Apa yang Terjadi dengan Pendidikan Kita Setelah Pandemi Corona? - Laporan Khusus - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Laporan Khusus 10/10

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pendidikan Kita Setelah Pandemi

Robertus Robet
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta

i Robertus Robet, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta
Robertus Robet, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta
  • Mayoritas siswa Indonesia tidak suka belajar jarak jauh. .
  • Perlu intervensi negara agar belajar jarak jauh bisa dijangkau semua siswa.
  • Pandemi mengajarkan banyak hal dalam pendidikan. .

BADAN Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) memperkirakan lebih dari 1,2 miliar atau 73,8 persen anak didik dari semua pelajar di 186 negara telah terkena dampak pandemi virus corona (Covid-19). Sekolah dan universitas ditutup, peserta didik terpaksa harus belajar dari rumah. Siap atau tak siap, institusi pendidikan dipaksa menyelenggarakan pendidikan jarak jauh dengan mengandalkan Internet, komputer, atau telepon pintar.

Teknologi dan digitalisasi mengambil alih dan menjadi sarana pembelajaran utama yang menghubungkan guru, siswa, dan orang tua. Pandemi telah memaksa perubahan dalam modus pendidikan. Ia mempercepat pelapukan metode belajar lama yang mengandalkan ruang kelas dan kehadiran guru di depan siswa.

Ahli pendidikan untuk Badan Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), Andreas Schleicher, dengan nada optimistis mengatakan krisis telah mengantarkan kepada kita momentum perubahan yang berharga bagi dunia pendidikan. Pandemi mendorong pendidik, orang tua, dan anak berpikir lebih kritis dan berorientasi pada pemecahan masalah. Di kalangan siswa, tumbuh rasa memiliki atas proses belajar dan pembelajaran akan dialami sebagai hal yang lebih bersifat personal. Schleicher berharap perubahan dan kebiasaan belajar yang terbentuk selama masa pandemi akan bertahan dan berlanjut menjadi kebiasaan baru pendidikan setelah pandemi berlalu.


Selaras dengan itu, Forum Ekonomi Dunia (WEF) melihat pandemi juga telah mendorong pelbagai inovasi dalam pembelajaran dan secara mengejutkan telah menumbuhkan kerja sama baru di antara pelbagai pihak dalam penyelenggaraan pendidikan.

Sebelum pandemi, keperluan untuk makin mengadaptasikan pendidikan dengan teknologi dan digitalisasi sebenarnya sudah banyak disuarakan dan terutama dikait-kaitkan dengan gembar-gembor gejala Revolusi Industri 4.0. Pandemi dipandang tak hanya telah mengkonfirmasi kemestian-kemestian digitalisasi dari asumsi-asumsi Revolusi Industri 4.0 itu. Ia bahkan telah mempercepat desakan digitalisasi agar menjadi syarat baru bagi pendidikan setelah pandemi.

Pertanyaannya: apakah kebutuhan digitalisasi akibat pandemi ini akan menjadi tuntutan dan kebutuhan utama pendidikan dan terus bertahan setelah pandemi berlalu? Atau jangan-jangan ia hanya membuka bopeng dan masalah struktural lain yang mendekam dalam masyarakat dan dunia pendidikan kita? Adakah relasi-relasi baru yang muncul dari pandemi yang dapat kita pertahankan untuk merenovasi pendidikan kita di masa depan?

Salah satu masalah terbesar yang dikuak oleh pandemi—yang juga disinggung oleh WEF—adalah lebarnya kesenjangan digital di kalangan siswa. Kebutuhan akan digitalisasi berhadapan dengan kenyataan lebarnya ketaksetaraan ekonomi dan sosial di kalangan keluarga-keluarga siswa. Ketaksetaraan sosial-ekonomi berimplikasi pada perbedaan yang tajam dalam akses terhadap teknologi komunikasi dan informasi.

Bagi siswa dari keluarga kelas menengah dan kelas atas, komputer, pulsa, dan kuota Internet jelas bukan masalah. Tapi, bagi mayoritas siswa dari keluarga kelas bawah, apalagi di pelosok, teknologi jelas masih merupakan barang mahal yang sulit dijangkau.

Survei oleh Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia pada 2018 menemukan, meski 171 juta lebih rakyat sudah terhubung dengan Internet, lebih dari 55,7 persen akses Internet itu ada di Pulau Jawa. Di Kalimantan hanya 6,6 persen; di Bali dan Nusa Tenggara Timur 5,2 persen; di Sulawesi, Maluku, dan Papua hanya 10,9 persen.

Survei yang sama menemukan bahwa hanya sekitar 20 persen pengguna yang berlangganan Internet tetap di rumah, lalu 79,5 persen yang tidak memiliki jaringan Internet tetap di rumah atau hanya memakai Internet yang tersambung melalui telepon seluler. Selain itu, sekitar 17 persen responden setiap hari memakai laptop, sekitar 9 persen menggunakan desktop, dan 93 persen terhubung dengan Internet melalui ponsel pintar.

Sementara itu, survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan, selama pandemi, 95,4 persen responden menyatakan mengikuti proses pembelajaran hanya dengan memakai ponsel, 23,9 persen memanfaatkan komputer jinjing, dan 2,4 persen memakai komputer.

Data ini memperlihatkan adanya kesenjangan besar bukan hanya dalam hal akses terhadap Internet, tapi juga dalam sarana dan kualitas teknologi pembelajaran. Ada lebih banyak siswa yang belajar hanya melalui balas-balasan kiriman pesan pendek dengan guru-guru mereka. Akibatnya, banyak siswa tidak menyukai cara belajar jarak jauh yang diterapkan selama pandemi.

Survei KPAI pada 13-20 April 2020 menemukan bahwa 76,7 persen siswa menyatakan tidak senang mengikuti pembelajaran jarak jauh. Keluhan siswa di antaranya pembelajaran jarak jauh hanya menumpuk tugas dari guru, ketiadaan komputer dan Internet, serta hilangnya kesempatan bermain bersama teman. Dari survei itu terlihat jelas bahwa belajar jarak jauh menegaskan dan mereproduksi ketaksetaraan dan keterbelakangan sosial yang sebelumnya telah berakar dalam masyarakat kita.

Pandemi ini memberi momentum berharga bukan lantaran menyediakan sesuatu yang baru, justru karena ia mengungkap fakta lama yang terpendam, yakni disparitas mencolok dalam akses anak terhadap kesempatan dan pendidikan. Dalam wawancara dengan Financial Times edisi 15 April 2020, penerima Nobel bidang ekonomi, Amartya Sen, mengungkapkan optimisme yang nyaris seperti nubuat bahwa dunia pasca-pandemi adalah dunia yang akan lebih baik.

Optimisme Sen itu didasari keyakinan bahwa pandemi ini telah membuka dan memupus stigma ketaksetaraan yang sebelumnya mendera dunia. Dia meyakini tumbuhnya kesadaran baru yang mendorong kerja sama global untuk mengatasi ketaksetaraan.

Untuk konteks pendidikan, optimisme Sen itu hanya bisa kita setujui dengan syarat politik, yakni adanya kemauan dan intervensi negara untuk mengatasi kesenjangan di kalangan siswa. Supaya dunia benar-benar menjadi lebih baik sebagaimana diramalkan Sen, negara setidaknya perlu mengeluarkan subsidi Internet untuk rumah-rumah serta menyediakan komputer jinjing gratis untuk siswa miskin.

Selain itu, satu hal istimewa yang dilakukan pandemi adalah ia mereintegrasikan pranata keluarga dan sekolah. Pandemi menutup pabrik dan menghentikan sebagian besar industri, membuat orang tua balik ke rumah dan anak kembali ke dalam keluarga. 

Hubungan keluarga dan sekolah kini menyerupai hubungan keluarga dan sekolah dalam masa pra-industri ketika lokus pendidikan kembali ke rumah. Dalam sejarah, industri menarik keluar orang-orang dewasa dari rumah dan mengubah struktur pekerjaan mereka dari yang semula berpusat pada tanah dan lahan menjadi ke pabrik-pabrik. Sekolah merupakan implikasi logis dari munculnya kebutuhan baru dunia industri dan keluarga, yang fungsinya adalah penyedia tenaga kerja. Ia diperlukan sebagai pranata perantara, menjadi ruang tunggu bagi anak selama orang tua bekerja sekaligus menjadi tempat ia dilatih dan dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja ketika dewasa. Oleh pandemi, ruang hidup siswa tak lagi tersekat dalam partisi rumah-sekolah-dunia kerja-masyarakat.

Ahli pendidikan Harvard, Paul Reville, secara metaforis mengatakan penghentian industri selama pandemi menjadi simbol untuk mengakhiri model dan sistem pendidikan ala pabrikan yang selama ini berlaku, ketika pembelajaran dilaksanakan dengan asumsi “one size fits all”. Setelah pandemi, kata Reville, dunia pendidikan jangan mengembalikan lagi pencacahan ruang hidup siswa dalam partisi rumah-sekolah-masyarakat.

Kehidupan siswa harus dipandang sebagai kesatuan. Reintegrasi ini menciptakan peluang baru bagi para pembuat kebijakan untuk memikirkan cara terbaik mendorong sekolah, universitas, dan sistem pendidikan agar makin dekat serta mampu merespons kebutuhan siswa. Dengan itu, pendidikan kita setelah pandemi mesti diarahkan untuk menciptakan sistem dan birokrasi pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhan siswa di tempat mereka berada, di dalam ataupun di luar sekolah.

Hal kedua yang secara ajaib dibawa oleh pandemi adalah menguatnya kesadaran akan kesatuan diri dengan alam semesta. Virus, pandemi, penyakit, vaksin, dan kematian mendorong keluarga dan anak memikirkan secara lebih serius, subtil, dan saintifik hubungan antara kehidupan manusia dan alam. Pengalaman ini bisa menjadi modal yang kuat untuk memupuk rasionalitas dengan basis kesadaran ekologis bagi generasi kita yang tumbuh dalam pengalaman pandemi. Pengetahuan baru tentang bagaimana para ilmuwan kini berlomba-lomba, bekerja keras menemukan vaksin untuk mengatasi pandemi, semestinya dapat menerbitkan penghargaan dan optimisme anak terhadap ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.

Perubahan ini mesti diambil alih dan dimanfaatkan oleh sistem pendidikan kita untuk membebaskan diri dari kuk doktrin dan moral yang selama ini terlampau membelenggu.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-29 00:57:32


Laporan Khusus 10/10

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB