Inovasi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Layang-layang Pembangkit Listrik

DI tangan para peneliti Jerman, layang-layang tak lagi sekadar mainan. Jauh dari itu, mereka mulai memodifikasi layang-layang menjadi pembangkit listrik yang murah dan ramah lingkungan serta lebih efektif dibanding pembangkit listrik dari turbin angin konvensional.

i

DI tangan para peneliti Jerman, layang-layang tak lagi sekadar mainan. Jauh dari itu, mereka mulai memodifikasi layang-layang menjadi pembangkit listrik yang murah dan ramah lingkungan serta lebih efektif dibanding pembangkit listrik dari turbin angin konvensional.

Adalah NTS GmbH, perusahaan energi listrik di Berlin, yang mengusung ide ini. Dengan menggandeng Fraunhofer Institute for Manufacturing Engineering and Automation, para peneliti di lembaga ini membuat layang-layang pembangkit listrik yang diterbangkan hingga 500 meter dari permukaan tanah.

Layang-layang itu dihubungkan menggunakan kabel sepanjang 700 meter ke generator pembangkit listrik. Kekuatan embusan angin pada layang-layang akan menarik dan menggerakkan generator, lalu mengubah energi kinetik menjadi listrik.


Layang-layang digerakkan dengan pola tertentu. Salah satunya menggunakan pola gelombang sinus atau berbentuk angka delapan. Manuver terbang layang-layang akan menghasilkan daya tarik hingga 10 kilonewton (kN). Buat mengatur pola gerak, layang-layang ini dilengkapi teknologi sensor sudut dan sensor kekuatan tarik kabel. Hasil deteksi sensor itu digunakan buat mengatur gerak dan posisi layang-layang sesuai dengan jalur gerak yang ditentukan.

161833085431

Konsep kerja layang-layang ini tak jauh berbeda dengan turbin angin pembangkit listrik. Bedanya, layang-layang yang terbang tinggi membuat benda ini punya potensi menangkap embusan angin lebih besar dibanding turbin angin biasa. Pada ketinggian 100 meter, misalnya, kecepatan angin sekitar 15 meter per detik. Kecepatan itu akan meningkat lebih dari 20 meter per detik pada ketinggian 500 meter.

Insinyur Fraunhofer Institute for Manufacturing Engineering and Automation, Joachim Montnacher, mengatakan energi yang dihasilkan layang-layang ini jauh lebih besar dibanding turbin angin biasa. Menurut dia, delapan layang-layang dengan luas total 300 meter persegi mampu menghasilkan listrik yang setara dengan 20 turbin angin berkapasitas daya 1 megawatt.

Para peneliti di dua lembaga itu telah melakukan serangkaian uji coba di Mecklenburg, Jerman bagian utara. Mereka menerbangkan layang-layang setinggi 400 meter.

Sejauh ini, satu sistem yang dikembangkan NTS bisa digunakan buat menerbangkan 24 layang-layang sekaligus dan menghasilkan energi total 120 gigawatt jam (GWh) per tahun. Bandingkan dengan satu turbin angin kapasitas 2 megawatt yang cuma mampu menghasilkan maksimal 4 Gwh per tahun. Artinya, satu sistem layang-layang yang dikembangkan NTS bisa menggantikan 30 unit turbin angin kapasitas 2 megawatt, serta bisa memenuhi kebutuhan listrik sekitar 30 ribu rumah.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833085431



Inovasi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.