Luar Negeri 3/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Cara kopassandha membebaskan woyla

Rahasia keberhasilan operasi pembebasan pesawat dc-9 garuda woyla oleh satuan khusus antiteroris kopassandha yang dipimpin letkol sintong panjaitan. (ln)

i
28 Maret, 1981. Kabar yang tidak mengenakkan sampai ke telinga Menhankam/Pangab Jenderal M. Jusuf: pesawat DC-9 Garuda Woyla dibajak. Pelakunya: lima orang, berusia 30 tahunan, dan bersenjata. Motif mereka, kala itu, belum jelas benar. Yang jelas, mereka menuntut pembebasan 80 orang tahanan politik, disediakan uang kontan US$ 1,5 juta, minta agar orang Israel dikeluarkan dari Indonesia, dan terakhir menuntut agar Adam Malik dicopot sebagai wapres, karena dia, tuduh mereka, "koruptor besar". Segera saja Jusuf, yang tengah memimpin Rapim ABRI di Ambon, memerintah-kan Asisten Inteligen Hankam Letjen Benny Moerdani (kini jenderal dan menjabat Pangab) untuk segera ke Jakarta "menyelesaikan masalah" dengan mandat penuh. Dalam perjalanan ke Jakarta siang itu juga, Benny memerintahkan satuan khusus antiteroris Kopassandha (sekarang Kopassus) berkumpul. Dari pangkalan mereka di Cijantung, Jakarta, satuan yang belum lama dibentuk itu langsung dibawa ke hanggar Garuda di lapangan udara Kemayoran. Di sana telah menunggu pesawat DC-9, sejenis dengan pesawat yang dibajak oleh Mahrizal, Sofian, Zulfikar, Abdullah, dan Werdi. Di tempat itulah pasukan yang dipimpin Letkol Sintong Panjaitan (kini: brigjen dan menjabat Danjen Kopassus) selama satu malam menyiasati operasi pembebasan 48 penumpang pesawat itu. Setelah perintah menuju sasaran dikeluarkan, mereka lantas diterbangkan dengan pesawat DC-10 ke Bangkok, tempat pesawat tertahan. Pemerintah Muangthai memang mengizinkan mereka mendarat, tapi tetap bersikeras agar pasukan khusus Muangthai yang beraksi. Dengan serangkaian perundingan yang cukup alot, mereka akhirnya bisa diyakinkan untuk membolehkan pasukan Sintong yang beraksi, sementara pasukan khusus tuan rumah bertindak sebagai pagar pengaman di luar pesawat. 30 Maret, pukul 02.45. Pasukan Sintong berjalan dua-dua dari arah ekor pesawat. Mereka mengambil posisi menguasai semua pintu ke luar maupun pintu darurat. Dari seorang penumpang yang berhasil melarikan diri, mereka berhasil mendapat petunjuk tempat para pembajak berdiri. Kemudian dengan alat bantu dengar, yang ditempelkan di tubuh pesawat, mereka bisa memperkirakan posisi terakhir para pembajak. Sementara itu, pasukan khusus Muangthai sudah mengepung pesawat. Secara bersamaan, pasukan Sintong membuka pintu pesawat dalam waktu 43 detik. Tanpa menunggu komando lagi, mereka menghambur masuk sambil berteriak menyuruh penumpang tiarap. Mereka, yang hanya punya waktu sepintas untuk membedakan penumpang dan pembajak, berhasil menembak orang yang tepat. Padahal, ciri para pembajak hanya mereka ketahui beberapa jam sebelumnya. Tiga menit kemudian penyerbuan itu berakhir: tiga teroris mati seketika, seorang sekarat, seorang lainnya luka berat - belakangan mati semua. Sedangkan Kopassandha dan Garuda terpaksa merelakan kepergian Capa Ahmad Kirang dan pilot DC-9 Woyla Herman Rante. Apa kunci keberhasilan mereka? "Kuncinya adalah pendadakan," kata seorang anggota pasukan penyerbu Woyla kepada Eko Yuswanto dari TEMPO, awal pekan ini. Buatnya, negosiasi dengan para pembajak "itu nomor dua".

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162052784488



Luar Negeri 3/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.