Sastrawan Kesayangan Tuhan - Memoar - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Memoar 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Sastrawan Kesayangan Tuhan

Dikaruniai usia panjang, Ali Audah dijuluki oleh penulis Gerson Poyk sebagai "Sastrawan Kesayangan Tuhan". Gerson mengucapkan itu dalam acara Perayaan 90 Tahun Ali Audah sekaligus peluncuran buku 90 Tahun Ali Audah: Yang Berjalan Menyalakan Cahaya: Legenda Zaman Kita di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan, pada 14 Agustus lalu, tepat sebulan setelah Ali berulang tahun ke-90.

Tak ada gelar akademis yang bersanding dengan nama Ali. Sastrawan, kolumnis, dan penerjemah ini mengenyam pendidikan formal hanya sampai kelas I madrasah ibtidaiyah. Berkat ketekunan yang luar biasa, Ali berkembang menjadi penulis andal, bahkan menjadi dosen luar biasa. Ia menguasai empat bahasa asing: Arab, Inggris, Prancis, dan Jerman. Semua dipelajarinya secara otodidak. Sepanjang hidupnya, Ali telah menerjemahkan tafsir Quran, biografi Nabi Muhammad, dan karya-karya sastra kelas dunia. Kualitas terjemahan Ali membuat dia menjadi panutan tokoh-tokoh sastra Tanah Air. Berikut ini penuturan Ali Audah tentang riwayat hidupnya kepada Tempo.

i

Ada yang berbeda di rumah baru sastrawan dan penerjemah terkemuka Ali Audah di Perumahan Bogor Baru, Kota Bogor, Jawa Barat. Dinding-dindingnya yang bercat putih bersih bisa terlihat jelas. "Di rumah yang dulu, dindingnya tak terlihat karena tertutup buku," kata Ali ketika ditemui Tempo, Senin awal Agustus lalu. Di rumah asri itulah Ali tinggal bersama istrinya, Maryam Audah, 78 tahun, yang dinikahinya pada 1952. "Kami baru dua bulan tinggal di sini," ujar Ali.

Pada usia yang hampir seabad itu, Ali masih leluasa berjalan ke sana-kemari tanpa tongkat. Tiga kali sepekan, Selasa, Kamis, dan Sabtu, ia menyempatkan diri berjalan kaki keliling kompleks selama 40 menit untuk membuatnya tetap bugar. Kesehatan ia jaga dengan cara sederhana: banyak makan buah dan sayur. "WHO merekomendasikan makan sayur dan buah 180 gram, saya 350 gram," katanya bangga. Walhasil, ia tak perlu tongkat untuk membantunya berjalan. Asalkan tak ada tangga, Ali bisa berjalan meski perlahan-lahan.

Persoalan tangga itulah yang membuat Ali pindah ke rumah baru. Di rumah lama, yang terletak sekitar 200 meter dari rumahnya kini, ruang kerja Ali terletak di loteng. Untuk ke sana, ia harus menaiki banyak anak tangga. "Dulu masih bisa, sekarang sudah agak sulit," ujar Ali. Selain persoalan tangga, fisik Ali baik-baik saja. Bicaranya lantang. Pendengarannya baik. Bahkan wajahnya masih kinclong. "Banyak orang yang mengira usia saya 70 atau 80 tahun," katanya. Penulis Gerson Poyk menyebutnya "Sastrawan Kesayangan Tuhan" karena umurnya yang amat panjang.


Tempo menemui Ali dalam empat kesempatan sepanjang Juli-Agustus 2014. Tiga kali di rumahnya dan pertemuan terakhir terjadi di Komunitas Salihara, ketika sastrawan dan penulis sahabat-sahabatnya, Leon Agusta, Gerson Poyk, Sapardi Djoko Damono, Toeti Heraty, Benny H. Hoed, Taufik Abdullah, Ahmad Syafii Maarif, Rahayu Surtiati Hidayat, Remy Sylado, Goenawan Mohamad, dan lain-lain, berkumpul merayakan ulang tahunnya yang ke-90.

"Saya sudah 30 tahun tidak berjumpa dengan Goenawan Mohamad," ujarnya. Dia bercerita bagaimana Goenawan tatkala berumur 22 tahun bersama Taufiq Ismail membantu penerjemahan karya pemikir Pakistan, Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Goenawan sampai berminggu-minggu harus tinggal kos di Bogor. "Pemikiran Iqbal sangat mempengaruhi orientasi keagamaan saya," ia mengungkapkan.

Di kalangan penulis, Ali dikenal sebagai pribadi bersahaja yang tak suka menyanjung diri. Ali mengaku tak pandai membuat catatan tentang pribadinya. Satu otobiografi singkat pernah ia tulis untuk Balai Pustaka pada 1962. Otobiografi sebanyak lima lembar ketikan itu tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta. Berikut ini cerita hidup sastrawan yang menerjemahkan tafsir Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur'an, setebal 1.862 halaman; biografi Muhammad karya Husain Haikal, yang dicetak ulang puluhan kali; dan Konkordansi Quran (879 halaman) itu.

n n n

Saya dilahirkan pada 14 Juli 1924 di Bondowoso, sebuah kota kecil yang dilingkungi Pegunungan Argapura di Jawa Timur. Ayah saya, Salim Audah, pedagang kecil yang lebih banyak menggunakan waktunya untuk membaca. Terkadang ia juga mengarang dan menggubah syair. Ia juga kerap menjadi khatib di masjid besar Kota Bondowoso. Saya anak bungsu dari lima bersaudara. Ayah meninggal ketika usia saya tujuh tahun. Jadilah ibu saya, Aisyah Djubran, yang membesarkan kami. Ia banting tulang dengan membuka usaha menyewakan delman, juga membuka warung makan.

Saat berumur enam tahun, saya masuk madrasah ibtidaiyah di Jalan Imam Bonjol. Tanpa diketahui sebabnya, sekolah sama sekali tidak menarik hati saya. Karena itu, saya sering membolos hanya untuk main koboi-koboian di sawah, bermain layangan, atau main gundu. Yang membuat saya benar-benar berhenti dari sekolah adalah pengalaman buruk dengan teman di sekolah. Ketika itu, saya baru duduk di kelas II. Ada murid lebih tua yang selalu mengganggu saya. Anak ini bodoh karena tiga tahun tidak naik kelas. Sering sekali dia menggetok kepala saya.

Pada mulanya saya tidak berani membalas karena badannya lebih besar. Lambat-laun, karena perbuatannya melewati batas, akhirnya saya balas juga. Saya tinju mulutnya hingga berdarah. Saya dipanggil guru kepala yang kebetulan adalah kerabat orang tuanya. Saya disetrap, dikerangkeng di ruang penyimpanan tandur (alat musik). Tapi kami, murid-murid, sudah tahu celah kabur dari ruang itu. Tinggal membuka genting, lalu loncat dari sana. Setelah peristiwa itu, saya tidak pernah ke sekolah lagi. Saya merasa trauma.

Tidak bersekolah, kerja saya hanya bermain sepuasnya dan mencari jangkrik hingga larut malam. Saya juga sering bermain di kali. Saya lebih suka mandi di kali daripada di kamar mandi, sampai ibu saya heran dan bertanya. Satu-dua tahun berlalu, saya menyadari perlu juga bersekolah. Tapi saya tidak mau kembali ke sekolah itu. Saya belum bisa baca, tidak tahu huruf Latin. Jadi, sambil bermain gundu, saya belajar membaca dan menulis dari kemenakan. Saya mencoret-coret huruf di tanah. Tapi tekad saya untuk belajar sangat kuat, sampai saya bisa membaca dan menulis huruf Latin.

Saya mulai bisa menikmati bahasa Indonesia yang indah melalui buku-buku cerita yang dipinjamkan kawan. Mulailah saya memperhatikan bahasa secara sungguh-sungguh. Buku apa saja saya baca, asalkan indah bahasanya. Kebanyakan merupakan terbitan Balai Pustaka. Betapa saya mengagumi pengarang seperti Nur Sutan Iskandar, Abdul Muis, Marah Rusli, hingga Sutan Takdir Alisjahbana. Selain bekerja sebagai buruh, saya terus belajar sendiri.

Saya kemudian mengambil kursus tertulis dari lembaga Soember Pengetahoean di Bandung. Bahasa Inggris saya pelajari secara otodidak dari bahan bacaan. Dulu saya juga bisa berbahasa Prancis dan Jerman, sekarang sudah agak lupa karena jarang menggunakannya. Saya juga mengambil kursus mengetik secara tertulis karena saya sudah berfokus untuk menulis.

Saya termotivasi untuk menulis karena memiliki sifat introvert. Saya sulit berbicara dengan orang, sehingga berbicara di hati saja. Kalau ada apa-apa, saya tulis. Sebelumnya, saya menyukai seni lukis. Melalui lukisan, saya mencoba menyatakan perasaan yang mengendap dalam jiwa, tentang kehijauan sawah dan ladang, keindahan alam sekitar kota kelahiran, atau suasana desa sekitar pegunungan Priangan yang menjadi tempat tinggal saya. Tapi kegemaran melukis itu akhirnya terkalahkan oleh kesusastraan.

Saya lalu mencoba membuat cerita pendek dan mengirimkannya ke sebuah majalah yang terbit di Jakarta. Kiriman itu tidak dibalas, tidak dimuat, juga tidak dikembalikan. Demikian juga karangan-karangan berikutnya, hilang tak berbekas. Tapi saya terus melatih diri. Saya membaca dan mengarang lebih baik lagi. Pada 1946, di Jawa Timur diadakan perlombaan mengarang sandiwara. Saya pun ikut. Tidak disangka-sangka, saya berhasil mendapat hadiah. Lalu saya mulai menulis sajak.

Sajak pertama saya muncul di majalah Sastrawan yang terbit di Malang. Majalah itu cukup berkelas pada zamannya. Saya tak ingat lagi puisi itu karena saya tidak pernah membuat catatan pribadi, apalagi mengumpulkan tulisan yang pernah saya bikin. Ketimbang membuat puisi, saya lebih banyak menulis cerita pendek. Setelah menulis cerpen, saya meninggalkan puisi. Saya tertarik pada cerpen dan kemudian novel karena rajin membaca terbitan Balai Pustaka. Hampir semua terbitannya saya baca. Kebanyakan penulisnya dari Sumatera Barat. Saya berbesar hati karena tulisan saya di muat di majalah-majalah yang terbilang berbobot masa itu, seperti majalah Sastra, Kisah, dan Mimbar Indonesia. Semuanya dipegang H.B. Jassin sebagai redaktur sastra.

n n n

Usaha mencari kerja selalu berujung buntu karena terbentur masalah ijazah. Apalagi ketika ia sakit jantung dan paru-paru pada 1953. Praktis Ali bergantung pada honor tulisan sebagai sumber nafkah. Dari Surabaya, ia pindah ke Bogor. Ia mengirim tulisan ke hampir semua media yang ada di Jakarta. Lambat-laun, namanya dikenal dan kualitas tulisannya diakui. Pergaulannya pun semakin luas.

Pada kurun 1960-1980, Ali banyak disibukkan oleh kegiatan lain di luar menulis. Pada 1971, ia diangkat sebagai dosen humaniora di Institut Pertanian Bogor. Di sana, ia mengajar selama 20 tahun, sampai mengajukan permohonan berhenti karena sebagai dosen luar biasa tidak bisa pensiun. Pada tahun yang sama, ia didapuk menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta, jabatan yang diampunya selama 10 tahun. Pada masa itu juga Ali terlibat mendirikan Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, dan menjadi pembantu rektor di sana.

Pada 1974, Ali diangkat secara aklamasi menjadi Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia. Ia menjabat ketua selama dua periode. Di perhimpunan itu, ia bahkan membawahkan kritikus sastra H.B. Jassin. "Bayangkan, Pak Ali yang tidak tamat SD menjadi ketua bagi penulis-penulis ternama yang rata-rata sarjana," kata mantan Ketua Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Oyon Sofyan, yang menjadi ketua panitia buku 90 Tahun Ali Audah: Yang Berjalan Menyalakan Cahaya: Legenda Zaman Kita. Terjemahan-terjemahan Ali memang diakui semua kalangan. Menurut Taufik Abdullah, bahasa Indonesia yang digunakan Ali sangat bagus.

n n n

Menjadi penulis lepas, saya mengirim tulisan ke semua koran yang terbit di Jakarta, di antaranya Harian Kami, Kompas, Pedoman, Sinar Harapan, Suara Karya, dan Indonesia Raya. Saya mengirim tulisan mulai 1950-an hingga 2000-an. Baru empat tahun belakangan saya berhenti mengirim. Setiap akhir pekan, kerja saya menunggu kiriman wesel. Begitu menerima wesel, saya ke kantor pos untuk menguangkannya. Honor waktu itu saya kira nilainya sama seperti sekarang, tapi kebanyakan habis untuk beli buku.

Walau saya sudah jungkir-balik mengirim tulisan ke mana-mana, uang untuk hidup tak pernah cukup. Melamar pekerjaan sudah kapok. Syukurlah, pada 1961, penerbit Tintamas datang melamar saya agar bekerja di sana. Rupanya, Direktur Utama Tintamas pada saat itu, M. Zen Djambek, suka membaca tulisan-tulisan saya di koran. Saya ditawari bekerja di sana, dan saya terima. Awalnya saya bekerja menjadi asisten, seterusnya diangkat menjadi direktur.

Tintamas adalah penerbit yang mencetak buku impor dari macam-macam negara. Ada yang dari Inggris, Libanon, Pakistan, dan lain-lain. Sebagai direktur, sayalah yang menentukan buku-buku mana yang patut diimpor. Saya bekerja cukup lama di sana, kurang-lebih 20 tahun. Kesibukan menjadi direktur terkadang menyita waktu menulis. Akhirnya, pekerjaan itu saya tinggalkan dan saya kembali menulis.

Pada saat saya menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, kami sempat mengundang Sjafruddin Prawiranegara sebagai pembicara dalam sebuah diskusi. Dalam diskusi itu, terjadi perdebatan sengit antara Menteri Luar Negeri Adam Malik dan Sjafruddin. Itu terjadi karena Sjafruddin tidak mau kalah. Saya agak bingung bagaimana menghentikannya.

Saya dianggap bertanggung jawab atas terjadinya konflik itu. Akibatnya, saya dilarang ke luar negeri. Walhasil, gara-gara itu, saya batal menghadiri pertemuan internasional memperingati Muhammad Iqbal di Universitas Punjab, Pakistan. Sewaktu pemerintah mengundang para seniman ke Istana Bogor, saya datang, dan soal pelarangan itu dipertanyakan Ramadhan K.H. Adam ternyata tidak tahu. Ada yang mengatasnamakan dia.

n n n

Meski dikenal bergelut dengan dunia keislaman dan keturunan Arab, tidak serta-merta dalam menerjemahkan Ali Audah suka memakai kata-kata kearab-araban. Ia selalu berusaha keras mencari padanannya dalam bahasa Indonesia. Suatu kali, misalnya, ia diminta tolong memberi nama sebuah masjid di Bogor. Dia lalu memberi nama masjid tersebut Masjid Bogor Selatan. Itu membuat heran para pengurus masjid, yang menginginkan nama masjid mereka berbau Arab. "Mereka bertanya, 'Kok, tak ada Al-nya?' Saya bilang Al-Bogor Selatan saja." Penyair Sapardi Djoko Damono ingat Ali malah memperingatkan agar pengeras suara di masjid itu jangan disetel kencang-kencang, karena bisa mengganggu.

n n n

Sehari-hari saya "berkantor" di rumah, menulis dan membaca di kamar kerja saya di lantai atas, mulai pukul 09.00 hingga 21.00. Kadang kalau sudah asyik menulis, saya sudah tidak pakai jam lagi, sampai dokter menasihati saya. Awalnya, saya memakai mesin ketik untuk membuat tulisan. Adalah Andi Hakim Nasution (1932-2002) yang mengajari saya menggunakan komputer. Dia teman dekat saya. Kalau jalan pagi, kami selalu sama-sama. Kalau datang ke rumah, dia langsung saja ke kamar kerja saya.

Andi Hakim bertanya mengapa saya masih memakai mesin ketik, tidak memakai komputer saja. Dalam bayangan saya, komputer itu sebesar ruangan. Dia katakan komputer pribadi juga ada yang sebesar mesin ketik itu. Hari itu juga dia menelepon toko komputer langganannya agar mengantar komputer ke rumah saya. Dia juga yang mengajarkan cara mengoperasikannya. Sekarang saya sudah tidak bisa memakai mesin ketik lagi. Pak Andi Hakim benar, komputer itu banyak membantu.

Saya pertama kali bertemu dengan Andi Hakim di Institut Pertanian Bogor. Saya kenal dia dari foto. Dia juga kenal saya dari foto di surat kabar dia. Lalu kami kenal dan lengket. Pindah ke sini kok jadi tetangga. Konkordansi Quran: Panduan Kata dalam Mencari Ayat Quran (1991) itu juga diinspirasi Pak Andi Hakim, hasil obrolan kami sewaktu jalan pagi.

Beliau mengeluh kesulitan kalau mau mencari ayat Al-Quran. Saya katakan ada buku dalam bahasa Arab, lalu dia beli, tapi dia tetap tidak mengerti karena susunan bahasa Arab tidak sama dengan bahasa Latin. Contohnya, kata taqwa yang paling banyak di Al-Quran itu dalam bahasa Arab letaknya bukan di huruf T, melainkan di W, karena kata dasarnya berawalan W. Ternyata buku ini banyak menolong, sampai-sampai Pak Andi membuat kata pengantarnya.

n n n

Rumah di Bogor Baru Blok C-III-5 itu menjadi kediaman dan tempat kerja Ali setelah kepindahannya dari Jalan Lolongok di kawasan Empang, Bogor Selatan. Sejak 16 Juli 2014, Ali pindah dua blok dari rumah lama tersebut.

Buku-bukunya di dalam rumah baru masih terikat dalam tumpukan-tumpukan yang berserak di salah satu kamarnya. "Sedang saya pilah-pilah. Sebagian akan saya serahkan ke Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin," katanya. Pada usianya yang 90 tahun ini pun ia masih berhasrat menerbitkan buku lagi. Judul buku barunya adalah Menapak tanpa Tongkat. "Apa isinya?" "Teka-teki," jawabnya.

Ananda Badudu, Dody Hidayat

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-10-22 07:00:14


Memoar 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB