie sejak Aburizal menjadi menteri pada kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode pertama hingga sekarang. Salah satu perusahaan Bakrie adalah PT Minarak Lapindo Jaya. Perseroan ini masih berutang Rp 680 miliar kepada korban semburan lumpur Lapindo. Sudah 10 bulan Minarak berhenti mengangsur pembayaran ganti rugi tersebut.

Nirwan Bakrie belum bisa dimintai konfirmasi. Ia belum merespons pesan pendek dan panggilan telepon Tempo.

Masih dalam percakapan di BlackBerry pada 1 Oktober itu, Akil kembali mengeluhkan polah Idrus Marham. "Sama aku kecil-kecil saja…. Memangnya aku anggota Fraksi Golkar?" Kepada penyidik, ia menjelaskan sering diberi duit puluhan juta rupiah oleh Idrus. Padahal Akil mendengar bahwa orang yang ia "bantu" sebenarnya merogoh dana hingga miliaran rupiah.

Zainudin berusaha menenangkan Akil. Ia mengatakan baru saja bertemu dengan Idrus dan Setya Novanto di ruangan Fraksi Golkar di DPR hari itu, sebelum mengobrol dengan Akil lewat BlackBerry Messenger. "Kata Idrus, nanti dia yang berurusan dengan Abang," ujar Zainudin.

Akil menggerutu soal Idrus sekali lagi. Zainudin menutup percakapan pada 1 Oktober itu dengan janji akan menghubungi Akil setelah ada respons atas permintaannya. "Besok akan saya komunikasikan dengan tim Jatim," katanya.

Kecuali Nirwan Bakrie, dua nama yang disebut dalam percakapan Akil dan Zainudin sudah diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi. Idrus Marham dimintai keterangan pada 31 Desember lalu, sedangkan Setya Novanto pada Selasa pekan lalu. Zainudin sendiri diperiksa pada 24 Desember.

Zainudin Amali tidak bisa dihubungi untuk dimintai konfirmasi. Didatangi ke rumahnya di Jakarta, penjaga rumah mengatakan Zainudin terbang ke Surabaya untuk mengurus Golkar Jawa Timur. Namun sejumlah orang di kantor Golkar Jawa Timur mengatakan Zainudin sedang berada di Jakarta.

Idrus Marham enggan menjelaskan pemeriksaannya di KPK. Idrus berdalih sedang umrah di Mekah. "Silakan ke Pak Novanto saja," kata Idrus saat dihubungi Wayan Agus Purnomo dari Tempo via telepon, Rabu pekan lalu. Ditanya mengenai apa yang ditanyakan penyidik, Idrus tetap tak mau menjawab.

Setelah diperiksa pada 31 Desember lalu, Idrus mengaku cuma ditanya investigator seputar proses penetapan pasangan calon kepala daerah di Golkar. "Proses pencalonan kepala daerah di Golkar itu tak ada biaya apa-apa. Hanya hal itu yang ditanyakan penyidik kepada saya," ujarnya.

Setya Novanto tak ada di tempat ketika didatangi ke rumahnya di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis dan Rabu pekan lalu. Dicegat setelah diperiksa KPK pada Selasa pekan lalu, Setya menyatakan dicecar mengenai sengketa pemilihan kepala daerah. Ia tak menjelaskan daerah yang dimaksud.

Ia juga mengatakan penyidik bertanya mengenai prosedur pemilihan kepala daerah yang diusung oleh Golkar. Pencalonan kepala daerah, kata Setya, dipilih setelah melalui proses survei. "Masalah sistem saja. Untuk pencalonan di Golkar, kami hanya mengurus pembiayaan survei. Tidak ada lain-lain," katanya.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan tak mengetahui ada upaya untuk mempengaruhi hasil sengketa pemilihan kepala daerah Jawa Timur, yang kabarnya dibiayai oleh Setya Novanto dan Nirwan Bakrie. "Apa hubungannya Nirwan dan Setya membiayai sengketa saya?" kata Soekarwo.

Setahu dia, bisnis Bakrie di Jawa Timur hanya Lapindo dan perumahan. Soekarwo menyatakan menolak permohonan Lapindo untuk mengebor lagi, karena ganti rugi belum dilunasi. "Justru saya yang menentang."

Meski begitu, Gubernur Soekarwo mengatakan bertemu dengan Zainudin di kantor perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Jalan Pasuruan, Jakarta Pusat, sekitar pukul 11.00. Menurut dia, Zainudin mengatakan ada persoalan di Mahkamah Konstitusi. "Dia menyampaikan situasinya berat sekali," kata Soekarwo.

Soekarwo mengaku tak menanggapi ucapan Zainudin lebih jauh. Ia meyakinkan Zainudin tidak ada fakta ataupun data yang memberatkannya. Sebab, selisih suara pilkada Jawa Timur 1,7 juta suara. Soekarwo mengatakan tak pernah dimintai uang oleh Zainudin.

* * *

ZAINUDIN menepati janjinya kepada Akil. Keesokan harinya, 2 Oktober 2013, ia mengontak mantan politikus Golkar itu. "Alhamdulillah, positif," katanya. "Kapan bisa kopi darat?"

Akil meminta Zainudin mengantarkan uang secepatnya. "Eksekusi langsung," ujarnya. Walau begitu, ia meminta Zainudin menunggu aba-aba dari dia sebelum mengantarkan besel. "Nanti malam saya ke Wican," kata Zainudin. Wican kepen­dekan dari Widya Chandra, kompleks rumah dinas pejabat teras, tempat tinggal Akil.

Hari itu Akil bersidang hingga hari gelap. Sidang penutup hari itu adalah perselisihan kepala daerah Jawa Timur. Agendanya, mendengarkan keterangan saksi ahli. Ini sidang terakhir sebelum Mahkamah Konstitusi membacakan putusan pada 7 Oktober-yang menolak gugatan tim Khofifah. Selepas itu, ia mampir ke ruangan wartawan, mengobrol ngalor-ngidul hingga pukul 20.30.

Dari gedung Mahkamah di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Akil pulang ke rumahnya. Malam itu rupanya ia juga "janjian" dengan Chairun Nisa, anggota DPR dari Golkar. Chairun Nisa menjadi perantara suap Bupati Gunung Mas Hambit Bintih. Hari itu kasus Gunung Mas disidangkan tepat sebelum perkara Jawa Timur. Ini juga sidang terakhir sebelum pembacaan pu­tusan pada 9 Oktober.

Pada hari yang sama, Akil berkomunikasi dengan pengacara Susi Tur Andayani, yang mengurus sengketa kepala daerah Lebak, Banten. Sehari sebelumnya, hakim memerintahkan pemungutan suara ulang. Putusan ini berarti mengabulkan permohonan pasangan Amir Hamzah-Kasmin yang diwakili Susi. Akil dan Susi berencana bertemu malam itu. Pertemuan dibatalkan, Susi berangkat ke Lebak menemui kliennya.

Akhirnya, hanya Chairun Nisa yang pasti bertamu malam itu. Tanpa mereka ketahui, aktivitas tersebut masuk radar KPK. Komisi antikorupsi itu menurunkan empat tim sekaligus-terbanyak dalam sekali operasi tangkap tangan. Dua untuk Gunung Mas, dua buat Lebak. Tim Gunung Mas memantau Chairun Nisa dan Hambit Bintih. Tim Lebak mengintai Susi Tur Andayani dan Tubagus Chaeri Wardana, yang mendanai suap Lebak.

Adapun aktivitas Zainudin Amali dan rombongan Jawa Timur tak terawasi. Rencana penyerahan uang dari Zainudin di luar dugaan petugas KPK. Penyidik baru mengetahuinya belakangan, setelah membongkar BlackBerry Akil Mochtar. Itu sebabnya Zainudin Amali, Idrus Marham, dan Setya Novanto diperiksa berturut-turut.

Malam itu Akil akhirnya memberikan aba-aba kepada Zainudin. "Din, di mana?"

+ "Di Menteng, Bang. Standby."

- Bisa ketemu saya sekarang di rumah? Darurat. Kalau enggak diulang nih Jatim.

+ Baik, Bang. Segera saya ke sana.

Di Widya Chandra, petugas KPK bergerak "terlampau cepat". Begitu Chairun Nisa tiba sekitar pukul 22.00, ia langsung diringkus bersama Akil. Mengetahui Akil sudah digari, Zainudin putar haluan dengan membawa kembali "oleh-oleh" buat tuan rumah.

Anton Septian, Bunga Manggiasih, Muhammad Rizki (Jakarta), Edwin Fajerial, Agita Sukma Listyanti (Surabaya)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161832377346



Nasional 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.