Pembangkang dari Mogadishu - Internasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Internasional 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pembangkang dari Mogadishu

Anggota Kongres Amerika Serikat, Ilhan Omar, diserbu berbagai serangan dan ancaman. Dipicu kritiknya soal lobi Israel.

i Ilhan Omar beorasi di depan gedung Kongres Amerika Serikat, Capitol Hill, Washington, DC, April 2019./ REUTERS/Aaron P. Bernstein
Ilhan Omar beorasi di depan gedung Kongres Amerika Serikat, Capitol Hill, Washington, DC, April 2019./ REUTERS/Aaron P. Bernstein

 

Ratusan perempuan yang ter-gabung dalam Black Wo-men Matter menggelar se--buah panggung sederhana di depan Gedung Capitol, Wa--shington, DC, Amerika Serikat, Se--lasa, 30 April lalu. Secara bergantian me--reka berorasi mendukung Ilhan Omar, pe--rempuan muslim berkulit hitam anggota Kongres yang terus diserang Partai Republik dan Presiden Donald Trump.

Serangan kepada Omar berpangkal dari kritiknya terhadap pengaruh lobi Israel dalam politik Amerika, yang membuatnya dituding sebagai anti-Yahudi. Penulis dan aktivis Angela Davis, yang hadir di pang-gung Capitol, menilai Omar menjadi sasaran, “Karena dia muslim kulit hitam dan imigran yang ‘berbicara untuk membela Palestina’.”


Serangan dan ancaman belakangan ini bermula dari pidato Omar di Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) pada Maret lalu tentang kondisi kebebasan sipil muslim selepas serangan teroris pada 11 September 2001. “CAIR didirikan setelah 11 September karena mereka mengakui bah-wa beberapa orang telah melakukan sesuatu dan kita semua (muslim di Ame-rika) mulai kehilangan kebebasan sipil kita,” katanya. Omar sebetulnya keliru karena CAIR berdiri sejak 1994 meski banyak anggota baru bergabung sesudah serangan itu.

W251bGwsIjIwMjAtMTItMDEgMDI6MjI6MTgiXQ

Trump kemudian mencuit video pidato Omar yang sudah disunting sehingga yang terdengar cuma sampai “beberapa orang telah melakukan sesuatu”. New York Post, koran milik Rupert Murdoch, sekutu Trump, memajang kutipan itu di sampul edisi 12 April dengan latar belakang gedung World Trade Center di New York yang terbakar dan komentar: “Inilah se--suatumu itu… 2.997 orang meninggal oleh te--ro-risme.” Para politikus Republikan me--nyam-but-nya dengan ikut mengecam Omar.

Para legislator Partai Demokrat me-nge-cam cuitan Trump. Ketua Dewan Per-wa-kilan Rakyat Nancy Pelosi meminta Trump mencabut cuitannya karena akan memicu kekerasan dan kebencian. Pelosi juga meminta polisi meningkatkan perlindungan terhadap Omar.

Ini bukan serangan pertama kepada Omar. Februari lalu, Biro Penyelidik Federal (FBI) menahan Letnan Christopher Hasson, yang diduga berencana mem-bunuh sejumlah jurnalis dan tokoh kiri-tengah, termasuk Omar. Menurut jaksa penuntut, Hasson menggambarkan di--ri-nya sebagai nasionalis kulit putih yang akan menggunakan kekerasan untuk me--ne-gak-kan tanah air kulit putih. Setelah itu, sebuah grafiti bertulisan “Bunuh Ilham Omar” terpampang di toilet stasiun peng-isian bahan bakar Holiday di Rogers, Minnesota.

Maret lalu, Jeanine Pirro, pengasuh acara Fox News, mempertanyakan kesetiaan Omar terhadap Amerika karena Omar memakai hijab. Komentar itu dikecam sebagai prasangka buruk dan islamofobia. Fox juga mengecam komentar itu dan tayangan Pirro tak disiarkan pada pekan berikutnya. Pada awal April, seorang pen-dukung Trump menelepon kantor Omar dan memaki: “Omar adalah teroris brengsek. Saya akan tembak kepala breng-seknya.”

ILHAN Omar lahir di Mogadishu, 4 Oktober 1981, dan menghabiskan tahun-ta-hun awalnya di Baidoa, Somalia. Dia putri bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Nur Omar Mohamed, adalah pelatih guru. Ibunya, Fadhuma Abukar Haji Hussein, meninggal saat Omar berusia dua tahun. Ia lalu dibesarkan ayah dan kakeknya. Ketika dia berusia delapan tahun, Somalia dilanda perang antara pasukan Pemerintah Federal Somalia, yang dibantu pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika, dan berbagai kelompok, termasuk faksi teroris militan. Kekerasan itu membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

Omar dan keluarganya mengungsi ke kamp Dadaab di Garissa, Kenya, dekat perbatasan Somalia. Pada 1992, Omar sekeluarga bermigrasi ke Amerika dan mendapat suaka tiga tahun kemudian. Mereka sempat tinggal di Virginia sebelum bermukim di Minneapolis. Mohamed bekerja sebagai sopir taksi sebelum menjadi pegawai kantor pos. Omar mendapat kewarganegaraan Amerika pada 2000 ketika berusia 17 tahun.

Dalam sebuah wawancara dengan Time, ia mengaku mengalami sejumlah diskriminasi karena mengenakan hijab selama di Virginia. Teman-teman se--ke-lasnya pernah menempelinya dengan per-men karet dan mendorongnya saat me-nuruni tangga.

Omar kuliah di North Dakota State Uni-ver-sity dan lulus dengan gelar sarjana ilmu politik dan studi internasional pada 2011. Ia sempat bekerja sebagai pengajar gizi masyarakat di University of Minnesota sebelum terjun ke politik. Pada 2012, ia menjadi manajer kampanye Kari Dziedzic, calon senator Negara Bagian Minnesota. Tahun berikutnya, ia mengelola kampanye Andrew Johnson, calon anggota Dewan Kota Minneapolis. Setelah Johnson terpilih, Omar menjadi penasihat kebijakan se--nior-nya selama 2013-2015.

Melalui Partai Demokrat, Omar lalu men-calonkan diri sebagai anggota Dewan Per-wakilan Rakyat dari Minnesota pa-da pemilihan umum 2018. Ia berhasil me-ng-alahkan aktivis konservatif Jennifer Zielinski dengan dukungan 78 persen suara. Ia dan Rashida Tlaib dari Michigan kemudian menjadi perempuan muslim pertama yang menjadi anggota Kongres.

Saat akhirnya dilantik menjadi anggota Kongres, 6 Januari lalu, Omar memberikan warna baru di Gedung Capitol. Sejak 1837, anggota Kongres dilarang mengenakan penutup kepala. Omar dan koleganya di Demokrat lalu mengusulkan revisi aturan itu. Setelah melalui pemungutan suara, Kong-res menyetujui usul tersebut dan oto-matis mengakhiri ketentuan yang sudah berlaku 181 tahun itu.

Omar dikenal sebagai pengkritik dis-kri-minasi berdasarkan ras dan agama, juga dukungan membabi-buta Amerika ter-hadap Israel, bahkan sebelum dia menjadi anggota Kongres. Sebulan setelah duduk di Kongres, ia mencuit pernyataan yang mem-pertanyakan pengaruh kelompok lobi Ya-hudi, Komite Urusan Publik Israel Amerika (AIPAC), terhadap politik Ame-rika.

Dalam diskusi tentang konflik Israel-Palestina pada satu forum yang sama dengan Rashida Tlaib, awal Februari lalu, ia mengungkapkan hal senada. “Saya ingin berbicara tentang pengaruh politik di negara ini yang mengatakan tidak apa-apa mendorong kesetiaan terhadap negara asing,” ujar Omar.

Politikus Republik dan sejumlah orang Demokrat menuding cuitan itu sebagai sikap anti-Yahudi. Omar akhirnya membuat permohonan maaf di bawah tekanan pim-pinan Partai Demokrat. Donald Trump me-nyerang Omar dan memintanya meng-un-durkan diri atau dilarang bertugas di ko-mite Kongres sebagai hukuman atas ko-mentarnya mengenai Israel. “Anti-Yahudi tidak memiliki tempat di Kongres Amerika Serikat,” kata Trump.

Cuitan tentang Israel itu mendorong ide lahirnya resolusi yang mengutuk sikap anti-Yahudi. Namun isinya lantas diubah. Resolusi tak hanya menyangkut sikap anti-Yahudi, tapi juga mengecam semua jenis kebencian dan intoleransi, termasuk fobia terhadap Islam. Resolusi itu dibahas di DPR, 8 Maret lalu, dan lolos dengan hasil 407 suara berbanding 23 suara. Dua puluh tiga legislator dari Partai Republik menentang, tapi semua politikus Demokrat, termasuk Omar, mendukungnya.

Sikap Omar yang berani mempersoalkan pengaruh kelompok lobi Israel itu dipuji Komite Kampanye Perubahan Progresif, kelompok advokasi liberal. Mereka me-nyebut Omar sebagai “bintang rock dari ke--lompok progresif” dan menyatakan mu-lai menggalang dana untuk politikus De-mokrat pendukung Omar. Mereka juga menyebut tindakan para kolega De-mo-krat yang mempersoalkan Omar “me-malukan”.

Serangan dan ancaman yang dialami Omar tak menyurutkan langkahnya. Saat dipojokkan dengan tudingan anti-Yahudi, Omar menegaskan sikapnya bahwa dia terpilih sebagai anggota Kongres bukan untuk hanya diam dan tak melakukan sesuatu. Ia juga membela patriotismenya. “Saya bersumpah menegakkan konstitusi. Saya sama seperti orang Amerika lain,” tuturnya dalam acara The Late Show with Stephen Colbert.

ABDUL MANAN (NEW YORK TIMES, GUARDIAN, VOX)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-12-01 02:22:20


Internasional 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB