maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


Tempo Circular Economy Award

Lewat Aplikasi Mencegah Makanan Terbuang Percuma

Minggu, 15 Januari 2023

Surplus menawarkan sebuah solusi untuk mengubah kebiasaan buruk masyarakat membuang makanan di saat masih banyak orang menderita kelaparan dan kekurangan gizi. #Infotempo

Ilustrasi limbah makanan. tempo : 167552769049

Dalam laporan berjudul Fixing Food: Towards the More Sustainable Food System yang dirilis The Economist pada 2011, Indonesia tercatat sebagai negara terbesar kedua, setelah Arab Saudi, yang menghasilkan sampah makanan  (food waste).   Dalam laporan tersebut dinyatakan bahwa rata-rata orang Indonesia membuang pangan sekitar 300 kilogram setiap tahunnya.

Data Bappenas pada 2021 menunjukkan bahwa setiap tahunnya ada 23-48 juta ton  sampah makanan yang dihasilkan di Indonesia, menimbulkan kerugian secara ekonomis sebesar US$39 miliar per tahun.  Angka ini menurut Bappenas cukup untuk memberi makan sekitar 125 juta orang yang hidup dalam kemiskinan.

Kontribusi besar terbuangnya makanan berasal dari hotel, restoran, katering, supermarket, dan perilaku masyarakat yang gemar menyisakan makanannya. Hasil riset Aksamala foundation pada 2016 menunjukkan 35% restoran di Jakarta membuang kelebihan makanan yang tidak terjual di penghujung hari dengan rata-rata 2-3 kilogram per hari  per restoran.

Banyaknya makanan yang terbuang di saat banyak orang yang masih menderita kelaparan dan kekurangan gizi  membuat miris CEO dan Founder PT Ekonomi Sirkular Indonesia Muhammad Agung Saputra.  Alumnus Imperial College London, Inggris dan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu lalu tergerak menawarkan sebuah solusi untuk mengubah kebiasaan buruk masyarakat membuang makanan dengan memperkenalkan aplikasi Surplus pada Maret 2020. Marketplace di bawah naungan PT Ekonomi Sirkular Indonesia ini berfokus pada food loss and waste atau makanan hilang dan terbuang.

Mengusung tagline Save food. Save budget. Save planet,  Agung membuat Surplus  untuk menghubungkan pelanggan dengan toko makanan yang memiliki makanan berlebih yang akan dibuang jika belum terjual di penghujung hari dengan diskon minimal 50%. Cara kerja aplikasi yang dapat diunduh secara gratis di Google Playstore dan App Store ini  salah satunya bila ada toko makanan yang sudah mau tutup pada jam 10.00 malam, maka selepas jam 06.00 malam toko tersebut dapat mengunggah informasi tentang stok makanan berlebih ke Surplus. Caranya sama seperti mengunggah foto di Instagram, lengkap dengan deskripsi, dan jam pengambilan.

Konsumen yang tertarik, bisa langsung membeli sesuai dengan jam penjualan tersebut. Mereka bisa mengambil sendiri di restoran atau toko terkait, atau dapat memilih menggunakan aplikasi jasa pengantaran online GoSend atau GrabExpress. Untuk pilihan pembayaran Surplus menyediakan opsi, mulai lewat Surplus Pay, mobile banking, hingga dompet digital (e-wallet) yakni Ovo, Gopay,  Dana, dan ShopeePay.

Diperkirakan margin 50% dari setiap produk yang terjual akan lebih menguntungkan untuk meng-cover HPP (Harga Pokok Penjualan) daripada terbuang sia-sia. Untuk strategi monetisasi yang diterapkan adalah revenue-sharing dengan mitra sekitar 15% dari setiap transaksi melalui aplikasi. Toko makanan yang menjadi mitra Surplus pun bisa mendapatkan pelanggan baru serta pendapatan tambahan dari produk berlebihnya. Keuntungan lainnya adalah mereka bisa mengurangi biaya pembuangan sampah  sekaligus dapat menjadi green restaurant.

Aplikasi ini pun menyediakan fitur Forum yang dapat menghubungkan masyarakat untuk bertukar ide dan pikiran, sekaligus terhubung dengan aktivis lingkungan yang dapat membantu masyarakat untuk belajar lebih banyak seputar food waste dan masalah lingkungan. Fitur forum juga menyediakan sarana untuk berbagi makanan berlebih milik perorangan, seperti sisa konsumsi sehabis acara atau bahan makanan yang tidak terpakai.

Jumlah mitra (merchant) Surplus saat ini berkisar 2.500 lebih yang tersebar di Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Solo, Malang, Surabaya, dan Bali. Sementara itu untuk kategori mitra yang bisa bergabung dengan Surplus adalah yang umumnya berpotensi menghasilkan banyak produk makanan berlebih seperti bakery & pastry, cafe, restoran, hotel, supermarket, katering,  serta  pedagang buah dan sayur. Adapun pengguna (user) Surplus tahun ini lebih dari 100 ribu orang. Di 2024, Surplus berharap bisa merangkul 50 ribu mitra dan 1 juta pengguna.

Selain meluncurkan inovasi Surplus – Food Rescue App dan Surplus Partner, Agung juga menginisiasi Komunitas Surplus. Komunitas yang diinisiasi pada 16 Februari 2020 lalu ini menjadi wadah bagi orang-orang yang ingin belajar dan memiliki tujuan yang sama untuk memerangi masalah sampah makanan.

Newsletter

Dapatkan Ringkasan berita eksklusif dan mendalam Tempo di inbox email Anda setiap hari dengan Ikuti Newsletter gratis.

Berita Lainnnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 29 Januari 2023

  • 22 Januari 2023

  • 15 Januari 2023

  • 8 Januari 2023


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan