maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


Gotong Royong Menghadapi Perubahan Iklim

Minggu, 18 September 2022

Energi menjadi penting dikarenakan adanya pertumbuhan ekonomi dengan konsumsi energi saling berkaitan.#InfoTempo

Youth Virtual Conference 2022, MInggu, 18 September 2022.. tempo : 166412717383

INFO NASIONAL – Isu iklim, energi, dan lingkungan belum menjadi favorit di tahun 2000-an. Saat itu, isu tersebut hanya “tempelan” dari isu-isu lainnya. Namun, bagi Analis G20 Gracia Paramitha, masa itu merupakan momen di mana dia mulai memberanikan diri untuk mengawal isu-isu tersebut hingga saat ini.

“Di tahun 2002, saya yang masih SMP tergabung dengan LSM Teman Sejawat Surabaya. Mereka suka menggelar Pangeran dan Putri yang membahas terkait sampah,” kata dia dalam Youth Virtual Conference 2022 #WeFightFor #AsaIndonesia2045 (YVC 2022) pada Minggu, 18 September 2022. Mereka, lanjut Gracia, diminta untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. “Sekarang masyarakat semakin cukup mudah untuk mengetahui caranya.”

Gracia, satu dari 10 inspirator yang hadir di YVC, mengakui, isu itu menjadi semakin popular lewat kehadiran media sosial. “Tapi ada dua dampaknya, pertama isu sampah menjadi masif dan kedua, adanya penelitian menemukan ancaman dampaknya semakin nyata.” 

Saat ini edukasi menjadi hal yang penting untuk memahami isu-isu tersebut. Hal itu diketahui dari hasil poling yang Gracia gelar saat konferensi YVC 2022. “Banyak yang optimis, mempercayai dengan adanya edukasi, maka banyak aktivitas yang bisa diciptakan. Tinggal menemukan caranya untuk berkolaborasi," katanya, yang menyarankan untuk menerapkan gotong royong sebagai ciri khas dari bangsa Indonesia dalam menghadapi isu perubahan iklim.

Sementara energi, tidak bisa dipungkiri masalah itu kerap selalu ada di Indonesia dan bahkan menjadi sumber konflik di dunia. “Energi itu memang sumber konflik utama di dunia, tidak hanya sekarang tetapi dari dulu,” kata Direktur Climate Policy Initiative Tiza Mafira saat menjadi salah satu inspirator dalam konferensi yang diikuti oleh 263 anak muda dari seluruh Indonesia itu.

Tiza menyebutkan, ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil masih tinggi. “Kita bisa lihat, pembakaran energi fosil seperti minyak bumi dan batubara, penyumbang terbesar emisi dan krisis iklim. Kalau kita lihat kenaikan konsumsi minyak bumi dan batubara, ini selalu naik trennya. Dan itu menyumbang banyak sekali emisi, sehingga tren pemanasan globalnya semakin tinggi. Apakah selama pandemi konsumsi energi turun? Sedikit. Kemudian setelah pandemi, naik lagi bahkan naiknya lebih besar dibandingkan sebelum pandemi.”

Tiza pun meminta semua pihak menyamakan visi bahwa, “tidak bisa hidup di dunia yang setiap kali kita mau makmur, emisi juga naik. Tidak bisa!” Dampak emisi tersebut menyebabkan terjadinya pemanasan global, cuaca ekstrem, kemarau berkepanjangan, musim hujan berkepanjangan.

Oleh karena itu, dia pun berharap porsi energi terbarukan diperbesar dalam bauran energi nasional. Energi yang tidak mengeluarkan emisi seperti bioenergy, hydropower, solar panel atau panel surya, dan tenaga angin. Menurutnya, Indonesia berpotensi untuk mengembangkan panel surya. Hal itu dikarenakan Indonesia merupakan negara khatulistiwa yang wilayahnya dari Sabang sampai Merauke mendapatkan matahari.

Sayang, kata Tiza, panel surya lambat berkembang karena perizinannya yang dipersulit. Kesan “mahal” juga harus dihilangkan dari energi terbarukan. Karena nyatanya  saat ini banyak panel surya yang dijual harganya ramah di kantong. Terpenting manfaatnya untuk menghemat energi tanpa mengeluarkan emisi. “Saya menggunakannya di rumah dan itu bisa menghemat [biaya listrik] sebesar 30 persen.”

Dalam Rencana Umum Energi Nasional terdapat target berapa banyak bauran energi terbarukan yang harus masuk ke total energinya Indonesia. Sayang, saat ini energi terbarukan masih di kisaran 9 – 11 persen dari target 23 persen di tahun 2025. “Belum on the track,” kata Tiza. Sementara itu, kebutuhan investasi pun sesungguhnya cukup tinggi dari target di tahun 2050 sebesar Rp 195 triliun. “Namun, saat ini masih Rp 2,4 miliar per tahun. “Jadi, masih jauh juga dari sisi pendanaan.”

Wujud nyata pengembangan ekonomi hijau

Bagi start up hijau, ANGIN bisa menjadi salah satu alternatif pendanaan untuk mengembangkan usaha. ANGIN tidak memiliki preferensi khusus terhadap sektor usaha tertentu dan menerima model bisnis yang berbeda-beda. Namun, mereka memiliki ketertarikan terhadap usaha yang mempunyai dampak sosial, terutama dengan model yang membantu menyelesaikan isu-isu sosial di Indonesia atau berkontribusi untuk Sustainable Development Goals (SDGs).

Salah satu contoh usaha yang menerapkan SDGs yaitu Du Anyam. Di mana pilar sosial dan ekonomi dalam SDGs sedang mereka penuhi. Untuk mengetahui kebutuhan ibu-ibu di Nusa Tenggara Timur, Du Anyam harus mengetahui terlebih dahulu buah pemikirannya karena tidak boleh disamakan dengan pemikiran orang di kota. “Mereka hidup simple, mereka tidak memikirkan saving, beda dengan orang di kota yang memikirkan asuransi, dan lain sebagainya,” kata dia. Namun, diketahui para ibu itu memikirkan pendidikan anak-anaknya. “Dari 8 orang yang pemikirannya terbuka sekarang sudah 1.000 orang yang membantu Du Anyam,” kata Co-Founder & CMO Du Anyam Melia Winata. 

Sementara Pendiri Torajamelo Dinny Jusuf menceritakan, bagaimana pandemi Covid-19 tak banyak mempengaruhi pendapatan dari masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya bagi perajin tenun.  Hal itu dikarenakan Dekranasda setempat membimbing masyarakat dengan memberdayakan ekonomi lokal. “Semua upacara adat menggunakan tenun, seragam PNS dan anak sekolah mengenakan tenun seminggu sekali, sehingga meskipun pandemi, upacara dan seragam jalan terus,” kata dia.

Kolaborasi, salah satu kunci mewujudkan SDGs

Kolaborasi menjadi kata kunci untuk menuntaskan atau mencapai agenda SDGs di tahun 2030. Hal itu disampaikan Head of Indonesia's SDGs National Secretariat, G20 Development Working Group Vivi Yulaswati.

Menurutnya Vivi, pemerintah telah menerapkan ke berbagai kebijakan terkait SDGs. Salah satunya low carbon development yang sudah masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Kemudian terdapat ekonomi sirkular. Menurut Vivi, banyak studi yang menunjukkan 5 fokus yang bisa membuat kita cepat mencapai SDGs mulai dari food, retail, textile, electronics, dan construction.

Bagi Vivi akan menjadi tugas bersama untuk mengoptimalkan prinsip-prinsip SDGs dan juga menggunakan berbagai target dan indikator untuk membangun inovasi, mendorong financing, membangun dampak, membangun energi yang memperkuat sinergi antara investasi, job creation dan juga green development. Kemudian juga mendorong inovasi untuk terjadinya bauran sumberdaya untuk green economy dan tentunya strong partnership. “Kita ingin memandang SDGs sebuah pergerakan, tidak hanya program-program pemerintah tetapi juga berbagai stakeholders bergerak bersama untuk mengimplementasikan SDGs,” kata Vivi.

CEO & Co Founder Crowde, Winner of Y20 Awards 2022 Yohanes Sugihtononugroho juga sepakat dengan musti banyaknya berkolaborasi. “Di industri ini kompetisi sebenarnya creating sustainable future dan sustainable life dan harus kita sadari bersama," ujarnya.

Apalagi saat ini, banyak lulusan pertanian yang justru tidak bekerja di bidang pertanian. Dia pun berharap, melalui Crowde, lebih banyak lagi petani yang bisa menikmati ekosistem yang sudah dibangun dan mengajak anak muda untuk mendukung industri pertanian. Selain itu memperluas jaringan Indonesia bagian Barat, dan Indonesia bagian Timur. 

Dia pun akan mengajak kolaborasi stakeholders yang selama ini bekerja secara mandiri. “Sebagai independent platform, Crowde mengajak para stakeholder yang bekerja mandiri untuk berkolaborasi membantu petani. Seperti perusahaan asuransi dan keuangan bisa berkolaborasi,” kata dia.

Ratusan anak muda yang mengikuti YVC 2022 pun menghasilkan manifesto, hasil rumusan pembahasan-pembahasan dengan para inspirator. Manifesto ini nantinya akan disampaikan kepada seorang menteri dalam kegiatan townhall yang akan diadakan menjelang peringatan Sumpah Pemuda.

Newsletter

Dapatkan Ringkasan berita eksklusif dan mendalam Tempo di inbox email Anda setiap hari dengan Ikuti Newsletter gratis.

Berita Lainnnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 25 September 2022

  • 18 September 2022

  • 10 September 2022

  • 3 September 2022


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan