Penemuan Galur Baru Virus Flu Babi yang Berpotensi Menimbulkan Pandemi - Ilmu dan Teknologi - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ancaman Galur Baru Flu Babi

Penemuan virus flu babi H1N1 galur baru di Cina memunculkan kekhawatiran akan terjadi pandemi seperti pada 2009. Virus menjadi sangat berbahaya bila terjadi penularan antarmanusia dan percampuran dengan gen yang sangat patogen.

i Pekerja di peternakan dan rumah potong babi, mengambil contoh darah babi. sebagai langkah pengenalan flu H1N1, di Gansu, Cina, Oktober 2019. REUTERS/Stringer/File Photo
Pekerja di peternakan dan rumah potong babi, mengambil contoh darah babi. sebagai langkah pengenalan flu H1N1, di Gansu, Cina, Oktober 2019. REUTERS/Stringer/File Photo
  • Peneliti Cina menemukan galur baru virus flu babi H1N1 pada ternak babi di Cina. .
  • Pengujian sampel terhadap ratusan pekerja peternakan dan penduduk di sekitar peternakan menemukan antibodi yang positif terhadap virus H1N1 G4 EA.
  • Virus H1N1 G4 EA berpotensi pandemi apabila terjadi penularan dari manusia ke manusia dan terjadi mutasi atau pengacakan genetik. .

BELUM lagi usai perang melawan wabah Covid-19 yang dipicu virus SARS-Cov-2, muncul kehebohan lain di Cina tentang penemuan galur baru virus flu babi, yang dikhawatirkan menjadi pandemi seperti pada 2009. Penelitian yang dipimpin Sun Honglei dari China Agricultural University di Beijing menemukan bahwa virus flu babi galur baru yang dinamai H1N1 Genotype 4 Eurasia (H1N1 G4 EA) menjadi yang paling dominan di populasi babi Cina sejak 2016 berdasarkan pemantauan peternakan babi di 10 provinsi Cina periode 2011-2018.

Yang membuat para ilmuwan khawatir adalah kemampuan virus ini untuk menempel di jenis reseptor sel-sel epitel saluran pernapasan manusia, asam sialat alfa 2,6 galaktosa (SAα2,6-Gal). Hal ini persis seperti kemampuan galur virus H1N1 Pdm/09, pemicu pandemi flu babi 2009. Hasil penelusuran Honglei dan tim yang mengumpulkan sampel darah 338 pekerja dari 15 peternakan babi dan 230 penduduk yang tinggal di sekitar peternakan menemukan antibodi 35 pekerja (10,4 persen) dan 10 penduduk (4,4 persen) positif terhadap virus H1N1 G4 EA.

Menanggapi laporan yang dipublikasikan dalam Proceeding of the National Academy of Sciences pada 29 Juni lalu itu, Widya Asmara, profesor mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengatakan virus H1N1 G4 EA dapat menginfeksi manusia, tapi belum cukup kuat menular dari manusia ke manusia seperti virus SARS-CoV-2. “Penularan virus di Cina baru terjadi dari babi ke manusia. Belum ada temuan penularan dari manusia ke manusia,” katanya, Kamis, 9 Juli lalu.


Widya mengatakan virus H1N1 G4 EA berpotensi menjadi pandemi apabila terjadi mutasi atau pengacakan genetik. Menurut dia, bila dua atau lebih virus menginfeksi seseorang atau sel yang sama, akan terjadi pengacakan genetik. “Yang dikhawatirkan itu kalau virus ini menginfeksi orang, lalu orang itu juga memiliki virus influenza yang lain sehingga terjadi pencampuran genetik. Kalau tercampur dengan gen yang highly pathogenic berpotensi menimbulkan pandemi,” ujarnya.

Senada dengan Widya, Michael Haryadi Wibowo, guru besar Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, mengatakan pandemi belum tentu terjadi karena memerlukan banyak faktor keserasian kerja sama genetik. Menurut dia, potensi pandemi itu ada, misalnya, karena kemampuan virus berikatan dengan reseptor sel manusia. Namun, kata Michael, hal itu harus didukung oleh gen yang berperan dalam fusi sel agar virus dapat melepaskan materi genetik. “Serta gen-gen internal yang berpengaruh pada virulensi. Gen-gen itu bekerja serasi seperti orkestra,” tuturnya.

Widya menyebutkan Indonesia tidak perlu khawatir bila virus H1N1 G4 EA masuk ke Tanah Air karena itu termasuk virus patogenik rendah. “Toh, Indonesia tidak mendatangkan babi dari peternakan Cina. Seandainya ada orang dari Cina membawa virus H1N1 G4 EA, orang itu tidak dalam kondisi sakit parah sehingga kecil kemungkinan menyebarkan wabah,” ucap Widya.

Menurut dia, populasi di Indonesia juga sudah punya antibodi virus H1N1 dari berbagai strain, meski bukan G4. “Ini tidak akan jadi pandemi karena sebagian besar orang Indonesia tidak mudah terinfeksi dan menjadi sakit,” ujarnya.

Michael sependapat. Ia mengatakan infeksi virus H1N1 G4 EA dapat diobati menggunakan antivirus oseltamivir atau Tamiflu yang bekerja sebagai anti-neuraminidase—penghambat enzim neuraminidase dari virus influenza—yang memblokade virus keluar dari sel yang terinfeksi. Menurut Michael, neuraminidase bersifat sangat lestari dan, berdasarkan data uji in-vitro, menunjukkan oseltamivir mempunyai aktivitas terhadap semua subtipe neuraminidase.

Michael menduga kasus H1N1 G4 EA belum ada di Indonesia. Namun, kata dia, kita perlu waspada dengan meningkatkan kapasitas riset, diagnosis laboratorium, dan surveilans terpadu. Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fadjar Sumping Tjatur Rasa menjelaskan, pihaknya berkoordinasi dengan Badan Karantina Pertanian memperketat lalu lintas hewan demi mengantisipasi virus flu babi. “Pemeriksaan lebih ketat di pintu masuk. Juga pengambilan sampel untuk diuji di laboratorium,” ucapnya kepada Antara, Kamis, 2 Juli lalu.

Menurut Fadjar, Indonesia sudah dinilai maju dalam melakukan surveilans untuk mendeteksi dini virus influenza tipe A menggunakan fasilitas Influenza Virus Monitoring (IVM). “Akan kita tingkatkan pengawasan menggunakan fasilitas IVM, yang merupakan bantuan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO),” katanya. Saat ini, Indonesia mempunyai delapan laboratorium aktif untuk melakukan surveilans deteksi dini dan pemantauan keberadaan virus influenza.

Efektivitas surveilans itu teruji dalam kasus kematian pasien dalam pengawasan Covid-19 di Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi, Kota Semarang, pada 23 Februari lalu. Meninggalnya pasien itu ternyata terkait dengan virus H1N1. Menurut Fathur Nurcholis, anggota tim dokter yang menangani pasien pria 37 tahun itu, dikonfirmasi bahwa pasien tertular H1N1 berdasarkan pemeriksaan laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan di Jakarta. “Dari hasil pemeriksaan swab, penyebabnya virus H1N1,” ujarnya pada Kamis, 27 Februari lalu.

Menurut Fathur, pasien yang dirawat sejak 19 Februari itu bekerja di bidang pelayaran. Dia diketahui baru kembali dari Spanyol dan transit di Dubai, Uni Emirat Arab. Ia tiba di Semarang pada 10 Februari lalu. Sehari berada di rumah, pria itu kemudian menderita gejala batuk. Keesokan harinya, dia pergi ke Pati, Jawa Tengah, dan kondisinya makin menurun sehingga dirawat di rumah sakit.

Pasien itu lantas dirujuk ke RSUP Dr Kariadi dalam kondisi infeksi paru-paru berat. “Ketika dibawa ke RSUP Dr Kariadi, kondisinya sudah kritis,” kata Fathur.

Berdasarkan riwayat perjalanan dan kondisi kesehatannya, pasien dirawat di ruang isolasi sebagai pasien dalam pengawasan Covid-19. Sehari setelah pasien itu meninggal, hasil pemeriksaan laboratorium spesimennya menyebutkan bahwa pasien negatif Covid-19. Namun kemudian dikonfirmasi bahwa ia terinfeksi virus H1N1.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik pada Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, membenarkan kabar bahwa pasien dalam pengawasan yang meninggal di RSUP Dr Kariadi itu positif terpapar virus H1N1. “Hasil laboratoriumnya adalah H1N1, yang artinya adalah influenza musiman,” Siti menjawab pertanyaan Tempo via pesan WhatsApp, Kamis, 9 Juli lalu.

Siti memastikan virus H1N1 yang menginfeksi pasien itu bukan galur G4. “Pasti bukan karena dari pemeriksaan PCR tidak ditemukan (galur baru),” ujarnya. Menurut Siti, flu musiman adalah flu yang umumnya disebabkan oleh virus influenza tipe A atau B. “Flu tersebut bersifat ringan dan dapat sembuh apabila tidak terdapat penyakit penyerta yang berat, yaitu dengan istirahat serta makan makanan sehat bergizi,” ujarnya dalam telekonferensi Zoom dari Kementerian Kesehatan, Kamis, 9 Juli lalu.

Siti mengatakan masyarakat juga harus memahami perbedaan antara flu babi (swine flu) H1N1 dan demam babi Afrika (African swine fever) yang merebak di banyak tempat di Indonesia, yang mengalami kematian mendadak ternak babi. Baik flu babi maupun demam babi Afrika, kata Siti, sama-sama menginfeksi babi, tapi demam babi Afrika hanya menular dari hewan yang sakit ke hewan lainnya dan belum pernah terbukti menular ke manusia. “Sedangkan flu babi sudah terbukti dapat menginfeksi pada babi dan manusia,” ucapnya.

DODY HIDAYAT, MITRA TARIGAN, SHINTA MAHARANI (YOGYAKARTA), JAMAL A. NASHR (SEMARANG)
2020-08-04 17:50:53

Covid-19 Virus Corona Flu Babi Penyakit

Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.