Info Tempo 1/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Deforestasi Berbuah Bencana

Laju deforestasi cenderung menurun, namun intensitas banjir, longsor, serta kebakaran hutan dan lahan malah meningkat. Peruntukan kawasan yang mengalami deforestasi harus menjadi perhatian. 

i Kredit Foto_Alvi KGS_Pantau Gambut
Kredit Foto_Alvi KGS_Pantau Gambut

JAKARTA – Pernyataan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar bahwa pembangunan di era pemerintahan Presiden Joko Widodo tak boleh berhenti hanya karena isu emisi karbon atau deforestasi telah memicu gaduh. Pernyataan itu dilontarkan Siti dalam acara Persatuan Pelajar Indonesia di Universitas Glasgow, Skotlandia, 2 November lalu.  Sehari sebelumnya, saat berpidato dalam Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP 26), Jokowi mengklaim deforestasi di Indonesia telah menurun, bahkan terendah dalam 20 tahun terakhir.

Diagram deforestasi di area konsesi.

Analis Sistem Informasi Geografis Pantau Gambut, Rahmah Devi Hapsari mengatakan, hasil analisisdata deforestasi Kementerian Lingkungan Hidup memang menunjukkan penurunan luas deforestasi di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua selama periode 2014 - 2020. Selama periode tersebut, deforestasi terjadi di kawasan gambut maupun tanah mineral. Kendati menurun setiap tahun, luas lahan deforestasi terlanjur mencapai 3.134.696 hektare jika diakumulasikan dalam periode tersebut..

Menurut Rahmah, analisis tersebut dibuat menggunakan data deforestasi milik Kementerian Lingkungan Hidup yang di-tumpang-susunkan dengan peta area konsesi Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) dan Hak Guna Usaha (HGU). Data-data tersebut lalu dipadukan dengan pemetaan lahan gambut milik Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian. “Deforestasi terjadi di area konsesi dan non-berizin pengelolaan (swasta),” ungkap Rahmah.

Pantau Gambut yang merupakan platform daring penyedia informasi mengenai restorasi gambut menghitung  luas deforestasi di wilayah berizin konsesi di kawasan gambut dan bukan gambutdi  Sumatera, Kalimantan, dan Papua selama 2014-2020 mencapai 1,38 juta hektare.  Dari jumlah tersebut, deforestasi di area gambut mencapai 425 ribu hektare. “Walaupun deforestasi menurun, yang harus terus disoroti adalah peruntukan kawasan yang mengalami deforestasi menjadi apa?” ujarnya.

Rahmah menjelaskan, sebanyak 40 persen dari luas lahan gambut yang mengalami deforestasi atau seluas 169,1 ribu hektare, berada di area gambut berkedalaman lebih dari tiga meter. Padahal, berdasarkan aturan perlindungan dan pengelolaan gambut, area ini tidak boleh dikelola. Deforestasi di area gambut kedalaman lebih dari tiga meter umumnya terjadi di areal IUPHHK Hutan Tanaman Industri dan HGU kelapa sawit. Hal ini disebabkan oleh pengembangan area untuk perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman.

Pantau Gambut juga menganalisis, penurunan deforestasi banyak terjadi di Sumatera dan Kalimantan. Tapi, ada fenomena yang kemudian menjadi sorotan, yakni kecenderungan meningkatnya intensitas bencana banjir, longsor, serta kebakaran hutan dan lahan.

Grafik bencana banjir.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada 2015 kebakaran telah menghanguskan 2,6 juta hektare hutan dan lahan yang 35 persen di antaranya berada di lahan gambut. Pada 2019, kebakaran menghanguskan 1,6 juta hektare hutan dan lahan yang 31 persen di antaranya berada di lahan gambut.

Contoh terbaru bencana yang disebabkan oleh deforestasi adalah banjir di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat selama satu bulan terakhir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat ketinggian permukaan air mencapai sekitar 1-3 meter. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sintang menemukan di beberapa lokasi ketinggian air sudah turun 50 sentimeter.

Kepala Divisi Advokasi dan Kolaborasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Kalimantan Barat, Andreas S. Illu menyatakan,  banjir itu terjadi akibat kerusakan lingkungan di area tangkapan hujan. “Curah hujan yang tinggi menyebabkan luapan air Sungai Kapuas dan Melawi,” ucap Andreas.

Ia mengungkapkan, dibutuhkan pemulihan lingkungan untuk mengatasi banjir di saat curah hujan tinggi.  Andreas bertutur, hutan yang menjadi daerah tangkapan hujan di hulu sungai rusak akibat kegiatan  perkebunan kelapa sawit. “Pemanfaatan hutan untuk konsesi tanaman industri itu memicu banjir.”

Deforestasi mungkin menurun, tapi dampak kerusakannya telah memicu bencana dan tak kunjung bisa ditanggulangi. Kalau sudah begini, apa yang bisa dibanggakan?

Silahkan berlangganan untuk membaca keseluruhan artikel ini.

Mulai dari

Rp. 36.000*/Bulan

Akses tak terbatas di situs web dan mobile Tempo

Aplikasi Tempo Media di Android dan iPhone

Podcast, video dokumenter dan newsletter

Arsip semua berita Majalah Tempo sejak terbit 1971 dan Koran Tempo sejak edisi perdana 2001

Register di sini untuk mendapatkan 2 artikel premium gratis. Jika sudah berlangganan, silakan login


Reporter Tempo


Inforial

Info Tempo 1/6

Sebelumnya Selanjutnya

Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.