Menggali Kedekatan Nalanda-MuaraJambi - Iqra - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Iqra 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Menggali Kedekatan Nalanda-MuaraJambi

Gandawyuha sangat mempengaruhi para pemikir besar Universitas Nalanda. Diperkirakan, sutra ini dan pemikiran filsafat Mahayana lain juga dulu dipelajari secara dalam di Muarajambi.

i Menggali Kedekatan Nalanda-MuaraJambi
Menggali Kedekatan Nalanda-MuaraJambi

ARKEOLOG Agus Widiatmoko melakukan perjalanan ke India. Ia mengunjungi reruntuhan pusat pendidikan Buddha tertua India, Universitas Nalanda dan Vikramasila. Di depan ratusan peserta pembukaan Borobudur Writers & Cultural Festival 2017 di Hotel Grand Ina Malioboro, Yogyakarta, 23 November lalu, dalam pidato kebudayaan, Agus menampilkan serangkaian foto dua situs tersebut. Foto-foto itu- bersama foto-foto situs Muarajambi- juga ia pamerkan di Hotel Manohara, Borobudur.

Nalanda adalah pusat pembelajaran Buddha Mahayana yang didirikan pada masa Gupta pada abad IV Masehi. Pusat pendidikan ini berkembang memasuki periode Pala, yang dimulai pada akhir abad VIII sampai akhir abad XI Masehi. Era Nalanda adalah era keemasan filsafat Buddhis. Diperkirakan Nalanda mempunyai perpustakaan yang memiliki ratusan ribu koleksi naskah. Dari situ, muncul banyak pemikir besar filsafat Buddhis, seperti Nagarjuna, Dignaga, Aryabhata, Aryadeva, Shantideva, Chandrakirti, Dharmapala, Naropa, dan Silabhadra.

Ajaran-ajaran dari Sutra Gandawyuha banyak menjadi landasan dan mempengaruhi pemikiran karya-karya besar para filsuf Nalanda, seperti Bodhisattvacaryavatara (Cara Hidup Bodhisattwa) dan Siksasamuccaya (Intisari Pembelajaran) karya Shantideva. Atau Bhavanakrama karya Kamalashila. Pada zaman Pala, dari situlah muncul pemikiran Tantra.


Agus tertarik melakukan riset di reruntuhan Nalanda setelah membaca terjemahan catatan I-Tsing, rahib Cina yang pada abad VII berniat belajar di Nalanda. Sebelum ke Nalanda, dia tinggal di sebuah pusat pendidikan Buddhis di Suwarnadwipa wilayah Sriwijaya- Agus menduga Muarajambi- untuk memperdalam kemampuan bahasa Sanskertanya. I-Tsing kemudian membuat buku tentang pengalaman saat ia belajar di situ. Buku tersebut ia beri judul Nanhai Ji Gui Neifa Zhuan atau Kiriman Catatan Praktik Buddhadharma dari Laut Selatan.

I-Tsing menulis bahwa terdapat kesamaan kurikulum antara pusat pendidikan di Sumatera itu dan Nalanda. Di Sumatera, diajarkan lima mata kuliah yang juga menjadi mata kuliah utama di Nalanda, antara lain Sabdavidya (tata bahasa Sanskerta), Silpasthanavidya (seni), Chikitasavidya (pengobatan), Hetuvidya (logika), dan Adhaaymavidya (olah hati dan jiwa).

Catatan I-Tsing memperlihatkan adanya hubungan Nalanda dengan Muarajambi. Adanya relasi itu juga, menurut Agus, diperlihatkan sebuah prasasti di India yang diberi nama Nalanda Copperplate. Prasasti dari abad IX Masehi tersebut ditemukan di lokasi reruntuhan Vihara I Nalanda. Prasasti itu menyebut adanya hubungan bilateral Raja Pala India dengan keturunan Dinasti Syailendra bernama Balaputradewa dari Sumatera. "Banyak mahasiswa dari Sumatera belajar di Nalanda. Sriwijaya boleh jadi kemudian membangun vihara di Nalanda untuk pengembangan studi ilmu filsafat Mahayana, yang kemudian menjadi rujukan ajaran Buddha di Sriwijaya," ujar Agus.

Adanya hubungan Muarajambi dengan Nalanda, menurut Agus, juga banyak tergali dari catatan-catatan dari Tibet dan India yang menguraikan riwayat seorang cendekia dari Nalanda bernama Atisa Dipamkara Srijnana. Atisa belajar di Suwarnadwipa selama 12 tahun. Dia lahir pada 982 Masehi di Vikramapura- sekarang Bangladesh. Atisa memulai pelayaran ke Sumatera pada 1012 dan sampai di sana pada 1013. Atisa ingin berguru pada seorang guru asal Sumatera bernama Dharmakitri, yang dikenal ahli dalam filsafat Buddha dan bodhicitta- pencerahan. Guru ini dalam bahasa Tibet dikenal dengan nama Sherlingpa.

Dalam kitab Lojong dari Tibet, menurut Agus, dikisahkan bagaimana Atisa harus menunggu selama 14 hari agar bisa diterima dan bertemu dengan Dharmakirti. Dharmakirti begitu berpengaruh dalam pendidikan Buddha di situ. Saat Atisa bertemu dengan Dharmakirti di rumahnya, guru besar itu dikawal 125 biksu. Selama di Sumatera, Atisa mempelajari kitab yang ditulis Dharmakirti berjudul Abhisamaya-alamkara-nama-prajananaparamita-upadesa-sastra-vrti-durbodha-aloka-nama-tika. Kitab ini, menurut Agus, ditulis oleh Dharmakirti atas permintaan raja Sri Cudamaniwarman. Karya ini secara rinci mengulas filsafat Prajnaparamita.

Atisa kembali ke India pada 1025. Atas permintaan raja Pala, Atisa menjadi pemimpin tertinggi di perguruan Vikramasila. Tatkala Atisa di Vikramasila, ia kedatangan utusan penguasa Tibet bernama Jayasila. Jayasila menyampaikan permintaan raja Tibet agar Atisa bersedia datang ke Tibet. Atisa berangkat ke Tibet pada 1040. Di Tibet, atas permintaan raja Tibet Byan-chub-‘od, Atisa menulis sebuah traktat filsafat: Bodhi-Patha-Pradipa (Suluh pada Jalan Penggugahan).

Di Tibet, Atisa banyak menerjemahkan sutra. Dia juga menjelaskan secara luas Prajnaparamita dan Tantra. Lebih dari itu, di Tibet, Atisa banyak menyebarkan garis silsilah ajaran Buddha di Suwarnadwipa. Ajaran Dharmakirti di Sumatera dibawa Atisa ke Tibet dan dipakainya untuk reformasi ajaran Buddha Tibet. Menurut Agus, garis silsilah Suwarnadwipa ini di Tibet sampai saat kini secara khusus disebut-sebut dalam pujian-pijian ketika melantunkan doa penghormatan kepada Buddha.

Sebagai arkeolog yang lama mempelajari Muarajambi dan pembuat disertasi berjudul "Situs Muarajambi sebagai Mahavihara Abad ke-7-12 Masehi", sesampai di reruntuhan Nalanda di daerah Bihar, Agus segera menangkap kesamaan pola-pola ruangan. Juga dengan Vikramasila. "Nalanda, Muarajambi, dan Vikramasila mempunyai kemiripan pola, komponen bangunan, serta kebutuhan ruang," katanya sembari menyajikan foto-foto agar para peserta Borobudur Writers mengetahui bukti persamaan ketiganya.

Ketiganya berlokasi tak jauh dari aliran sungai besar yang mendapatkan dukungan sumber daya air yang berlimpah. Muarajambi berada di tepi aliran Sungai Batanghari, Vikramasila di tepi aliran Sungai Gangga, serta Nalanda dikelilingi rawa-rawa, kolam, dan danau. Ketiga situs itu sama-sama mempunyai kompleks bangunan vihara dan kompleks bangunan kuil pemujaan. Secara rinci, Agus menerangkan struktur bangunan ketiganya yang punya kemiripan. Misalnya, stupa, kamar, halaman terbuka yang dilengkapi bangunan pemujaan, dan mandapa atau pendapa.

Temuan Agus bahwa planologis bangunan di Nalanda dan Vikramasila berpola sama dengan situs Muarajambi makin menandakan bahwa reruntuhan Muarajambi memang dulunya merupakan sebuah pusat pendidikan besar. Menurut Agus, tanpa ada institusi pendidikan, mustahil akan dibangun Candi Borobudur. Harus ada pusat pendidikan Buddha yang mengolah pemikiran-pemikiran filsafat Buddha dan sutra-sutra Buddha yang tengah "in" dalam dunia pemikiran Buddha saat itu, seperti sutra Gandawyuha. "Untuk membangun candi seperti Borobudur, pasti pada masa itu terdapat sebuah institusi pendidikan tempat para ahli dan cendekiawan mendiskusikan berbagai hal," ucap Agus. Setelah kunjungannya ke reruntuhan Nalanda dan Vikramasila, Agus makin percaya pusat pendidikan itu tak lain adalah Muarajambi.

Pendapat Agus ini disetujui Salim Lee. "Muarajambi diduga kuat adalah universitas penunjang Nalanda," ujarnya. Menurut Salim, sampai kini, di Tibet dan kalangan pengikut Dalai Lama di India, tulisan-tulisan Atisa dan Dharmakirti tetap dipelajari. "Kami akan menerjemahkan juga kitab Dharmakirti. Kitab ini asli ditulis orang Sumatera dan mempengaruhi Buddhisme Tibet sampai sekarang." Profesor Dr Noerhadi Magetsari juga melihat sesungguhnya teologi Buddhisme Tibet banyak menerima sumbangan dari Borobudur. "Banyak pendeta Tibet tiap tahun sekarang berziarah ke Borobudur. Mereka percaya Atisha pernah datang ke Borobudur," tuturnya.

Shinta Maharani

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-30 02:07:38


Iqra 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB