maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


Seorang Martir Bernama Achmad Mochtar

Senin, 29 Juni 2015

Pada 3 Juli, 70 tahun silam, Achmad Mochtar, salah satu ilmuwan kedokteran terkemuka yang dimiliki Indonesia, tewas dipancung polisi militer Jepang. Pada 3 Juli 2015, ilmuwan Sangkot Marzuki dan J. Kevin Baird meluncurkan karya mereka, War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine di depan pusara Mochtar di Ereveld, Ancol, Jakarta Utara. Karya itu sebagai penghormatan terhadap Mochtar. Dia dipaksa mengaku bersalah oleh Jepang melakukan pencemaran terhadap vaksin untuk romusha sehingga hampir 400 romusha di kamp Klender tewas terkena tetanus. Sangkot berpendapat pengakuan itu dibuat Mochtar untuk menyelamatkan belasan sejawat dan bawahannya yang juga ditahan Kenpeitai. Mochtar adalah dokter yang banyak tahu bagaimana, pada masa perang, Jepang bereksperimen membuat vaksin tetanus dengan kelinci percobaan orang-orang romusha. Untuk menutupi eksperimen maut itu, Jepang mengkambinghitamkan Mochtar. Tempo menelusuri cerita tentang bagaimana Jepang membuat vaksin antitetanus itu. Seorang sejarawan Jepang, Profesor Aiko Kurasawa, banyak membantu Tempo dengan memberi informasi. Ia sendiri juga melakukan penelitian selama puluhan tahun mengenai proyek rahasia antitetanus Jepang ini. Juga bagaimana vaksin itu diujicobakan di kamp-kamp romusha di Jawa dan membuat ratusan romusha tewas. Sebuah kolom khusus ditulisnya untuk Tempo.

. tempo : 166985293857

Bergetar bibir RA Kantjana Kusumasudjana, 93 tahun, saat menceritakan pengalamannya ditangkap oleh polisi militer Jepang 70 tahun silam. Beberapa kali ia terdiam dengan tatapan mata ke depan. Ia seperti menahan tangis. Nanny—begitu Kantjana disapa—ketika itu masih gadis dan bekerja sebagai analis di Laboratorium Eijkman di Batavia. Pada tengah hari awal Oktober 1944, saat makan siang di kafe kecil dekat kantor, Nanny dikejutkan oleh datangnya

...
Kuota Artikel Gratis Anda Sudah Habis

Silahkan berlangganan untuk menikmati akses penuh artikel eksklusif Tempo sejak tahun 1971

PAKET TERPOPULER

12 BULAN

696.000

Rp 594.000

  • *Anda hemat -Rp 102.000
  • *Update hingga 52 edisi Majalah Tempo

Pilihan Terbaik

Berlangganan

1 BULAN

Rp 54.945

  • *GRATIS untuk bulan pertama menggunakan Kartu Kredit

Lihat Paket Lainnya

Daftar Tempo ID . Sudah punya akun? Klik Disini

Newsletter

Dapatkan Ringkasan berita eksklusif dan mendalam Tempo di inbox email Anda setiap hari dengan Ikuti Newsletter gratis.

Berita Lainnnya

  • Surat

    Majalah Senin, 29 Juni 2015

  • Surat

    Majalah Senin, 29 Juni 2015

  • Surat

    Majalah Senin, 29 Juni 2015

  • Surat

    Majalah Senin, 29 Juni 2015

Konten Eksklusif Lainnya

  • 27 November 2022

  • 20 November 2022

  • 13 November 2022

  • 6 November 2022


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan