Intermezzo 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jalur Kuno Ziarah Santo

ZIARAH makam Santo Thomas Becket dari Canterbury merupakan tradisi ziarah terbesar di Inggris. Baru-baru ini, rute ziarah kuno ke Canterbury ditemukan, merekam jejak Raja Henry II. Tempo menelusuri jalur kuno tersebut dan memotret tren ziarah ke situs-situs religius yang belakangan kian menggeliat di Inggris.

i Gambar peziarah dalam perjalanan menuju Canterbury di jendela Katedral Canterbury, Inggris./wikipedia
Gambar peziarah dalam perjalanan menuju Canterbury di jendela Katedral Canterbury, Inggris./wikipedia

MUSIM panas Juli 2019. Berjalan di bawah sinar matahari pukul sebelas siang terasa seperti merenangi uap panas. Angin serupa hawa yang keluar dari oven menyala, tak mampu mengeringkan keringat yang lengket. Sudah hampir satu jam kami melintasi desa-desa lengang dan ladang gandum kekuningan ketika sampai di sebuah persimpangan dan bingung menentukan jalan.

Kami, rombongan keluarga yang mendorong-dorong stroller bayi, barangkali tak tampak seperti kelompok peziarah. Maka, ketika kami memberi tahu seorang perempuan tua yang sedang merapikan rumpun bunga ungu foxglove di depan Pilgrims Cottage di Desa Kingston bahwa kami mencari rute ziarah ke Canterbury, dia tampak sedikit terkejut. Tapi perempuan pemilik penginapan itu segera menggantinya dengan senyum ramah. “Biasanya mereka melintasi ladang ini,” katanya sambil menunjuk jalan setapak kecil berpalang kayu di samping pondoknya yang mengarah ke ladang gandum luas. “Rute ziarah ini tembus sampai Roma.”

Peta Gough yang menunjukkan rute ziarah makam Santo Thomas Becket dari Canterbury./britishpilgrimage.org

Kami hari itu tak berniat ke Roma. Memulai perjalanan dari Hythe, kota pantai di tepi tenggara Inggris, kami hendak menuju Katedral Canterbury, yang berjarak sekitar 24 kilometer. Di Hythe, kami menumpang tidur di rumah Debbie Patterson, warga lokal yang cukup sering membuka rumahnya untuk peziarah. Biasanya dia menerima peziarah dari sesama jemaat Quakers—salah satu denominasi Kristen. “Kami berkomunikasi lewat grup Facebook. Kalau ada yang melintas di sini kami persilakan singgah,” ujar Patterson, yang lahir di kota kecil itu dan kini kembali untuk menikmati masa pensiunnya di sana.


Posisi Hythe sebenarnya tak tepat berada di jalur ziarah ke Canterbury. Tapi kota itu adalah akses terdekat ke Kastil Saltwood, salah satu situs penting dalam rute ziarah. Di kastil berusia sepuluh abad yang kini menjadi properti pribadi itu, empat kesatria pada suatu malam tahun 1170 berkumpul dan merembukkan rencana pembunuhan Thomas Becket. Kematian Uskup Agung Canterbury itulah yang menjadi latar belakang tradisi ziarah ke Katedral Canterbury.

161813254412

Peta Gough yang menunjukkan rute ziarah makam Santo Thomas Becket dari Canterbury./britishpilgrimage.org

Empat kesatria yang berembuk di Kastil Saltwood adalah abdi Raja Inggris Henry II. Sang Raja dan sang Uskup Agung sebenarnya sahabat dekat. Saat dilantik menjadi raja, Henry- II mengangkat Becket, putra seorang pedagang, sebagai penasihatnya. Pada masa pemerintahannya, Henry II harus berurusan dengan polemik antara kerajaan dan gereja. Ia akhirnya menunjuk Becket sebagai Uskup Agung dengan menerabas berbagai aturan. Harapan- Henry II tentu agar Becket bisa memuluskan agenda-agendanya terhadap gereja. Tak dinyana, setelah menjadi pemimpin tertinggi gereja, Becket malah condong membela kepentingan umatnya dan terang-terangan menentang sang Raja.

Yang terjadi berikutnya adalah hikayat yang dikisahkan turun-temurun. Versi yang kami dengar disampaikan Alan Thistleton, pemandu di Katedral Canterbury. Alkisah, Raja Henry II berang betul melihat kelakuan Becket yang pro terhadap gereja. Sang Raja, yang saat itu sedang berada di Kastil Bures, Normandy (barat laut Prancis), meluapkan kemarahannya dengan kalimat yang kini menjadi bagian dari budaya populer: “Will no one rid me of this turbulent priest?” (Tak adakah yang bisa menyingkirkan pastor menyebalkan ini dariku?) Thistleton memperagakan ulang adegan marah Henry II ini dengan gaya teatrikal.

Belakangan, tutur Thistleton, Henry- II mengklaim kalimat itu hanya ungkapan kegusaran. Namun empat kesatria yang mendengar ucapan sang Raja telanjur menganggapnya sebagai titah, lalu segera bertolak ke Canterbury memburu
Becket. Setelah menyeberangi selat dan berkuda menyusuri bagian selatan Inggris, pada malam kelima selepas Natal 1170, mereka mengetuk pintu katedral tempat Becket sedang mendaraskan doa malam. Mereka meminta Becket tunduk pada kemauan Raja Henry II, yang dengan lantang ditolak. Empat pedang terayun. Ayunan terakhir membelah kepala Becket, membuatnya jatuh berlutut menemui maut.

Kematian Becket melukai umat Katolik seluruh Eropa. Segera Becket ditetapkan sebagai martir dan diberi gelar “Santo” oleh Paus Alexander III. Bermacam-macam mukjizat dikabarkan terjadi pada orang-orang yang menyentuh jubah berdarah peninggalan atau makam Becket. Peziarah pun datang berduyun-duyun ke Katedral Canterbury. Pada tahun pertama kematiannya, lebih dari seratus ribu orang datang berziarah. Tradisi ini berlanjut hingga berabad-abad setelah peristiwa berdarah itu. Kisah tradisi ini antara lain direkam Geoffrey Chaucer dalam antologi cerita The Canterbury Tales yang dikumpulkan selama 1387-1400. The Canterbury Tales, yang bercerita tentang rombongan peziarah yang menuturkan pengalaman masing-masing, menjadi salah satu sumber literatur paling penting tentang tradisi ziarah tersebut.

Karena peziarah datang dari mana saja, rute ziarah ke Canterbury pun bermacam-macam. Peta Matthew Paris yang bertahun 1250 memuat rute ziarah yang terentang dari London melewati Rochester dan berakhir di Canterbury. Rute lain menempel pada jalur ziarah kuno Via Francigena, yang sudah ada sejak 600-450 sebelum Masehi. Jalur ini bermula dari Winchester melewati Canterbury sampai dataran Eropa dan berakhir di Roma. Namun rupa-rupa rute ini menghilang pada abad ke-18, saat Raja Henry VIII mengeluarkan perintah Dissolution of the Monasteries atau pembubaran segala bentuk rumah ibadah termasuk dengan menghancurkan rute-rute ziarah dan melarang total kegiatan perziarahan.

Baru 300 tahun kemudian tradisi tersebut dihidupkan lagi lewat Hilaire Belloc dan Julia Cartwright. Belloc pada 1904 menulis buku The Old Road yang kemudian dikuatkan Cartwright dengan merilis The Pilgrims’ Way from Winchester to Canterbury pada 1911. Kedua penulis dan peziarah itu menelisik kembali jalur ziarah sepanjang 15 hari berjalan kaki dari Winchester ke Canterbury yang sudah lama hilang dari ingatan. Berdasarkan penelusuran itu, rute ziarah tersebut diaktifkan kembali dengan nama Pilgrims’ Way dan hingga kini menjadi rute paling populer.

Area sembahyang untuk mengenang Thomas Becket di Katedral Canterbury. /Tempo/Moyang Kasih Dewimerdeka

KAMI tak mengikuti rute Pilgrims’ Way yang terkenal itu. Rute yang kami pilih adalah potongan terakhir jalur sepanjang 400 kilometer yang dinamai The Old Way. Jalur ini baru dua tahun lalu ditemukan kembali. Alih-alih diawali dari Winchester, yang lebih berada di utara, The Old Way dimulai dari Southampton—kota pelabuhan tempat kapal Titanic memulai pelayaran. Penemu rute ini adalah Will Parsons dan Guy Hayward, yang tergabung dalam yayasan British Pilgrimage Trust. Parsons saat dihubungi lewat surat elektronik menyatakan yakin The Old Way adalah rute kuno yang sejarahnya bersinggungan langsung dengan hikayat Henry II dan Thomas Becket. “Raja Henry II diketahui memulai ziarahnya ke Canterbury dari Southampton,” ucapnya.

Memang, Henry II pernah berjalan kaki sendiri ke Canterbury. Setelah kematian Becket akibat kesalahpahaman, dia dikabarkan amat menyesal dan mengurung diri berhari-hari. Ditambah dengan hujan cercaan dari umat Katolik, sang Raja akhirnya memutuskan menebus dosanya lewat “ziarah penyesalan”. Setelah menyeberang dari Normandy, Henry II berjalan dari Southampton. Ziarah itu ia tempuh tanpa alas kaki dan diakhiri dengan hukuman cambuk dari para pendeta Canterbury. The Old Way diyakini sebagai rute yang dilalui Henry- II kala itu.

Parsons dan Hayward menemukan rute ini setelah mengamati peta Gough, atlas tertua Inggris yang dibuat pada 1360. Peta ini dinamai dari Richard Gough, kolektor benda antik abad ke-18 yang mendonasikan koleksinya, termasuk peta kuno, kepada perpustakaan. Peta Gough kini disimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris, tapi versi digitalnya dapat diakses bebas. Selama 200 tahun, peta Gough adalah peta paling akurat yang dipakai para pejalan Inggris. Peta ini juga digunakan pada masa yang beririsan dengan saat Geoffrey Chaucer menulis The Canterbury Tales. Parsons memperhatikan bahwa garis merah di peta yang bermula dari Southampton berakhir persis di Canterbury tanpa menyambung ke Dover, yang saat itu merupakan basis militer dan perdagangan. “Artinya rute ini memang khusus untuk ziarah, bukan jalur perdagangan atau logistik militer,” kata Parsons.

Sejak menemukan rute baru ini, British Pilgrimage Trust bekerja keras merevitalisasinya. Mereka membersihkan jalur; memasang plang penunjuk arah; menentukan lokasi untuk bermalam, seperti penginapan lokal atau gereja tua; dan mengajak sejumlah peziarah mengetes rute tersebut. Bila dengan berjalan kaki, diperlukan sekitar 18 hari untuk menamatkan rute Southampton-Canterbury. Rute ini membentang mengikuti garis pantai selatan, menembus area Taman Nasional South Downs, lalu melewati Lembah Elham di Kent. “Ada beberapa bagian yang kami sesuaikan agar tetap berada di jalur pejalan kaki karena sebagian rute di peta kini telah menjadi jalan tol,” ujar Parsons.

Patung Santo Thomas Becket di ruang bawah tanah katedral. /Tempo/Moyang Kasih Dewimerdeka

Rencananya, rute ini dibuka dan dipublikasikan secara resmi pada musim semi 2020, tepat pada peringatan 850 tahun kematian Santo Thomas Becket. Parsons berharap The Old Way dapat menyamai popularitas rute ziarah Camino de Santiago di Eropa.

Ziarah kami merupakan sesi terakhir rute The Old Way, yang melewati Barham, Kingston, Bishopsbourne, Bridge, hingga ke titik akhir di Canterbury. Perjalanan kami tempuh dengan lima jam berjalan kaki. Rute ini membelah ladang gandum, peternakan domba, dan jalan-jalan kecil desa. Tempat tetirah adalah gereja-gereja tua dengan arsitektur hampir serupa: dinding batu, menara kerucut, dan permakaman berusia ratusan tahun di halamannya. Kami jarang bertemu dengan peziarah lain, yang umumnya dapat dikenali lewat tas carrier dan tongkat kayu hazel mereka. Sesekali kami disalip pengendara sepeda yang selalu ramah menyapa “good morning!”, entah saat itu betul masih pagi entah sudah siang.

Patung Geoffrey Chaucer, penulis The Canterbury Tales, di pusat Kota Canterbury.Tempo/Robby Irfany Maqoma

Kelengangan berakhir saat kami memasuki Kota Canterbury. Katedral Canterbury berada tepat di pusat kota yang padat. Dari luar, hanya menaranya yang terlihat menjulang di antara gedung-gedung pertokoan. Gerbang utamanya hampir tak kentara karena berjejer rata dengan pintu-pintu toko.

Pada pertengahan Juli lalu, area masuk katedral riuh benar oleh turis. Sebagian besar adalah rombongan siswa sekolah berkaus warna seragam. Banyak juga yang datang dari Eropa. Di luar gereja ada sejumlah situs penanda tradisi ziarah, seperti Rumah Sakit Eastbridge St. Thomas the Martyr yang berdiri sejak abad ke-12 sebagai akomodasi untuk peziarah yang papa. Bangunan ini sekarang menjadi rumah kalangan lanjut usia. Ada juga patung Geoffrey Chaucer setinggi 2 meter yang mengenakan jubah peziarah dengan manuskrip The Canterbury Tales di tangannya.

Suasana syahdu dan khidmat kembali saat kami sudah memasuki bangunan katedral. Kelekatan katedral ini dengan peziarah kentara dari banyaknya simbol yang dikhususkan bagi mereka. Sejumlah kaca dekoratif di langit-langit gereja menggambarkan figur-figur pejalan atau penunggang kuda dengan jubah peziarah. Ada pintu masuk khusus peziarah yang terhubung dengan lorong pendek dan tembus langsung ke titik gugurnya Becket. “Lorong khusus peziarah ini dibangun pada abad ke-15 karena jumlah mereka yang makin banyak mengusik pendeta yang sedang beribadah,” kata Alan -Thistleton, pemandu kami. Dua pendeta biasanya berdiri di mulut lorong untuk memberkati peziarah yang datang.

Altar Santo Thomas Becket dengan patung empat pedang di Katedral Canterbury./Tempo/Robby Irfany Maqoma

Tempat sang Santo tewas kini menjadi altar yang dikelilingi lilin-lilin putih gemuk. Di dinding di atas altar tergantung patung rancangan Giles Blomfield dari Truro berupa dua pedang dengan ujung berwarna merah. Permainan cahaya membuat bayangan dua pedang itu kentara sehingga genap merepresentasikan empat pedang para kesatria yang merenggut nyawa Becket.

Di samping altar terdapat pintu kayu yang mengarah pada ruang bawah tanah yang gelap dan bergema. Becket dikuburkan di ruang bawah tanah itu sampai Henry VIII melabeli-nya sebagai pengkhianat dan memerintahkan pemusnahan atas segala peninggalan Becket. Yang tersisa dari Becket hanya fragmen-fragmen kerangka yang bisa diselundupkan pengikutnya dan kini tersebar di Lancashire di Inggris dan Hungaria. Sesekali sisa-sisa tulang Becket itu disimpan bergilir di beberapa gereja di Inggris dan negara lain di Eropa. Di bekas kuburnya saat ini terdapat peti dengan patung tembaga sang martir dalam posisi terbaring. Ada barisan kursi kayu untuk peziarah duduk dan menggumamkan doa-doa.

Dari ruang bawah tanah, peziarah naik ke lantai dua, tempat sembahyang untuk mengenang Becket. Pada 1220-1538, terdapat kuil kecil di sana yang sering dipenuhi emas dan permata, persembahan peziarah untuk santonya. Kuil ini turut dihancurkan pada masa pembubaran gereja. Kini tempat sembahyang itu dibuat sederhana, hanya ruangan luas dengan satu lilin yang selalu menyala di tengahnya. Terdapat tulisan yang mengingatkan pengunjung dan peziarah agar “berdoa untuk semua umat di dunia yang menderita karena siksaan dan ketidakadilan”.

Di sana ziarah berakhir, diiringi gema himne dan lonceng gereja.

MOYANG KASIH DEWIMERDEKA (CANTERBURY)

Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161813254412



Intermezzo 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.