Mencari Aman di Balik Ancaman - Internasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Internasional 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mencari Aman di Balik Ancaman

Eksodus warga Ukraina menghindari konflik pemerintah dengan kelompok separatis. Sebagian besar melarikan diri ke Rusia, yang dianggap sebagai pencetus konflik.

i

Berjarak hampir 10 kilometer dari Simferopol, tepatnya di Desa Mazanka, terdapat sebuah kamp yang didirikan Kementerian Situasi Darurat Rusia. Kamp itu menjadi tempat transit dan penampungan sementara bagi warga Ukraina yang melarikan diri dari Donetsk dan Lugansk, dua provinsi yang dikuasai pemberontak.

Sudah ada lebih dari 800 pengungsi yang tinggal di Mazanka dan jumlahnya terus bertambah setiap hari. Warga Donetsk dan Lugansk terpaksa mengungsi beserta seluruh keluarga, dengan anak-anak yang terlihat ketakutan akibat pertempuran antara tentara Ukraina dan kelompok separatis pro-Rusia.

"Rumah kami tidak jauh dari Teplogorsk. Kota ini terus dibombardir, sehingga kami selalu ketakutan," kata Elmira Maltseva, warga Stakhanov, di Lugansk, kepada Russia Beyond the Headlines, Senin pekan lalu. Maltseva terpaksa mengungsi bersama suami dan kedua anaknya.


Konflik yang pecah di Ukraina timur itu dipicu oleh tindakan pemberontak pro-Rusia yang merebut kantor-kantor pemerintah dan berusaha memisahkan diri dari Kiev pada pertengahan April lalu. Akibatnya, ratusan ribu keluarga terpaksa mengungsi, sebagian besar ke Rusia atau ke kota lain di Ukraina yang jauh dari wilayah konflik. Warga sipil berusaha keluar dari Donetsk dan Lugansk, yang telah dideklarasikan sebagai negara independen oleh kelompok separatis pro-Rusia.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) menyatakan kondisi permukiman yang terjebak konflik sudah memburuk dan dalam keadaan kritis. Konflik menyebabkan Lugansk, 32,2 kilometer dari perbatasan Rusia, menjadi kota yang sepi, ditinggalkan penduduknya mengungsi sejak awal April lalu. Jumlah populasi menyusut dari 450 ribu orang menjadi 250 ribu orang. Lugansk juga telah menjadi kota terisolasi tanpa air, penerangan, listrik, dan jaringan telepon.

Organisasi Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) melaporkan warga setempat kesulitan mendapatkan air dan bahan makanan. Bahkan ada warga yang terpaksa mengubur jenazah kerabatnya di pekarangan rumah karena layanan pemakaman tak lagi beroperasi. Transportasi juga sudah tak berjalan baik.

Situasi di Donetsk dianggap masih lebih baik meski berada dalam ancaman letusan senjata api ataupun ledakan mortir. Listrik dan lampu masih menyala, tapi jam malam telah diberlakukan. Pekan lalu OSCE melaporkan terjadi kerusakan pada dua bangunan rumah bertingkat dan rumah sakit di pusat kota. Warga terlihat mengalami trauma, ada yang berlindung di ruang bawah tanah stasiun kereta api.

"Kita tahu situasi kemanusiaan di Ukraina timur memburuk. Pertempuran telah berlangsung selama beberapa minggu terakhir. Situasi mulai menyedihkan karena tak ada persediaan obat-obatan, akses ke air bersih, listrik, dan semuanya," kata Kepala Operasi ICRC untuk Eropa dan Asia Tengah Laurent Corbaz.

Perserikatan Bangsa-Bangsa merilis data setidaknya 344 ribu orang telah melarikan diri dari Ukraina timur dan sekitar 2.086 orang tewas sejak konflik pecah di wilayah itu. Data Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) malah lebih besar: lebih dari 730 ribu warga Ukraina telah melarikan diri selama empat bulan konflik. Sebanyak 117 ribu orang mengungsi ke Ukraina pusat dan barat untuk menghindari pertempuran. Jumlah ini terus meningkat 1.200 orang per hari

Direktur UNHCR untuk Eropa, Vincent Cochetel, mengatakan jumlah itu tak termasuk data musiman, seperti wisatawan dan pebisnis. "Kami melihat mereka di perbatasan. Terkadang mereka hanya berjalan di seberang perbatasan. Sebagian hanya membawa beberapa kantong plastik. Banyak dari mereka benar-benar miskin," katanya dalam konferensi pers pada awal Agustus lalu.

Pengungsi dari Ukraina timur merupakan 87 persen dari jumlah semua pengungsi akibat konflik yang timbul setelah penggulingan Viktor Yanukovych dari kursi kepresidenan pada Februari lalu. Tapi warga yang mengungsi itu tak mendapat bantuan pemerintah Ukraina.

Bantuan justru datang dari pemerintah Rusia, yang sudah bersiaga di perbatasan. Kementerian Situasi Darurat Rusia menyediakan akomodasi dan kamp pengungsi. "Bantuan tersebut dikirim dari Moskow, St Petersburg, Volgograd, Chelyabinsk, bahkan dari seluruh Rusia. Ada juga pakaian, obat-obatan, dan makanan," kata Alexei Boiko, politikus Rusia, dalam sebuah wawancara dengan BBC.

Keberadaan Rusia di perbatasan itu, termasuk adanya pergerakan 20 ribu tentara, sempat menimbulkan kekhawatiran Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Amerika Serikat. Mereka menduga Rusia akan menginvasi Ukraina. Tapi Rusia menyatakan tentara itu ditempatkan semata untuk melindungi warga negara mereka di Ukraina dari ancaman bencana kemanusiaan.

Menurut Layanan Migrasi Federal Rusia, akibat membanjirnya pengungsi yang masuk ke wilayah Rusia, sejak 1 Agustus lalu sudah ada 168.677 orang yang mengajukan suaka. Mereka ingin mendapatkan status pengungsi, kewarganegaraan Rusia, atau status perlindungan lain.

Keadaan diperkirakan tak segera membaik. Apalagi, dalam beberapa pekan terakhir, Donetsk telah dikepung oleh tentara Ukraina yang ingin menumpas pemberontak. Melihat manuver tentara Ukraina yang mendekati Donetsk ini, ada ketakutan besar bahwa pertempuran bisa pindah ke pusat kota, yang merupakan rumah bagi setidaknya satu juta orang.

Rosalina (Russia Beyond The Headlines, The Guardian, BBC)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-10-22 07:56:39


Internasional 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB