Dari Babi Ngepet hingga Jelangkung - Layar - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Layar 7/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dari Babi Ngepet hingga Jelangkung

Penonton Indonesia tengah keranjingan film (layar lebar dan televisi) yang berbau misteri, klenik,dan horor yang menggelikan. Dari sukses film layar lebar Jelangkung hingga serombongan "kisah misteri" yang kini tengah menjamur di semua televisi. Film misteri dan horor di Indonesia punya ujung sejarah pada tahun 1930-an dengan nama The Teng Cun, yang memproduksi Doea Siloeman Oeler Poeti en Item. Selanjutnya peranakan Tionghoa kelahiran Betawi ini menyutradarai Siloeman Babi Perang Siloeman Monjet (1935), Anaknja Siloeman Oeler Poeti (1936), Lima Siloeman Tikoes (1936), dan belakangan memproduksi Tengkorak Hidoep (1941). Apa bedanya dengan film horor tahun 1970-an yang melahirkan nama Suzanna sebagai Ratu Horor? Apa bedanya dengan film horor tahun 1990-an yang cenderung identik dengan adegan seks? Ikuti pula wawancara eksklusif TEMPO dengan aktris reklusif dan enigmatis Suzanna.


i

Di sebuah malam, seorang kusir kereta mengangkut sebuah peti mati di atas jalanan yang bergerunjal. Peti dan tubuh terguncang. Tak tertahankan, peti pun menggelinding jatuh. Kuda berhenti. Sang kusir turun. Saat peti terbuka, dia terperangah. Dia melihat jenazah dirinya terbujur di situ.

Inilah potongan dahsyat film Seventh Seal karya Ingmar Bergman. Agaknya adegan ini kemudian terpatri di benak H. Mardali Syarief, 60 tahun, sutradara film Peti Mati yang tengah beredar di jaringan bioskop Jakarta. Dengan nada bangga, sutradara yang pernah top karena film Misteri Ronggeng Jaipong (1981) itu menghunus sebatang rokok di kantornya di Star Vision. Sembari mengepulkan asap, mengenakan peci putih, dia bersemangat berkisah bagaimana dia "terpengaruh" oleh sutradara besar itu.

"Saya memang terpengaruh film Ingmar Bergman," katanya mantap. Ahem. Begini adegan Peti Mati yang "terpengaruh" Bergman itu:


Seorang tauke merangkul seorang hostes. Tiba-tiba terjadilah sebuah keributan di pintu night club. Seorang pembuat peti mati nyelonong masuk dan tanpa angin dan hujan membentak para tamu night club dengan garang, "Ini peti mati!" Para om dan tante menjerit. Tauke bernama Kiat Jin itu maju. Tapi, begitu sang tauke melongok isi peti mati hitam itu, wajahnya memucat. Ia melihat jasadnya sendiri berbaring.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjggMjE6MTE6MjYiXQ

Iya deh, kalau mengaku "terpengaruh" Bergman, boleh saja. Tetapi penonton juga boleh dong merasa bingung dengan keinginan film ini. Misalnya, sepanjang 90 menit kita disuguhi banyak adegan peti mati bergerak-gerak sendiri tanpa juntrungan. Belum lagi musik yang eng-ing-eng tak berkesudahan yang, alih-alih membuat kita ngeri, malahan jadi bikin geli. Toh, film ini mengingatkan dua hal. Pertama, film horor di negeri ini sudah setua sejarah film itu sendiri. Kedua, awal film horor Indonesia memang banyak melibatkan legenda Cina. Dan jika Anda mulai muak atau bingung melihat film atau "kisah misteri" yang kini tengah digandrungi anak-anak Anda, baik yang ditayangkan di televisi maupun layar lebar, itu semua memiliki ujung-pangkalnya di dalam sejarah panjang perfilman Indonesia.

Pada tahun 1934, adalah The Teng Cun yang memproduksi Doea Siloeman Oeler Poeti en Item. Selanjutnya, peranakan Tionghoa kelahiran Betawi ini menyutradarai Siloeman Babi Perang Siloeman Monjet (1935), Anaknya Siloeman Oeler Poeti(1936), Lima Siloeman Tikoes(1936), dan belakangan memproduksi Tengkorak Hidoep (1941).

Dari sekian itu, hanya film Siloeman Babi dan Tengkorak Hidoep yang hingga kini masih tersimpan di Sinematek, Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta. Siloeman Babi tidak bisa diputar lagi lantaran reel-nya sudah lengket akibat kurang perawatan.

Film Tengkorak Hidoep masih lumayan utuh dan agaknya terpengaruh film Tarzan dengan bintangnya yang saat itu tengah populer: Johnny Weismuler. Ini film yang mengisahkan sebuah ekspedisi ke satu pulau berpenghuni suku liar yang tetuanya bisa menjelma jadi jerangkong. Menurut catatan Sinematek, film ini tergolong laris.

Horor—seperti juga komedi—selalu mengalami pasang-surut. Yang jelas, mereka tak pernah mati. Bahkan kedua genre itu bisa menjadi ramuan laris macam film Arwah Komersil (1977) karya sutradara Muchlis Raya, yang skenarionya ditulis oleh Syuman Djaya. "Kalau toh turun, film horor tak pernah jeblok habis. Berbeda dengan drama rumah tangga. Kalau lagi turun, sepi, bisa nol beneran," tutur Ferry Angriawan dari PT Virgo Putra film yang pernah memproduksi berbagai film, di antaranya Perjanjian Terlarang(1990) dan Wanita Jelmaan, Nyupang (1991).

Sesungguhnya horor dalam film Indonesia tidak identik dengan genre film horor dari Hollywood. Film horor Indonesia lebih lazim identik dengan film klenik atau misteri. Menurut buku Indonesian Cinema: National Culture on Screen karya Karl G. Heider, profesor antropologi dari Universitas Harvard, film Indonesia tak sepenuhnya imitasi film horor Hollywood. Ada sesuatu yang khas di dalam ekspresi film horor Indonesia. Teoretisi film Siegfried Kracauer menyatakan, mentalitas orang Jerman bisa dibaca melalui film-film Jerman. Karena itu, Heider juga percaya mentalitas orang Indonesia dapat dibaca dari kecenderungan klenik dalam film-film misteri Indonesia.

Boleh jadi itu benar. Bahkan bukan rahasia lagi, kalangan perfilman horor sebelum memproduksi film lazimnya menyajikan sesajen tertentu. Mereka yang menggarap tema Nyi Loro Kidul, misalnya, merasa wajib sowan minta izin ke Samudra Beach Hotel kamar 308 Pelabuhan Ratu. Ada lagi. Mengapa gerangan aktris Suzanna tetap dianggap paling pas menjiwai sosok Nyi Blorong? Itu karena para produser film percaya, Suzanna sehari-hari rajin melakoni mistik Kejawen. "Perhatikan, ke mana-mana Suzanna mengenakan untaian melati," demikian seorang artis misteri yang tak mau disebut namanya berbisik pada TEMPO.

Yang juga menarik dalam horor kita adalah bagaimana seksualitas diumbar hingga batas norak. Tahun 1970-1980-an, seks dalam film misteri masih menjadi bumbu. Tapi, memasuki era 1990-an, seks menjadi menu utama. Perselingkuhan, tante girang, pemerkosaan, dan promiskuitas melahirkan genre horor-seks. Itu diakui oleh Lela Anggraeni, pemain film Skandal Iblis yang hot itu, yang mencapai puncak film terlaris di Jakarta ketiga di tahun 1993 merangkul 216.183 penonton. "Saya memang cocok bila memerankan wanita yang haus seks," kata Lela, tertawa. Menurut dia, gara-gara film Selir Sriti I, II, III berhasil menjadi film yang laris manis dan dengan honor setiap film sebesar Rp 12 juta, ia langsung bisa membeli tanah.

Tema klenik inilah yang selalu menarik perhatian dari masa ke masa. Tema jaelangkung sebetulnya bukan tema yang orisinal milik Rizal Mantovani dan Jose Purnomo. Nun di tahun 1975 dulu, ternyata sudah ada film bertema jelangkung, yaitu Penghuni Bangunan Tua karya M. Shariefudin.

Sekuel paling banyak tentu saja adalah tema Nyi Loro Kidul, mulai Perkawinan Nyi Blorong sampai setan dari khazanah setan Jawa seperti pocong, kuntilanak, hingga sundel bolong kerap muncul. Hari-hari keramat juga tampil sebagai tema populer, misalnya Malam Jumat Kliwon dan Malam Satu Suro. Masyarakat penonton film horor ibarat menonton wayang; mereka hanya akan meyakini atau terhibur oleh sesuatu yang telah mereka dengar sebelumnya.

Pilihan setting film horor tahun 1970-an lazimnya di pedesaan. Film Setan Kuburan (1975) karya sutradara Daeng Harris, misalnya, berkisah tentang seorang rentenir di desa yang mati. Lalu, gara-gara pocongnya dilompati kucing hitam, sang arwah gentayangan, menagih mereka yang belum bayar utang. Dengan logika yang bengkok, selipan humor bodor-bodoran ala Srimulat, film semacam ini merajai masanya. Ada lagi film horor gaya komedi. Suatu kali Benyamin lari dikejar pocong, lalu bertubrukan dengan sosok putih. Ternyata itu temannya yang berkerudung selimut. Kali lain, ia meminta rokok kepada temannya, tapi eh ternyata pocong betulan. Hingga saat ada sosok putih, Benyamin pun lalu berteriak: "Kamu pocong atau orang?" Di film lain, adegan semacam itu kerap diperankan oleh Bokir, Pak Item, Ratmi B 29, dan Dorman Borisman.

Yang juga menjadi prototipe film horor kita adalah tema pencarian ilmu. Entah kenapa protagonis atau antagonis yang belajar ilmu gaib selalu digambarkan di dalam gua. Dan entah kenapa pula, pasti di situ berdiam seorang tua berambut putih (biasanya sering tertawa atau sok bijak atau sangar) yang mengajarkan ilmu dengan syarat mokal-mokal dan tentu saja tak ada dalam kenyataan. Misalnya film Ingin Cepat Kaya (Babi Jadi-jadian), yang diproduksi tahun 1976 dan disutradarai B.Z. Kadaryono. Dikisahkan Kosim (Muni Cader) kalah judi melulu hingga ia tega melego kalung anaknya. Ia mencoba bunuh diri, tetapi seorang pengemis buta menyelamatkannya. Sampailah ia di sebuah gua—penuh dengan ular dan kalajengking—guna menuntut ilmu pesugihan untuk menjadi babi jadi-jadian atau yang di Jawa dikenal dengan istilah "babi ngepet".

Yang menarik dalam film ini—setelah kita baru saja disuguhi berita tentang Sumanto, sang pemakan mayat—adalah tema kanibalisme, yang ternyata bukan barang baru dalam film horor kita. Pada film ini, sang eyang tiba-tiba memerintahkan Kosim memakan jempol kaki orang sebagai prasyarat belajar. "Apakah kamu sanggup mengorbankan yang engkau sayangi?" katanya sebagai ujian terakhir. Kosim mengangguk. Lalu sang eyang meletakkan seekor ikan mas di atas batu. Dia memerintahkan Kosim agar mencacahnya. Tapi setiap kali ikan itu berubah menjadi bayi yang menangis. Ternyata, setelah pulang, bayinya meninggal dengan luka-luka di sekujur tubuh. Dalam film Pembalasan Guna-guna Istri Muda (1978), seorang istri muda yang diperankan Farida Pasha mendapatkan ilmu penajam mata—agar bisa melihat kelakuan sang suami dari kejauhan. Ia diperintah gurunya agar melahap biji mata orang mentah-mentah.

Rapalan segala jampi-jampi itu tentu saja ngawur. "Hanayasa.. mangaji ilu.. manungsa.. manjelma…," lalu srretttt…, Muni Cader berubah jadi babi. Apa artinya, ya tidak jelas. Kadang-kadang kita mendengar kata "ohm", lalu orang itu komat-komit entah ngomong apa. Wajar saja jika seorang tokoh Hindu mengelus dada karena mantra suci kok dipermainkan, katanya. Segala ngelmu dikisahkan ada pantangan-pantangannya. Pantangan pertama tak boleh melihat ayat Al-Quran. Tapi kerap ada pantangan yang menggelikan, misalnya dalam Penangkal Ilmu Teluh(1979) dikisahkan seorang istri muda bernama Darmi yang diperankan Debby Cyntia Dewi. Ia sebenarnya sudah tua renta. Tapi, karena mengenakan susuk, parasnya menjadi menawan dan menggairahkan. Apa pantangannya? Makan sate! Bila Darmi menyikat sate lebih dari satu tusuk, sontak wajahnya terkelupas, kembali kerut-merut. Gile!

Film Kafir besutan Mardali Syarief, yang menampilkan Sujiwo Tejo sebagai pemeran utama, juga mengingatkan prototipe film klenik lama. Kafir berkisah tentang seorang dukun yang mayatnya tak diterima tanah, lalu masyarakat meminta bantuan seorang kiai. Lagi-lagi ini menunjukkan kecenderungan film horor kita yang lucu:tokoh kiai selalu ditampilkan sebagai hero at the last minute. Lihat saja film Kutukan Nyai Roro Kidul (1979). Tersebutlah sebuah desa di pantai selatan, seorang perempuan bernama Wulan kerasukan Nyi Roro Kidul. (Lucunya, sebuah adegan memperlihatkan lokasi syuting di Juntinyoat, Indramayu, yang notabene di pantai utara.) Akibat kerasukan, suaminya sendiri dicakarnya di tempat tidur. Wulan kawin lagi dan membunuh lagi. Tiba-tiba di akhir cerita datang seorang kiai muda yang bertugas membasmi kutukan itu dan akhirnya mengawini Wulan.

Sosok pastor juga muncul sebagai "penyelamat mendadak", terutama dalam film yang bertautan dengan keluarga Belanda, misalnya Ranjang Setan (1986), yang menampilkan Chintami Atmanegara. Ini cerita tentang keluarga kaya yang tinggal di rumah tua bekas milik keluarga Belanda yang ditembak mati oleh perampok. Hantu Belanda itu sering menakut-nakuti. Sementara itu, setan nyonya Londo sering muncul dan berkata "..come here…" dengan logat sinyo keju yang mengajak pacar Chintami bersanggama.

Satu per satu isi rumah itu tewas. Seorang pastor akhirnya tiba-tiba muncul membasmi setan itu dengan kayu yang dipalang jadi salib. Beres. Simpel.

Kenapa harus diakhiri dengan kiai atau pastor sebagai pahlawan? "Itu aturan dari lembaga sensor nasional. Mereka bilang film horor harus ada misi agamanya," tutur Ali Tien, mantan produser PT Cancer Mas, sebuah perusahaan film yang di masa lalu gemar memproduksi film-film horor. Atas perintah Menteri Penerangan Ali Murtopo dan Ketua Dewan Film Nasional pada tahun 1981, "Hasil perumusan seminar ini akan dibawa ke Sidang Majelis Musyawarah Perfilman Indonesia agar terutama Badan Sensor Film dapat bekerja. Dilihat dari kepentingan pemerintah, dengan adanya kode etik, kemungkinan silang selisih pembuat film dengan masyarakat dapat dikurangi seminimal mungkin…," tuturnya dalam sebuah seminar film di Jakarta

Kode etik itu disusun oleh delapan komisi, dari komisi film dan moral bangsa, film dan kesadaran disiplin nasional, hingga komisi film dalam hubungannya ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Komisi II adalah komisi yang khusus membahas hubungan film dan ketakwaan yang diketuai oleh H. Muzayn Arifin, dengan anggota 19 orang, di antaranya Aisyah Amini, Ki Soeratman, dan Sukarno M. Noor. Komisi ini merekomendasikan banyak poin, di antaranya adalah seperti tertera berikut: "Dialog, adegan, visualisasi, dan konflik-konflik antara protagonis dan antagonis dalam alur cerita seharusnya menuju ke arah ketakwaan dan pengagungan terhadap Tuhan YME." Juga: "Jalan cerita disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan kepada penonton bahwa yang jahat itu pasti akan menerima/menanggung akibatnya dan menderita, dan yang baik itu pasti menerima ganjaran kebahagiaan."

Apakah memang imbauan Ali Murtopo itu begitu mempengaruhi produser dan sineas film horor kita saat itu? "Pada waktu itu BSF sangat mencampuri, macam-macam caranya. Jika penyelesaian masalah dalam cerita tidak menampilkan kiai, filmnya bakal dibredel. Untuk menyelamatkan diri, ya, kami terpaksa membikin-bikin munculnya tokoh kiai. Kadang-kadang memang tak masuk akal, tahu-tahu tokoh itu masuk dan menyelesaikan masalah," tutur Ferry Angriawan, jujur.

Produser PT Prasidi Teta, Budiati Abiyoga, masih ingat saat ia menjadi anggota juri Festival Film Indonesia. Ketika itu banyak film horor yang jadinya asal-asalan menempelkan agama: "Bayangkan, ada sebuah adegan seks dalam film horor, tapi kemudian di layar muncul ayat Quran ditambah kalimat adegan ini tak benar menurut Quran," katanya. Gaya hitam-putih dan simplistik seperti ini kemudian "menurun" pada generasi sineas film horor berikutnya. "Saat saya menggarap film horor, saya hanya berpatokan pada hitam dan putih, yang baik mengalahkan yang jahat. Itu saja intinya," tutur Atok Suharto, sutradara Si Manis Jembatan Ancol (1994).

Walhasil, dengan prototipe hitam-putih demikian, tak mungkin kita bisa menyaksikan film horor bermutu yang berangkat dari problematika teologi. Trilogi The Omen, misalnya, yang menceritakan anak titisan setan bernama Damien, menjadi sangat menakutkan karena dapat mengargumentasikan secara rasional bahwa setiap manusia memiliki sisi gelap manusia dan bahwa, ketika penjelmaan setan kalah, spiritnya tetap ada sampai kapan pun.

Tapi tentu saja kita terlalu menyederhanakan masalah jika menganggap kebijakan Ali Murtopo adalah penyebab utama konyolnya film horor Indonesia. Faktor utama yang menyebabkan film horor Indonesia tampak konyol, tak logis, dan mengumbar erotisme tentu saja adalah para cukong film yang ingin cepat untung. Bukan rahasia lagi, film horor saat itu murah meriah ditinjau dari segi biaya, tapi dianggap paling cepat kembali modal asalkan ada adegan syurnya. Itu yang menggoda. Misalnya Tjut Jalil, sutradara Pembalasan Ratu Pantai Selatan, bisa memproduksi empat judul film dalam setahun. Satu judul film bisa mencapai 15-20 kopi. "Biayanya murah, Rp 1,5 juta per kopi. Bandingkan, sekarang bisa mencapai Rp 15 juta per kopi," katanya.

Saat itu memang permintaan terhadap film horor yang seronok dari distributor film di Medan, Jawa Tengah, dan Jawa Timur tengah menggebu. "Saya akui itu. Karena kami berpikir yang menonton itu kalangan menengah ke bawah, kita tak terlalu peduli jalinan utuh suatu cerita atau lainnya," kata Ferry. Menjelang krisis moneter tahun 1996-1997, penggarapan film Indonesia semakin amburadul. Produksi syuting pendek, skenario sejadinya, asal menonjolkan paha dan dada. "Saya yakin, menjelang krisis moneter, semua produser sebetulnya malu melihat hasil karya film sendiri. Mutunya parah sekali," kata Ferry.

Toh, sutradara Tjut Jalil tak setuju. Dia mengingatkan bahwa film Leak yang disutradarainya pada tahun 1981 pernah lumayan dikenal di Eropa. "Saya sampai diwawancarai sebuah rumah produksi tentang bagaimana membuat film seram seperti film Leak, yang berasal dari kepercayaan Hindu, tapi di masyarakat yang mayoritas Islam," tutur Tjut Jalil.

Kini, di masa reformasi, kesuksesan komersial film Jelangkung karya Rizal Mantovani dan Jose Purnomo membuat ngiler para sutradara film horor lama. Apalagi Kafir—yang mengusung resep lama—pun telah meraih 400 ribu penonton di Jakarta sejak diedarkan awal Desember tahun lalu. "Ini membuktikan masyarakat kelas sandal mau ke bioskop mahal hanya untuk menonton film horor," kata Mardali Syarief, yakin. Kini ia berencana membuat film horor lain berjudul Siksa Kubur.

Ferry Angriawan dari PT Virgo Putra Film juga siap meluncurkan film horornya tahun ini. Apakah Ferry akan mengusung resep lama? "Ya, enggak dong. Soalnya yang kami bidik pangsa atas," katanya berjanji. Kemungkinan besar ramuan-ramuan model Titik Hitam atau Jelangkung yang mengolah musik pop, funky, dan melibatkan kehidupan remaja modern tentang hal-hal gaib kini menjadi tren baru. Inilah tren anak-anak muda bertamasya ke dunia para arwah di dunia perfilman Indonesia. Cuma, kapan Indonesia melahirkan film horor yang sugestif—tanpa menghina akal sehat—seperti The Sixth Sense? Agaknya kita harus menunggu.

Seno Joko Suyono dan Dwi Arjanto

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-28 21:11:26


Layar 7/7

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB