maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


Frisian Flag

Cegah Stunting Sejak Dini

Minggu, 4 Desember 2022

Edukasi kesehatan kepada remaja putri dilakukan dengan melibatkan pemangku. Kekurangan gizi pada perempuan berdampak kepada stunting pada anak. #InfoTempo

Diskusi Kebaikan Susu untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Alami Kini dan Nanti, Selasa, 29 November 2022.. tempo : 167569604277

Gizi masih menjadi masalah bagi masyarakat Indonesia. Salah satunya terkait kekurangan gizi. Menurut laman Kementerian Kesehatan, kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama atau stunting.

Dampak stunting, anak menjadi lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. “Kekurangan gizi itu kita lihat dalam bentuk angka stunting yang masih 24 per 1.000 penduduk,” kata Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono dalam Diskusi Hari Kesehatan “Kebaikan Susu untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Alami Kini dan Nanti” yang diselenggarakan Frisian Flag dan Tempo Media, Selasa 29 November 2022.

Dia mengatakan stunting menjadi masalah esensial. “Karena bicara tentang stunting itu harus dilaksanakan bukan pada saat bayi itu lahir tetapi dimulai dari ibunya ketika sebelum mengandung,” tutur dia. Menurut Dante, seorang ibu pada saat remaja harus harus mendapatkan asupan gizi yang baik.

Dante menjelaskan terdapat dua pendekatan stunting, yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik merupakan kegiatan yang langsung mengatasi penyebab terjadinya stunting dan umumnya diberikan oleh sektor kesehatan.

Terdapat sembilan poin intervensi gizi spesifik: pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita kurus; tablet tambah darah bagi remaja, WUS, dan ibu hamil; promosi dan konseling menyusui dan promosi dan konseling pemberian makanan bayi dan anak (PMBA). Kemudian tata laksana gizi buruk; pemantauan dan promosi pertumbuhan; suplementasi micronutrient; pemeriksaan kehamilan dan imunisasi; manajemen terpadu balita sakit.

Adapun intervensi sensitif merupakan kegiatan yang berhubungan dengan penyebab tidak langsung stunting, umumnya di luar persoalan kesehatan. Intervensi sensitif terbagi menjadi empat jenis yaitu penyediaan air minum dan sanitasi, pelayanan gizi dan kesehatan, peningkatan kesadaran pengasuhan dan gizi serta peningkatan akses pangan bergizi.

Dante mengatakan, tablet tambah darah penting untuk remaja putri. Karena sumber stunting adalah ibu yang kekurangan darah pada saat kehamilan. “Jadi sebelum menghasilkan anak-anak yang kekurangan gizi, harus disiapkan wanita-wanita Indonesia sehat mulai dari masa remaja. Dengan tidak mengalami anemia dan mengonsumsi tablet penambah darah,” kata dia.  

Ketua Pusat Kajian Gizi dan kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Ahmad Syafiq, mengatakan yang terpenting adalah mencegah dari belum menjadi stunting. “Ini yang harus dicegah, jadi bukan hanya mengobati mereka yang sudah stunting tapi juga mencegah yang belum menjadi stunting”, ujarnya.

Menurut dia semua pihak harus harus bertanggung jawab terhadap asupan dan konsumsi gizi untuk kesehatan dan produktivitas hidup. “Gizi itu esensial. Pentingnya gizi sepanjang daur kehidupan. Protein hewani untuk anak anak ditingkatkan termasuk susu di dalamnya untuk anak yang sedang tumbuh kembang,” tuturnya.

Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F Saputro, mengatakan kolaborasi atau kemitraan adalah kunci dalam menangani stunting. Frisian Flag, kata dia, kerap membantu pemerintah untuk edukasi dan sosialisasi.

Andrew mengungkapkan perseroan bersama Kementerian Kesehatan melakukan edukasi tentang gizi yang seimbang dan pentingnya mengonsumsi protein hewani. “Dalam hal ini rajin minum susu di beberapa sekolah. Suatu kegiatan preventif dari pemerintah untuk mencegah stunting,” ujar dia. 

Edukasi kesehatan dilakukan kepada siswi sekolah menengah pertama (SMP) untuk mencegah stunting. “Mereka calon orang tua. Harus mendapatkan edukasi yang baik dan seimbang. Nanti kalau mereka menjadi ibu berusaha menurunkan angka stunting,” ujarnya.

Andrew optismistis melalui kerja sama dapat meningkatkan gizi dan kesehatan, khususnya kepada generasi akan datang. Dia menambahkan terus menyuarakan gizi seimbang dengan sarapan yang sehat.

“Susu berperan sebagai salah satu sumber protein hewani. Dan kami terus berinovasi untuk menghasilkan produk yang bisa dikonsumsi dan bermanfaat setiap tahap kehidupan. Untuk semua anggota keluarga,” kata Andrew.

Newsletter

Dapatkan Ringkasan berita eksklusif dan mendalam Tempo di inbox email Anda setiap hari dengan Ikuti Newsletter gratis.

Berita Lainnnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 5 Februari 2023

  • 29 Januari 2023

  • 22 Januari 2023

  • 15 Januari 2023


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan