Rekaman Pembuka Rahasia Puluhan Tahun - Internasional - majalah.tempo.co ‚Äč

Internasional 2/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Rekaman Pembuka Rahasia Puluhan Tahun


Pemimpin Partai Sinn Fein di Irlandia Utara diduga kuat terlibat penculikan dan pembunuhan yang terjadi 42 tahun lalu. Kepolisian melimpahkan kasusnya ke kejaksaan.

Edisi : 12 Mei 2014
i

Malam itu, Ahad dua pekan lalu, para loyalis pro-Inggris memblokade jalan-jalan di depan kantor polisi Antrim, Irlandia Utara, sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Puluhan pengunjuk rasa memegang bendera dan spanduk di luar gedung sambil berteriak, "Keadilan bagi korban." Mereka menentang keputusan kepolisian yang membebaskan Gerry Adams, pemimpin partai politik Sinn Fein di Irlandia Utara.

Para pengunjuk rasa menghalang-halangi mobil Land Rover yang diduga akan membawa Adams agar tak meninggalkan gedung kepolisian. Polisi sudah berjaga-jaga membentengi para pengunjuk rasa dengan mobil lapis baja. Tapi Adams rupanya telah menyelinap pergi lewat pintu belakang dan menumpang kendaraan polisi lainnya.

Adams dibebaskan dari tahanan setelah diinterogasi 33 kali selama 96 jam oleh polisi sejak Rabu dua pekan lalu untuk diselidiki dugaan keterlibatannya dalam kematian Jean McConville. McConville, janda dengan 10 anak, diculik dari rumahnya pada 1972. Meski Adams dibebaskan, kepolisian telah melimpahkan berkas-berkas kasusnya kepada jaksa penuntut umum untuk diperiksa lebih lanjut oleh kejaksaan.


"Penyelidikan telah dilakukan oleh detektif dari kepolisian," demikian pernyataan kepolisian Irlandia Utara, seperti dilansir Sky News. "Saat ini kami telah melimpahkan kasus ke kejaksaan."

Penangkapan Adams atas tuduhan penculikan dan pembunuhan McConville mengejutkan publik di Irlandia Utara. Sejak adanya kesepakatan damai antara Irlandia Nasionalis Katolik dan sebagian besar Protestan Loyalis pro-Inggris pada 1998, publik tak menduga jika hal semacam itu terjadi. Meskipun demikian, Wakil Pemimpin Sinn Fein, Martin McGuiness, yakin Adams tak bersalah. Tuduhan terhadap Adams, menurut dia, persis seperti yang terjadi pada 1978, ketika Adams ditangkap karena dituduh memerintahkan pengeboman hotel yang mengakibatkan 12 orang Protestan tewas.

McConville, kala itu berusia 37 tahun, diculik dari rumahnya di Belfast barat dan ditembak oleh orang-orang dari Tentara Republik Irlandia (IRA), kelompok paramiliter Katolik di Irlandia Utara. Jasadnya baru ditemukan pada 2003 di Count Louth, 80 kilometer dari rumahnya. Dari kerangka itu diketahui McConville tewas karena luka tembak di bagian belakang kepala.

"Mereka datang sekitar waktu minum teh dan menyeretnya keluar dari kamar mandi, menyeret dia keluar," kata putri McConville, Helen McKendry, kepada CNN.

McConville dilaporkan dibunuh karena IRA percaya dia mata-mata angkatan darat Inggris. McKendry membantah tuduhan itu dengan alasan ibunya sudah terlalu sibuk dengan 10 anak untuk sempat menjadi informan. McConville adalah satu dari 15 orang yang diculik IRA dan dikubur di tempat rahasia.

Adams mengakui memiliki hubungan dengan IRA, tapi berulang kali menyangkal terlibat kasus McConville. "Saya percaya pembunuhan Jean McConville serta penguburan rahasia tubuhnya itu salah dan merupakan ketidakadilan yang pedih," ujar lelaki 65 tahun ini dalam pernyataan yang diunggah di situs partainya.

Dengan tegas Adams membantah semua tuduhan yang dinilainya bersifat politis itu. "Meski saya tidak pernah memisahkan diri dari IRA dan tak akan pernah melakukannya, saya tidak bersalah sedikit pun atas penculikan, pembunuhan, atau pemakaman Nyonya McConville," katanya.

Masalahnya, bantahan Adams agak bertentangan dengan bukti rekaman wawancara dengan mantan anggota IRA yang dilakukan Boston College melalui proyek akademik tentang konflik di Irlandia Utara. Di dalamnya ada catatan lisan tentang apa yang terjadi selama beberapa dekade pertempuran yang melanda Irlandia Utara.

Rekaman itulah yang kemudian menghidupkan kembali pengusutan kasus kematian McConville. Tahun lalu pengadilan di Amerika Serikat memutuskan bahwa rekaman dari narasumber yang sudah meninggal yang berisi klaim tentang pembunuhan McConville harus diserahkan kepada kepolisian Irlandia Utara.

Para mantan milisi yang mengikuti proyek itu memang diberi tahu wawancara yang direkam akan dirahasiakan sampai mereka meninggal. Salah satu narasumbernya adalah Brendan Hughes, mantan anggota IRA. Dalam wawancara, dia menyebutkan keterlibatan Adams dalam pembunuhan McConville. Berdasarkan pengakuan lisan dalam rekaman itulah, pada Rabu dua pekan lalu, penyidik dari kepolisian Irlandia Utara menangkap Adams untuk diinterogasi.

Dalam rekaman yang diserahkan pekan lalu, Hughes bertutur soal kasus McConville: "Aku tahu dia sedang dieksekusi. Aku tahu itu. Namun aku tidak tahu dia dikuburkan atau hilang seperti yang mereka katakan sekarang."

Adams adalah politikus Katolik yang membantu menjadi penghubung perdamaian di Irlandia Utara. Saat ini Sinn Fein merupakan partai oposisi terbesar kedua di Irlandia. IRA pernah dianggap sebagai sayap bersenjata Sinn Fein.

Martin McGuiness, wakil pemimpin Sinn Fein, mengatakan kepada wartawan di Belfast bahwa penangkapan Adams merupakan tindakan yang tak perlu, tak dibenarkan, dan bermotif politik. Dari kasus ini, dia melihat sisi gelap kepolisian Irlandia Utara dalam beberapa hari terakhir. Penangkapan Adams dinilai sebagai upaya disengaja untuk mempengaruhi pemilihan umum, yang dijadwalkan berlangsung akhir bulan ini. Namun dia yakin Adams akan segera bergabung kembali dalam kampanye pemilihan itu. "Dan akan terus memimpin partai kami dengan cara yang sangat positif," ujarnya.

McGuiness, yang juga menjabat Wakil Menteri Utama Irlandia Utara, bahkan mengancam partainya akan menarik dukungan bagi kepolisian Irlandia Utara (PSNI) jika Adams didakwa sehubungan dengan kasus kematian McConville.

Dukungan Partai Sinn Fein terhadap PSNI merupakan salah satu elemen penting dari perdamaian dalam konflik sektarian di Irlandia Utara. Selama beberapa generasi, kaum republik memandang polisi sebagai musuh dan sekadar boneka pemerintah Inggris. Tapi, sejak 2007, ketika Sinn Fein bergabung dengan badan pengawas PSNI, situasi berubah. Sejak itu, Sinn Fein menyatakan dukungannya terhadap polisi dan mendorong kaum muda Katolik untuk bergabung dengan PSNI.

Menanggapi ancaman tersebut, Kepala PSNI Matt Baggott menyatakan tak ada keberpihakan atau motivasi terselubung atas penyelidikan Adams. Menurut dia, penangkapan dan interogasi terhadap Adams adalah tindakan sah dan justru salah jika memperlakukan pemimpin Sinn Fein itu berbeda dari warga lain. "Dalam demokrasi, polisi bertugas mengikuti bukti tanpa rasa takut atau dan sesuai dengan hukum. PSNI berkomitmen melakukannya meskipun ada tekanan yang tidak semestinya," katanya seperti dilansir BBC News.

Irlandia Utara merupakan bagian dari Inggris Raya. Pulau Irlandia terbelah menjadi Irlandia Utara dan Irlandia Selatan pada 1921. Irlandia Utara terdiri atas enam wilayah yang mayoritas warganya adalah umat Protestan. Sedangkan Irlandia Selatan terdiri atas 26 wilayah, mayoritas penduduknya Katolik. Pada 1949, Irlandia Selatan berdiri menjadi Republik Irlandia yang merdeka penuh. Sedangkan Irlandia Utara berada di bawah pemerintah Inggris.

Alih-alih hidup damai, konflik sektarian pecah di Irlandia Utara antara kelompok Protestan dan kelompok Katolik. Situasi ini disebut sebagai The Troubles, mengacu pada konflik selama 30 tahun sejak 5 Oktober 1968 saat berlangsung pawai hak-hak sipil.

Warga minoritas Katolik di Irlandia Utara ingin memisahkan diri dari Inggris dan merdeka sepenuhnya dalam satu kesatuan Irlandia. Sedangkan kelompok mayoritas Protestan tetap ingin berada di bawah pemerintah Inggris.

Situs BBC melansir, selama konflik The Troubles, lebih dari 3.600 orang tewas, baik dari pihak paramiliter republik, loyalis, maupun aparat keamanan. Jumlah korban yang mengalami cacat fisik mencapai 50 ribu orang, belum termasuk korban yang mengalami gangguan psikologis. Konflik baru reda pada 1998 melalui Perjanjian Jumat Agung, yang menengahi perseteruan panjang itu. Perjanjian ini memberi kerangka politik tentang pembagian kekuasaan di antara para pihak.

Perdamaian memang tak menghapuskan kasus-kasus kejahatan seperti pembunuhan McConville. Tapi pengusutan oleh polisi bisa disalahartikan atau dipolitisasi. Agar tak ada urusannya dengan politik, salah satu putra McConville, Michael, meminta penyelidikan dilakukan tim independen. Michael menjadi saksi bagaimana ibunya diseret dari dalam rumah. Saat itu dia berumur 11 tahun. "Keluarga McConville bersumpah terus berjuang sampai akhir, sampai kami mendapat keadilan bagi ibu kami," ujarnya seperti dilansir RTE News.

Rosalina


Drama Berdarah Jean McConville

Desember 1972
Tetangga mengklaim melihat Jean McConville membantu seorang tentara Inggris yang terluka di Belfast barat. Hari berikutnya dia diserang dan dipukuli. Keesokan malamnya, sekelompok anggota Tentara Republik Irlandia (IRA) mendobrak masuk ke rumah dan menculiknya.

1999
Selama 27 tahun IRA menolak mengakui terlibat dalam pembunuhan McConville.

2003
Berkat sebuah laporan, kepolisian Republik Irlandia menemukan tubuh McConville di sebuah pantai di County Louth.

Pemeriksaan post mortem mengungkapkan McConville telah dimutilasi dan mengalami patah tulang. Para ahli mengatakan dia ditembak di kepala bagian belakang dalam posisi berlutut. Jasadnya kemudian dimakamkan di samping kuburan almarhum suaminya, Arthur.

2008
Komandan IRA Belfast, Brendan Hughes, meninggal. Dalam wawancara yang direkam oleh akademikus dari Boston College, dia mengungkapkan situasi selama masa konflik The Troubles. Hughes menyatakan Gerry Adams memerintahkan pembunuhan McConville.

2013
Pengebom Old Bailey, Dolours Price, mengaku juga telah memberikan wawancara kepada Boston College tentang kematian McConville. Dia melancarkan tuduhan serupa tentang keterlibatan Adams.

Maret 2014
Veteran kelompok republik, Ivor Bell, 77 tahun, dituduh membantu dan bersekongkol dalam pembunuhan McConville.

30 April 2014
Adams ditangkap kepolisian Irlandia Utara atas kasus kematian McConville.

4 Mei 2014
Kepolisian Irlandia Utara membebaskan Adams dan melimpahkan kasusnya ke kejaksaan dengan menyerahkan semua berkas.

Sumber: Daily Mail

2020-04-05 10:45:46


Internasional 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.