Inovasi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Penghancur Limbah Jarum Suntik

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengembangkan alat penghancur metal bernama Destromed. Bagian dari upaya untuk mengatasi sampah jarum suntik yang bertambah banyak saat masa pandemi.

i Penghancur Limbah Jarum Suntik/Tempo
Penghancur Limbah Jarum Suntik/Tempo

SALAH satu masalah yang kita hadapi pada masa pandemi adalah limbah medis, termasuk jarum suntik. Berbeda dengan sampah rumah tangga, limbah jenis ini tak mudah dihancurkan, terutama bagian metalnya. Inilah yang mendorong Peneliti Ahli Utama Bidang Laser dan Oktoelektronika Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Bambang Widyatmoko mengembangkan alat yang sebelumnya sudah pernah dia rintis. Alat itu bernama Destromed. “Pengembangan ini bagian dari penugasan dari LIPI untuk membantu penanganan Covid-19,” ucap Bambang, Selasa, 23 Februari lalu.

Selama ini, menurut Bambang, jarum suntik itu dimasukkan dalam insinerator alias dibakar. Tapi hal itu menyisakan masalah juga. Sebab, jarum suntik berisi dua material: ampul berbahan plastik dan jarum yang berbahan metal. “Metalnya tidak bisa hancur dibakar karena tidak mencapai titik lebur metalnya. Sebab, suhu insinerator berkisar 800-900 derajat Celsius. Titik leleh stainless steel itu di atas 1.300 derajat Celsius. Jadi masih menyisakan metal yang runcing,” ucapnya. 

Menurut Bambang, dulunya alat ini dikembangkan pada 1990-an, tapi mendapatkan patennya pada 2016. Adapun alat baru ini mulai dikerjakan pada pertengahan 2020 lalu. “Dulu isunya bukan vaksinasi Covid-19, tapi hanya berpikir misalnya ada keluarga yang jadi bidan di kampung. Itu kan jarum suntiknya hanya dipendam atau ditanam di tanah. Dulu isunya pemakaian jarum suntik kan bisa menjadi media penularan HIV,” tuturnya. 

Bambang menambahkan, pengembangan alat ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan penanganan Covid-19 pada tahun lalu. Sebab, waktu itu banyak pemakaian jarum suntik untuk rapid test. “Terus saya memperbaiki sistemnya yang lama supaya lebih mudah pemakaiannya, agar lebih gampang,” ujarnya. 

Cara kerja alat ini sebenarnya cukup sederhana. Jarum suntik yang sudah dipakai dimasukkan ke dalam Destromed yang di dalamnya terdapat elektroda. “Jarum suntik itu kalau itu diberi arus yang kuat, dia akan bertindak sebagai heather. Dengan demikian, ia akan memanaskan dirinya sendiri dan bisa melebur dengan sendirinya,” kata Bambang. 

ilustrasi: djunaedi

Pada alat Destromed itu terdapat gagang yang cukup ditarik ke atas. Ada elektroda yang digerakkan ke atas untuk menekan jarumnya sehingga akan teraliri arus yang kuat. “Prosesnya, kalau yang sudah terbiasa cukup lima detik. Kalau yang masih belum terbiasa sekitar 10-15 detik. Setelah proses itu selesai, metalnya sudah tidak ada,” ujarnya.

Setelah menghancurkan metalnya, berikutnya adalah merusak ampulnya. Di dalam Destromed itu terdapat tombol yang cukup ditekan. “Itu fungsinya adalah membolongi ampul jarum suntiknya,” tuturnya. Setelah keluar dari alat itu, jarum metalnya sudah tidak ada dan ampulnya sudah rusak sehingga tidak bisa dipakai lagi. Setelah itu, sampahnya sudah bisa dikumpulkan dan diolah di tempat pengolahan sampah bahan berbahaya dan beracun (B3). “Yang utama dari alat ini adalah menghancurkan metalnya. Sesaat setelah dipakai, itu harus dihancurkan. Karena penularan penyakit dari orang ke orang bisa melalui jarum itu.”

Bambang menambahkan, ada perbedaan alat baru ini dengan sebelumnya. Pada alat yang sekarang itu perusak ampulnya memakai bor PCB—motor kecil yang memiliki mata bor. Dengan menekan mata bor, tabung sudah terlubangi. “Pada alat sebelumnya, yang dipanaskan hanya jarumnya. Sedangkan ampulnya dirusak pakai semacam gunting,” ujarnya. Masalahnya, ampul jarum cukup tebal plastiknya sehingga alot dan membuat guntingnya cepat tumpul. Prosesnya juga perlu tenaga saat menekan.

Bambang menambahkan, Destromed itu sudah siap diproduksi. LIPI sedang melakukan penjajakan dengan industri yang mau memproduksi alat itu secara massal. Alat semacam itu memang sudah ada yang beredar dan diimpor. Kisaran harganya Rp 2-9 juta. Ia yakin alat inovasinya lebih murah daripada yang diimpor. “Jauh lebih murah kalau diproduksi massal. Saya yakin lebih murah,” ucap Bambang.


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161895884850


Vaksinasi Covid Inovasi

Inovasi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.