Laporan Khusus 1/10

Selanjutnya
text

Ladang Hijau di Musim Kemarau

Syahdan, ekonom mana pun tidak bisa memprediksi secara presisi siklus bisnis. Namun, dengan data, tren, dan geopolitik, cerdik pandai minimal bisa menakar angin perekonomian global akan bergerak ke mana. Sayangnya, perhitungan mereka untuk 2020 menghasilkan ramalan muram. Ancaman resesi membuat dunia diliputi kegentingan. Perlambatan ekonomi bakal kembali menghantam semua negara dengan pukulan yang lebih kencang, tak terkecuali Indonesia. Pada masa itu, tujuh sektor industri berpeluang menjadi harapan bagi perekonomian dalam negeri.

i Aktivitas bongkar-muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, November 2019./ ANTARA/Galih Pradipta
Aktivitas bongkar-muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, November 2019./ ANTARA/Galih Pradipta

SEMBILAN kali kata “bertahan” terlontar dalam pidato Presiden Joko Widodo di forum Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2019, Kamis, 28 November lalu. Berbicara selama 28 menit, Jokowi juga banyak berkata “sulit”, “tekanan”, “bersyukur”, dan “tetap optimis”. Dia meminta peserta forum mensyukuri perekonomian tahun ini yang masih bisa tumbuh di atas 5 persen. “Tetapi kita juga harus berbicara apa adanya, tekanan -eksternal ini tidak mudah, tidak gampang,” ujar Jokowi dalam acara yang digelar di Jakarta Convention Center, Senayan, itu.

Berbicara sebelum Jokowi, Gubernur BI Perry Warjiyo menggambarkan dampak melambatnya perekonomian dunia dan meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan sejak 2018. “Musim dingin telah tiba dan kita harus siap menghadapinya,” katanya. Perry menegaskan arah kebijakan bank sentral ke depan: menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dua tahun terakhir, pemerintah dan Bank Indonesia memang berupaya setengah mati menyelamatkan perekonomian dalam negeri dari ancaman krisis imbas memburuknya hubungan perdagangan Amerika Serikat dan Cina. Berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter bank sentral Amerika, The Federal Re-serve, pada awal 2018 telah menyeret nilai tukar rupiah ke level terendah sejak krisis keuangan 1998. Upaya stabilisasi kala itu makin sulit lantaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) juga melebar hingga di atas ambang aman 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).


Beragam paket kebijakan fiskal, terutama lewat insentif perpajakan, digeber pemerintah untuk meningkatkan investasi berorientasi ekspor. Kebijakan mandatory penggunaan solar bercampur minyak nabati sebesar 20 persen (B20) diperluas untuk mengerem impor minyak. Bank Indonesia juga agresif menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate untuk menahan pelarian modal. Perekonomian 2018 pun ditutup dengan pertumbuhan 5,17 persen, meleset jauh dari target 5,4 persen.

161842983812

Situasinya tak banyak berubah tahun ini. Nilai tukar rupiah memang telah menguat dan stabil di kisaran 14 ribu per dolar Amerika. Tapi pukulan perlambatan ekonomi dunia justru terasa lebih kencang. Kementerian Keuangan sejak Juli lalu “lempar handuk” bisa mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen. Badan Pusat Statistik mencatat PDB sepanjang tiga triwulan 2019 hanya tumbuh 5,04 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Perdagangan dunia yang mengetat telah membuat harga komoditas dunia anjlok, termasuk minyak sawit dan batu bara, yang menjadi andalan Indonesia. Pertumbuhan industri, terutama pengolahan, melambat hingga turut memicu rendahnya realisasi penerimaan pajak yang sepanjang 2019 diperkirakan kurang dari target sebesar Rp 140 triliun. Meningkatnya shortfall pajak akan berimbas pada melebarnya defisit anggaran yang diperkirakan terealisasi sebesar 2-2,2 persen dari target awal 1,86 persen.

Lesunya perekonomian global juga berdampak pada keputusan investor menggelontorkan dananya ke beragam proyek di Indonesia. Iming-iming pemerintah—dari insentif pajak, deregulasi, hingga penyederhanaan perizinan—belum membuahkan hasil. Pembentukan modal tetap bruto triwulan III 2019 hanya tumbuh 4,21 persen, terus berada dalam tren pelemahan sejak periode yang sama tahun lalu. Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat penanaman modal asing hingga September lalu baru tercapai 65,7 persen dari target Rp 483,7 triliun.

Setelah bertemu dengan Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo A. Chavez, 2 September lalu, Jokowi berang. Bank Dunia mencatat 33 perusahaan Cina merelokasi pabriknya pada Juni-Agustus 2019. Namun tak satu pun pindah ke Indonesia. Sebanyak 23 perusahaan Cina memilih pindah ke Vietnam. Sepuluh lainnya ke Kamboja, Myanmar, Thailand, dan Malaysia.

Besarnya dampak perlambatan global terhadap perekonomian dalam negeri setahun terakhir itu yang bikin risau. Sebab, sejumlah lembaga internasional memperkirakan kondisinya makin muram pada 2020. Perekonomian dunia diprediksi bergerak lebih lamban.

Oktober lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2020 menjadi 3,4 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,5 persen. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) lebih pesimistis dengan memangkas prediksinya menjadi hanya 2,9 persen. Adapun Bank Indonesia memperkirakan perekonomian dunia tahun depan tumbuh sekitar 3,1 persen.

Berbicara dalam CNBC Indonesia Awards 2019, Rabu, 4 Desember lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menerjemahkan arti angka dalam proyeksi tersebut. “Kalau ekonomi dunia sudah 3 persen, itu sudah dekat dengan resesi atau sudah resesi,” kata Sri. “Biasanya negara berkembang tumbuh lebih tinggi, sekarang sudah all across the board. Berarti semua negara melemah.”

LAJU PDB LAPANGAN USAHA TRIWULAN III 2019

SITUASI genting pada 2020 telah dilontarkan banyak lembaga ekonomi dunia jauh-jauh hari. Akhir dari perang dagang Amerika Serikat dan Cina makin tak menentu. Perundingan kedua negara belakangan tersendat oleh memanasnya kondisi politik di kedua negara. Amerika tengah bersiap menggelar pemilihan umum--disertai ancaman pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump. Sedangkan Cina didera krisis di Hong Kong.

Krisis bahkan datang lebih awal di sejumlah negara. Argentina sudah jatuh. Turki pun demikian, kendati mulai bangkit pada triwulan ketiga lalu. Sedangkan Jerman, raksasa industri Eropa, perlahan menuju pertumbuhan negatif. Bayangan makin muram dengan perkiraan terburuk bahwa Amerika Serikat tak lama lagi dilanda resesi.

Wakil Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia Kiki Verico, dalam kolomnya di edisi ini, menilai memburuknya perekonomian Amerika Serikat, Cina, dan negara Eropa Barat membuat ancaman krisis makin serius. Ketiganya merupakan pusat gravitasi ekonomi di tiap kawasan.

Sejumlah ekonom juga sepakat bahwa kalaupun resesi tak terjadi, perekonomian Amerika tetap melambat. Perlambatan ini akan menular ke Cina, lalu Indonesia. “Maka untuk satu-dua tahun ini, menurut saya, strateginya bertahan saja,” ujar Raden Pardede, ekonom dan Komisaris PT Bank Central Asia Tbk, Oktober lalu.

Menurut dia, perlu upaya lebih untuk menjaga daya beli domestik selama ekonomi global sedang loyo. Kebijakan moneter juga harus difokuskan untuk memberi kepercayaan investor agar tidak ada arus modal keluar. “Kalau ada yang bilang menaikkan ekspor pada tahun depan, itu omong kosong. Permintaannya saja enggak ada.”

Sambil menjaga daya beli domestik, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menambahkan, industri yang saat ini sedang “hijau” mesti diperkuat. Pertumbuhan pada sektor usaha yang terbukti masih moncer di tengah gejolak dua tahun terakhir tersebut diharapkan bisa menjadi bahan bakar ekonomi dalam negeri di masa mendatang. Apalagi pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen pada 2020, lebih tinggi dibanding proyeksi sejumlah lembaga internasional.

Laporan Tempo ini disiapkan untuk mengurai sektor industri yang potensial menopang perekonomian Indonesia di tengah ramalan resesi pada 2020. Data menunjukkan sejumlah sektor lapangan usaha ini memang masih mampu bertumbuh, meski ikut melambat, di tengah masa suram.

Memburuknya hubungan dagang Amerika Serikat dan Cina, misalnya, justru menjadi peluang bagi industri garmen, alas kaki, dan sepatu dalam negeri. Mereka diharapkan bisa mengisi pasar di Amerika Serikat yang ditinggalkan Cina.

Di pertambangan, kebijakan pemerintah menyetop ekspor bijih nikel mulai 2020 juga memberi peluang masuknya investor baru di sektor hilir. Penghiliran bijih nikel dipercaya akan memberi nilai tambah lebih besar. Apalagi kebutuhan nikel dunia terus meningkat seiring dengan pengembangan baterai untuk produksi kendaraan listrik.

Industri properti juga berpeluang menggeliat setelah bertahun-tahun dalam kondisi koma. Pertumbuhan stagnan 3 persen sejak akhir 2013 belakangan mulai merangkak naik seiring dengan beragam intervensi pemerintah dan Bank Indonesia. Tahun depan bonus demografi juga akan memperbesar potensi penjualan hunian di bawah harga Rp 1 miliar, segmen yang diincar kelompok milenial untuk rumah pertama.

Jangan lupakan industri pariwisata dan jasa turunannya yang selalu tumbuh dua digit dan turut mendatangkan devisa. Rencana pemerintah mengembangkan “10 Bali baru”, yakni destinasi wisata prioritas di luar Pulau Dewata, mulai dikebut tahun ini. “Pariwisata dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi penerimaan negara nomor satu,” kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Rosan Roeslani, Oktober lalu.

Pasar pun masih terbuka untuk industri furnitur. Ada juga industri telekomunikasi yang makin berpeluang meningkatkan penetrasi layanan Internet dengan rampungnya proyek backbone serat optik Palapa Ring. Perlunya menjaga momentum pertumbuhan industri tersebut tak lantas mengecilkan pentingnya juga pemerintah menggenjot lapangan usaha lain, termasuk motor ekonomi baru.

Dalam pidatonya, Rabu, 27 November lalu, Joko Widodo mengibaratkan situasi ekonomi global saat ini mirip seperti ketidakpastian yang dihadapi Chuck Noland, tokoh utama dalam film Cast Away. Noland, diperankan oleh Tom Hanks, terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni setelah pesawat kargo milik perusahaan tempatnya bekerja, FedEx, jatuh di Pasifik Selatan. “Kenapa dia bertahan hidup dan selamat?” ucap Jokowi.

Empat tahun lamanya Noland melakukan segala upaya untuk bertahan, dari mencabut giginya dengan pisau sepatu seluncur hingga mendandani sebuah bola voli, yang dinamai Wilson, sebagai teman bicaranya. Kita semua tahu akhir perjuangannya. Dia berhasil keluar dari pulau itu dengan membuat rakit dari batang pohon berlayar fiber toilet portabel untuk membawanya ke jalur pelayaran. Noland selamat setelah sebuah kapal kontainer melihatnya.

Sayangnya, setiba di daratan tujuan, Noland justru mendapati pacarnya, Kelly Frears, telah menikah dengan orang lain karena menganggapnya sudah mati. Tentu kita tidak ingin melihat Indonesia sibuk bertahan di tengah ketidakpastian global, lalu ketika keluar dari badai itu melihat negara-negara pesaing telah pulih lebih cepat dan sulit dikejar lagi.

 


Tim Edisi Khusus Outlook Ekonomi 2020

Penanggung Jawab: Agoeng Wijaya | Pemimpin Proyek: Khairul Anam | Penulis:  Gabriel Wahyu Titiyoga, Hussein Abri Yusuf, Mahardika Satria Hadi, Moyang Kasih Dewi Merdeka, Mustafa Silalahi, Putri Adityowati, Retno Sulistyowati | Penyunting:  Agoeng Wijaya, Anton Septian, Dodi Hidayat, Nurdin Kalim, Sapto Yunus, Stefanus Teguh Pramono, Yandhrie Arvian | Penyumbang Bahan: Ahmad Rafiq (Sukoharjo), Anwar Siswadi (Bandung), Ayu Cipta (Tangerang), Fajar Pebrianto (Jakarta), Joniansyah Hardjono (Tangerang), Mei Leandha (Medan), Shinta Maharani (Yogyakarta), Supriyantho Khafid (Nusa Tenggara Barat) | Foto: Ratih Purnama Ningsih (Koordinator), Jati Mahatmaji, Gunawan Wicaksono | Bahasa: Iyan Bastian, Uu Suhardi | Kreatif: Ehwan Kurniawan, Eko Punto Pambudi, Rudy Asrori, Munzir Fadli

 


 

DI BAWAH BAYANGAN RESESI


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161842983812



Laporan Khusus 1/10

Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.