Kesehatan 1/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mengganyang Kuman yang Kebal

Simposium di Hotel Hilton membahas formula baruan tibiotik yakni penggabungan amoksisilin dengan asam klavulanat yang disebut augmentin. Ampuh membasmi beberapa bakteri dan efek sampingannya kecil.

i
SEKARANG ini agaknya tak seorang pun yang tak kenal antibiotik. Sejak penisilin ditemukan oleh Sir Alexander Fleming pada tahun 1928, para ahli tak henti-hentinya mengembangkan obat pembunuh kuman ini. Mereka mencoba, baik dengan turunan penisilin maupun antibiotik lain. Sekalipun begitu, belakangan para ahli sempat bingung mencari jalan melawan beberapa bakteri yang memproduksi enzim beta-laktamase. Soalnya, enzim ini menyebabkan sang bakteri -- misalnya Stafilokokus aureus, Klebsiella, dan Haemofilus influenza -- jadi kebal terhadap beberapa antibiotik, termasuk amoksisilin, yang juga turunan penisilin itu. Bagi amoksisilin, beta-laktamase itu tak ubahnya semacam tembok Berlin yang amat kukuh. Tak bisa ditembus -- meski dosisnya dilipatgandakan. Tapi, syukurlah, kini sudah ditemukan senyawa yang dapat mengikat enzim tadi sehingga amoksisilin -- meski dalam dosis biasa -- dapat membabat pasukan bakteri dengan leluasa. Senyawa itu sendiri bernama asam klavulanat. Penggabungan amoksisilin dengan asam klavulanat ternyata punya hasil yang lebih efektif, tidak saja terhadap kuman yang menghasilkan enzim laktamase, tapi juga terhadap kuman yang biasanya mudah dibunuh amoksisilin sendiri. Para dokter pun ramai memperbincangkannya, bahkan secara ilmiah pula. Ini terjadi dalam sebuah simposium yang diselenggarakan di Hotel Hilton, Sabtu pekan lalu. Dihadiri sekitar 200 dokter, simposium tadi membahas khasiat gabungan kedua formula tadi. Campuran formula itu sendiri diberi nama Augmentin. Yang jelas, sebuah penelitian pada bagian mikrobiologi FKUI membuktikan, formula yang dipasarkan di sini sejak November lalu itu punya efek lebih nyata pada beberapa kuman. Kepekaannya terhadap Stafilokokus aureus, misalnya, mencapai 86 persen, sementara kepekaan amoksisilin cuma 11 persen. Kepekaan ini penting, karena makin sensitif suatu bakteri terhadap suatu obat makin besar pula daya bunuh sang obat terhadap kuman tadi. Penelitian lain terhadap penderita penyakit paru jenis empiema juga memperkuat bukti tadi. Dr. Wibowo Suryatenggara, dari Bagian Paru FKUI, menyatakan, hasil positif pengobatan empiema dengan Augmentin mencapai angka 62,5 persen. Jauh lebih besar dari pengobatan empiema dengan gabungan penisilin-kloramfenikol, yang angkanya hanya 44,4%. Angka perbedaan yang tampaknya kecil itu besar artinya, mengingat bahwa empiema -- yang antara lain ditandai dengan napas berbau itu -- tergolong penyakit yang sulit disembuhkan. "Selain itu," ujar Wibowo, "keuntungan lain kombinasi amoksisilin dengan asam klavulanat adalah efek samping yang kecil." Sayangnya, beberapa studi perbandingan yang dikemukakan dalam simposium hanya dilakukan pada sedikit orang -- hingga validitasnya bisa meragukan. Beda, misalnya, dengan penelitian di luar negeri. Penelitian di sana melibat ribuan orang dengan berbagai kondisi penyakit. Satu di antaranya dilakukan dr. Odio: ia membandingkan efek Augmentin dengan antibiotik spektrum luas lainnya pada pengobatan congek. Hasilnya: tak ada kegagalan pada Augmentin, sedangkan pada antibiotik lain tadi kegagalan 8 prosen. Walau demikian, ada juga kekurangan formula tadi. Seperti amoksisilin, Augmentin tidak berdaya menghadapi kuman tertentu, Pseudomonas aerogenosa, misalnya. Syafiq Basri

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161866079378



Kesehatan 1/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.