Pawang hujan dimakan petir - Indonesiana - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Indonesiana 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pawang hujan dimakan petir

Damian yang dikenal sebagai pawang hujan di sumber jambe, jember, tewas disambar petir, ketika mau mengusir hujan. menurut istrinya karena keris pusaka yang sudah lama tidak terawat.

i
SORE itu mendung bergayut di Dukuh Gayasan, Kecamatan Sumber Jambe, Jember, Jawa Timur. Rupanya, cuaca sedang tak ramah. Angin bertiup kencang. Tapi, Damian tak peduli. Ia tetap nongkrong di depan rumahnya semban menatap hamparan sawah yang mulai menguning. Dua bulan lagi akan panen besar. "Kalau nanti panen, kita ke Madura," begitu Damian pernah berjanji kepada Nijah, bininya. Glaar. Guntur menggelegar. Damian bergegas masuk ke dalam rumahnya karena hujan turun dengan deras. Puluhan pohon pisang ambruk, tak kuat menahan terjangan angin. Malah, beberapa genteng rumah penduduk ambrol. Tapi, Damian sama sekali tak keder. Ia punya senjata ampuh: keris. Maka, setelah komat-kamit sebentar, laki-laki berusia 60 tahun itu membuka lemari pakaiannya. Di situlah tersimpan sebilah keris yang berselongsong hijau. Ketika Damian mengambil pusaka itu, Nijah khawatir. Bukan apa-apa. Soalnya, keris itu sudah lebih dari setahun tak pernah disentuh-sentuh. Ini keris keramat. Namun Damian menenangkan bininya. "Jangan khawatir, Bune. Saya cuma mau mengusir angin dan petir itu," katanya. Dengan keris di tangan, Damian bersemadi di dalam rumah. Tapi, tak mempan. Hujan dan angin masih tetap galak. Geledek masih menyambar-nyambar. Damian lantas merasa diejek. Ia lalu keluar rumah sambil mengacung-acungkan kerisnya ke langit. "Hei petir, pergi dari tempat ini," teriaknya dengan lantang. Glegar. Kilat pun menyambar. Bukan mau pamit, tapi kilat itu menyambar tubuh Damian. Dengan tubuh hangus terbakar lelaki tanpa anak itu terkapar. Kopiahnya mencelat sejauh lima meter. Tapi tangannya masih menggenggam keris. Melihat suaminya dimakan halilintar, Nijah ikut roboh. Pingsan. Tentu saja karena kaget, bukan ikut-ikutan. Maka, penduduk Dukuh Gayasan pun gempar. Peristiwa yang terjadi di akhir November lalu itu hingga kini tetap jadi perbincangan menarik. Orang-orang pada heran: Damian -- yang dikenal sebagai pawang hujan yang kondang -- justru menjadi korban ketika mencoba mengusir hujan. "Dengan keris itu, suami saya sering mengusir hujan dan angin. Biasanya berhasil," kata Nijah, dengan mata berlinang. Istri pawang ini kemudian menyimpulkan, "Mungkin karena lama keris itu tidak dirawat, tuahnya hilang."

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-10-24 12:31:04


Indonesiana 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB