Tiang-tiang hasiholan - Ilmu dan Teknologi - majalah.tempo.co ‚Äč

Ilmu dan Teknologi 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tiang-tiang hasiholan


Dalam seminar ketiga haki, simanjuntak memamerkan dua penemuan sistem penyambung tiang pancang dan ujung tiang yang diperluas permukaannya. (ilt)

Administrator

Edisi : 9 Juni 1984
i
BERKUMPULNYA sekitar 200 ahli pada Seminar ke-3 Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), pekan lalu tidak disia-siakan oleh Johan Hasiholan Simanjuntak (JHS). Insinyur sipil lulusan ITB(1963) ini memamerkan dua penemuannya: sistem penyambung tiang Fancang dan sistem ujung uang pancang yang diperluas permukaannya. Hasiholan tidak kepalang tanggung Penemuannya yang pertama, yang diberi Judul "JHS Wedge Joint Pile System" (JHSWJPS), sudah didaftarkan pada lembaga paten Inggris dengan nomor 8230628, dan pada Biro Oktroi Roosseno dengan nomor 8537. Penemuan kedua, "JHS Broadened Bottom Piles" (JHSBBP), masih menunggu nomor paten dan Inggris, tapi sudah mendapat nomor 10005 dari Biro Oktroi Roosseno. Sesuai dengan namanya, JHSWJPS, yang ditemukan 1981, menggunakan sistem las "mengisi", sehingga tahan terhadap getaran yang timbul ketika tiang pancang dipukul ke dalam tanah. Alat ini merupakan sepasang pembungkus tiang pancang yang terbuat dari baja. Tiap pasang disambungkan ke tiap tiap ujung, pada saat tiang pancang beton itu dibuat. Agar terpadu dengan betonnya, alat penyambung ini mempunyai delapan tiang besi berukuran sekitar I meter, tertanam di dalam tiang pancang. Bila akan disambung, salah satu tiang itu ditancapkan sampai tinggal sekitar 1 meter. Panjang tiang pancang rata-rata 20 meter. Kemudian, tiang pancang diangkat dan digantung di atas tiang pancang yang terbenam. Pasangan disatukan, lalu besi di pinggir sambungan, yang bentuknya mirip angka delapan, dilas dengan sistem "mengisi" (filling). Sistem sambungan ini, "Lebih kuat dari tiang pancangnya sendiri," tutur Hasiholan, 46. JHSBBP, yang ditemukan awal tahun ini, bertolak dari prinsip utama memperluas ujung bawah tiang pancang, sehingga end bearing (daya dukung ujung) tiang pancang bertambah Dengan meningkatnya daya dukung ini, tiang pancang yang diperlukan makin sedikit. Berbeda dengan sistem yang sekarang populer di Indonesia, yang bukan menanam tiang pancang melainkan menanam cetakannya, sistem JHS menggunakan tiang pancang jadi yang dilubangi tengahnya. Lubang ini tercipta oleh gaya sentrifugal ketika tiang dibuat di pabrik, dengan maksud memperkuat adonan. Hasiholan membuat ujung tiang pancang dari baja. Tegak lurus pada tiang pancang, ia memasang "sirip" pada tiap sisi Ukuran sirip tergantung pada pesanan. Sirip baja tadi keluar jika kerucut baja yang terdapat pada rongga ujung tiang pancang ditekan ke bawah. Untuk menekan, dapat digunakan pipa yang dipukul dari permukaan. Persis seperti menanam tiang pancang biasa. Setelah mencapai kedalaman yang diinginkan, ke dalam lubang dimasukkan pipa besi, kemudian dipukul dengan mesin. Dengan masuknya pipa, sirip telah terdorong keluar. Maka, pipa ditarik kembali dan digunakan untuk mendorong tiang pancang lain. JHSBBP diperkirakan bermanfaat di ta| nah yang tahanan geseknya kurang. "Saya kira cocok di tanah lembek," ujar Ir. Sugianto Arifin, peserta seminar dari Waskita Karya. Hasiholan sendiri menunjuk daerah sekitar Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, yang disebutnya "mempunyai negative skin friction, jadi perlu end bearing yang baik." Negative skin friction adalah gejala seolah olah tanah menarik tiang pancang ke bawah, karena sifat lumpur tanah itu. Di bengkelnya seluas setengah hektar, di Pondok Labu, Jakarta Selatan, JHS menghabiskan Rp 25 juta untuk melakukan penelitian. Ia, antara lain, mencoba apakah sirip dapat keluar dengan menanam tiang satu meter, tetapi terkurung beton. "Agar mirip keadaan tanah di kedalaman 20 meter," kata ayah tiga anak, dan bekas kepala Laboratorium Beton Universitas Trisakti (1971-1982) itu. Kini, Managing Director PT JHS Piling System itu bersiap-siap memindahkan bengkelnya ke atas tanah seluas dua hektar di Cakung-Cilincing. JHSWJPS telah dipakai di banyak jembatan di Sumatera, dermaga Cilacap, jembatan di Irian, gedung Bank Indonesia di Banjarmasin, dan Gedung Danareksa bertingkat 22 di Jakarta. JHS mengakui bahwa sambungan dari baja akan termakan karat. "Tapi, kalau perlu, bisa digalvanisasikan," katanya. Hal ini dibenarkan Ir. Wiratman Wangsadinata, ahli konstruksi terkemuka Indonesia. "Pada prinsipnya, kedua penemuan Pak Simanjuntak ltu baik, tapi harus dibuktikan dulu dalam kenyataan," kata Wiratman. Menurut dia, dengan menambah tebal 2 mm saja, ketahanan terhadap karat bisa mencapai seratus tahun . Hasiholan memasang tarif Rp 150 ribu per pasang JHSWJPS. Karena itu, menurut Wiratman, sebelum memakai sistem ini, "Harus ada perhitungan untung rugi yang teliti." Tetapi, menurut JHS, harga ini masih bersaing."sistem Hercules saja tahun lalu sudah Kp 250 ribu sepasang," katanya. Sistem Hercules adalah cara menyambung tiang pancang mirip menyambung Iensa tipe bayonet pada kamera, penemuan Swedia
2020-02-24 10:13:51

Ilmu dan Teknologi 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.