Bakau Hilang Abrasi Terbilang - Kartun - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Kartun 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bakau Hilang Abrasi Terbilang

Hutan bakau (mangrove) di pantai Indonesia sudah banyak yang lenyap. Akibatnya, abrasi air laut tak lagi tertahan. Di Kerawang, Jawa Barat, air asin masuk jauh ke daratan, menggerus aspal jalan hingga merobohkan rumah penduduk. Jika tak segera diatasi, menurut Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia, Yana Supriatna, 20 tahun lagi pesisir Karawang akan tenggelam.

Selain menghambat abrasi dan banjir, hutan bakau juga penting sebagai penyimpan karbon. Sebuah penelitian terbaru yang dirilis jurnal ilmiah internasional Nature menemukan hutan bakau mampu menyimpan karbon lebih banyak daripada hutan tropis. "Kapasitasnya 3-5 kali lipat," kata Kepala Peneliti Center for International Forestry Research (CIFOR), Daniel Murdiyarso, yang juga ketua tim penelitian tersebut, dua pekan lalu.

i

Hutan bakau (mangrove) di pantai Indonesia sudah banyak yang lenyap. Akibatnya, abrasi air laut tak lagi tertahan. Di Kerawang, Jawa Barat, air asin masuk jauh ke daratan, menggerus aspal jalan hingga merobohkan rumah penduduk. Jika tak segera diatasi, menurut Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia, Yana Supriatna, 20 tahun lagi pesisir Karawang akan tenggelam.

Selain menghambat abrasi dan banjir, hutan bakau juga penting sebagai penyimpan karbon. Sebuah penelitian terbaru yang dirilis jurnal ilmiah internasional Nature menemukan hutan bakau mampu menyimpan karbon lebih banyak daripada hutan tropis. "Kapasitasnya 3-5 kali lipat," kata Kepala Peneliti Center for International Forestry Research (CIFOR), Daniel Murdiyarso, yang juga ketua tim penelitian tersebut, dua pekan lalu.

Daniel dan kawan-kawan memperkirakan, bila Indonesia dapat menahan laju penghancuran hutan bakau, emisi gas karbon atau gas rumah kaca dunia akan turun 10 sampai 31 persen. "Bakau dapat menjadi solusi untuk perubahan iklim kita," kata Daniel lagi.


Pembabatan bakau di Pulau Jawa bagian barat telah meresahkan para pencinta lingkungan sejak 22 tahun silam. Keresahan tersebut diulas Tempo edisi 20 Februari 1993. Ketika itu hujan lebat mengguyur Jakarta selama sepekan dan menenggelamkan sebagian badan Jalan Tol Sedyatmo, urat nadi dari dan ke Bandar Udara Soekarno-Hatta.

Orang lantas menuding kiri-kanan. Umumnya mereka melihat proyek Pantai Indah Kapuk sebagai penyebab menggenangnya air setinggi 10 hingga 45 sentimeter di beberapa ruas jalan tol itu. Sebelum daerah permukiman baru tersebut dibangun, air tak pernah melimpah ke jalan.

Berdasarkan asumsi tersebut, sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat mendesak pemerintah segera meneliti penyebab banjir di jalan tol itu. Mereka mengusulkan proyek Pantai Indah Kapuk dihentikan sampai penelitian usai.

Kekhawatiran tentang dampak lingkungan yang timbul akibat proyek Pantai Indah Kapuk, seperti dicemaskan sejumlah anggota DPR maupun para aktivis lembaga swadaya masyarakat, juga mencuat dalam seminar tentang hutan bakau yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Yayasan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mangrove di Jakarta. Terungkap dalam seminar, hutan bakau belakangan ini banyak yang dibabat—termasuk di area Pantai Indah Kapuk.

Tanpa disadari, area hutan bakau Indonesia semakin sempit. Menurut data Departemen Kehutanan, pada 1991 hutan bakau Indonesia tinggal 4,25 juta hektare—sekitar 27 persen dari luas hutan bakau dunia. Sebelumnya area hutan bakau kita diperkirakan 8 juta hektare. Dari jumlah yang tersisa itu sekitar 20 persen telah dikonsesikan kepada sejumlah pemegang hak pengusahaan hutan (HPH).

Pembabatan hutan bakau yang terkadang di luar kontrol, menurut Profesor Ishemat Soerianegara, pengajar pada Fakultas Kehutanan IPB dan bekas anggota Komisi Mangrove di LIPI, berdampak cukup parah. Badan jalan raya penghubung Semarang-Surabaya sepanjang 65 kilometer, terutama di daerah Tuban, kini berjarak 5 sampai 10 meter saja dari laut. Ishemat meramalkan jalan itu sebentar lagi lenyap ditelan laut.

Lahan kritis lain yang tercipta setelah hutan bakau dibabat—seperti dilaporkan Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Brawijaya—juga ditemukan di Madura, di pusat industri di kawasan Selat Bali, dan di Sendang Selatan, Malang. Sekarang, menurut mereka, area hutan bakau di seluruh Jawa Timur tinggal sepanjang 850 kilometer. Padahal kawasan pantai provinsi ini membentang sepanjang 1.600 kilometer, dan sebagian besar butuh perlindungan hutan bakau.

Melihat berbagai kerugian yang telah timbul, pembabatan hutan bakau agaknya perlu diperhitungkan lebih serius. "Sekarang ini kebutuhan akan strategi nasional untuk pelestarian hutan mangrove sudah sangat mendesak," kata Ishemat. Bila peringatan ini tak diperhatikan, siapa tahu tanah air kita semakin lama semakin ciut.

2020-07-12 16:38:23


Kartun 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.