Bagaimana Intelijen Rusia Memberi Imbalan bagi Milisi Taliban Pembunuh Tentara Amerika - Internasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Internasional 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Hadiah dari Unit 29155

Intelijen Rusia diduga memberikan hadiah untuk setiap kematian tentara Amerika Serikat di Afganistan. Taliban dan Rusia membantah.

i Tentara Amerika, terluka karena ledakan bom saat bertempur melawan tentara Taliban, di Selatan Afghanistan, Juni 2012./Reuters/Shamil Zhumatov
Tentara Amerika, terluka karena ledakan bom saat bertempur melawan tentara Taliban, di Selatan Afghanistan, Juni 2012./Reuters/Shamil Zhumatov
  • Intelijen Rusia diduga memberi hadiah US$ 100 ribu untuk setiap kematian tentara Amerika dan koalisi. .
  • Presiden Trump menuding informasi itu palsu.
  • Taliban membantah memiliki kesepakatan seperti itu dengan Rusia. .

SURAT bertanggal 29 Juni 2020 itu ditulis oleh senator Partai Republik dari Indiana, Todd Young, ditujukan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menyampaikan kerisauannya atas informasi badan intelijen Rusia, GRU, yang menawarkan imbalan untuk pembunuhan personel militer Amerika dan pasukan koalisi di Afganistan. "Jika terkonfirmasi, ini layak mendapat tanggapan yang kuat dan segera dari pemerintah kita," kata politikus kelahiran Pennsylvania pada 1972 itu.

Laporan intelijen itu menyatakan Rusia memberikan hadiah US$ 100 ribu untuk setiap tentara Amerika dan sekutu yang tewas. Informasi ini diperoleh dari hasil penggerebekan di sejumlah tempat di Afganistan yang menemukan uang ratusan ribu dolar, pemantauan transaksi keuangan, dan pengakuan tahanan. Kabar itu pertama kali dituliskan oleh New York Times pada 26 Juni lalu dan diperkuat laporan serupa dari Washington Post dan CNN dua hari kemudian.

Tawaran hadiah kepada kelompok milisi yang terkait dengan Taliban ini diyakini telah mengakibatkan kematian sejumlah tentara Amerika, tapi tidak diketahui persis jumlahnya. Sebanyak 10 tentara Amerika tewas di Afganistan karena ditembak musuh atau terkena bom pada 2018 dan 16 orang pada 2019. Dua tentara juga terbunuh pada tahun ini.


New York Times menyebutkan peristiwa pengeboman pada April 2019 mungkin terkait dengan program ini. Saat itu, sebuah bom meledak di pinggir jalan ketika tentara Amerika sedang melintas menuju pangkalan militer di Lapangan Terbang Bagram. Tiga prajurit infantri meninggal dalam serangan itu.

Temuan ini telah disampaikan kepada Trump dan dibahas Dewan Keamanan Nasional pada akhir Maret lalu. Pejabat yang mengikuti pertemuan menawarkan sejumlah opsi, dari protes diplomatik ke Moskow hingga serangkaian sanksi, tapi Gedung Putih belum memutuskan bertindak.

Isu ini menjadi perdebatan ramai karena Trump dan Gedung Putih memberikan pernyataan dengan nada berbeda. Pada Sabtu, 4 Juli lalu, juru bicara Gedung Putih, Kayleigh McEnany, mengatakan Trump dan Wakil Presiden Mike Pence tidak mendapat penjelasan mengenai hal ini. Keesokan harinya, Trump mengatakan informasi itu palsu. Namun, malamnya, Trump menulis di Twitter bahwa "mereka (intelijen) tidak melihat info ini dapat dipercaya".

Kesimpangsiuran ini memicu kritik dari politikus Partai Demokrat dan Partai Republik. "Saya berharap pemerintah Trump menanggapi tuduhan itu dengan serius dan segera menginformasikan kepada Kongres soal keandalan laporan ini," ujar Ketua Komite Kehakiman Senat Lindsey O. Graham. Senator Republik, Liz Cheney, mempertanyakan langkah apa yang sudah dilakukan Trump.

Presiden Amerika Serikat melakukan kunjungan mendadak ke Pangkalan Udara Amerika Serikat di Bagram, Afghanistan, November 2019./Reuters/Tom Brenner

Gedung Putih mengundang senator dari Republik dan Demokrat secara terpisah pada 30 Juni lalu untuk menjelaskan masalah ini. Dalam konferensi pers seusai pertemuan, Pemimpin Mayoritas DPR Steny Hoyer mengaku tidak melihat indikasi bahwa laporan intelijen itu kabar bohong. "Tidak ada dalam briefing yang baru saja kami terima yang membuat saya percaya itu adalah kebohongan. Mungkin ada penilaian yang berbeda mengenai tingkat kredibilitasnya, tapi tidak ada pernyataan bahwa informasi itu palsu," tutur politikus Demokrat tersebut.

Menurut New York Times, salah satu figur sentral dalam program Rusia itu adalah Rahmatullah Azizi. Ia disebut dalam laporan intelijen Amerika dan dikonfirmasi oleh para pejabat Afganistan sebagai perantara yang membagikan uang hadiah dari unit intelijen militer Rusia kepada milisi Taliban.

Menurut tetangga dan kerabatnya, Azizi dikenal sebagai penyelundup obat terlarang. Belakangan, ia ikut mengambil kontrak proyek-proyek konstruksi di Afganistan dari pasukan koalisi pimpinan Amerika. Dia memamerkan kekayaannya setelah mendirikan sebuah markas di Rusia, meskipun tidak jelas dari mana dia mendapatkan harta tersebut. Dalam perjalanan rutinnya pulang ke Afganistan utara, ia biasa mengendarai mobil model terbaru dan dilindungi pengawal. Rumahnya pun baru saja disulap menjadi vila empat lantai.

Petugas keamanan Afganistan yang menyelidiki skema hadiah pembunuhan itu kemudian menggerebek dan menangkap puluhan kerabat serta rekan Azizi sekitar enam bulan lalu. Azizi lolos, tapi petugas menemukan uang tunai sekitar US$ 500 ribu di salah satu rumahnya di ibu kota Afganistan, Kabul.

Azizi diduga mengambil uang tunai di Rusia, lalu mengirimnya ke Afganistan melalui hawala—sistem pengiriman informal yang mengandalkan jaringan broker. Menurut para pengusaha rekan Azizi yang ditangkap, duit transfer sering dipecah dalam jumlah lebih kecil yang disebar ke beberapa negara sebelum tiba di Afganistan. Para pejabat Afganistan mengatakan, di antara dana itu, terdapat hadiah US$ 100 ribu untuk tentara Amerika dan pasukan koalisi yang terbunuh. Bagaimana uang itu dibagikan kepada para milisi Taliban masih belum jelas.

Setengah tahun lalu, badan intelijen Afganistan, Direktorat Keamanan Nasional, menyerbu kantor beberapa pengusaha hawala di Kabul dan Kunduz yang diduga terkait dengan skema hadiah itu. "Sasaran operasi adalah Rahmat, yang bolak-balik ke Rusia untuk waktu yang lama dan mengaku bekerja di sana tapi tidak diketahui apa yang dia lakukan," ucap Safiullah Amiry, Wakil Kepala Dewan Provinsi Kunduz. Rahmat adalah panggilan Azizi. "Dari apa yang saya dengar dari pejabat keamanan, uang itu datang dari Rusia melalui Rahmat."

Para pejabat intelijen Amerika meyakini operasi rahasia itu sebagai pekerjaan Unit 29155, sayap GRU. Unit ini pula yang diduga sebagai pelaku peracunan Sergei Skripal di Salisbury, Inggris, pada Maret 2018. Skripal adalah mantan perwira GRU yang membelot dan bekerja untuk intelijen Inggris. Para pejabat intelijen Barat mengungkapkan, unit itu, yang telah beroperasi selama lebih dari satu dekade, bertugas mengacaukan Barat melalui kegiatan subversi, sabotase, dan pembunuhan.

Intelijen Amerika mengatakan GRU pula yang berada di tengah upaya rahasia Moskow ikut campur tangan dalam pemilihan Presiden Amerika pada 2016 yang dimenangi Trump. Pada bulan-bulan sebelum pemilihan itu, para pejabat Amerika mengatakan dua unit siber GRU, yang disebut 26165 dan 74455, meretas server Partai Demokrat dan kemudian menggunakan WikiLeaks untuk mempublikasikan komunikasi internal pesaing Partai Republik tersebut.

Ada sejumlah dugaan motif operasi rahasia ini. Beberapa pejabat menyebutkan Rusia mungkin ingin membalas dendam terhadap pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam pertempuran di Suriah pada 2018 yang menewaskan beberapa ratus personel pasukan pro-Suriah, termasuk banyak tentara bayaran Rusia. Dugaan lain, Rusia membalas dendam lamanya saat Uni Soviet dipaksa keluar dari Afganistan pada 1980-an. Tentara Merah Soviet (kini Rusia) mundur setelah tidak mampu meredam pemberontakan kelompok milisi Islam yang didukung Amerika Serikat.

Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban, membantah tudingan tersebut. "Kesepakatan dengan agen intelijen Rusia seperti ini tidak berdasar," katanya. Ia mengakui bahwa dulu mereka menyerang pasukan Amerika, tapi dengan sumber daya sendiri. "Itu berubah setelah kesepakatan kami dengan Amerika untuk tidak menyerang mereka." Taliban dan Amerika meneken perundingan damai pada Februari lalu.

Bantahan juga datang dari Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebut informasi itu sebagai "spekulasi yang tidak bermoral dan tidak ada fakta konkret yang disampaikan". Dia menuding informasi tersebut ditujukan untuk mencederai pemerintah Trump sebelum pemilihan Presiden Amerika pada November mendatang. "Seluruh cerita sepertinya telah ditulis dan dirancang khusus untuk tujuan perjuangan politik domestik menjelang pemilihan," ujarnya.

ABDUL MANAN (NEW YORK TIMES, CNN, WASHINGTON POST, STAR TRIBUNE, AXIO)

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

2020-08-14 12:10:39

Rusia Afganistan Amerika Serikat

Internasional 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.