Tunas Kapas di Sisi Gelap Bulan - Ilmu dan Teknologi - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tunas Kapas di Sisi Gelap Bulan

Benih kapas yang dibawa wahana antariksa Cina, yang mendarat di sisi gelap bulan, sempat bertunas sebelum mati kedinginan. Membuka jalan bagi misi koloni manusia di bulan.

i Foto benih kapas yang bertunas di dalam silinder percobaan yang dibawa Chang’e 4 ke bulan./Chongqing
     University
Foto benih kapas yang bertunas di dalam silinder percobaan yang dibawa Chang’e 4 ke bulan./Chongqing University

Sebuah foto dari suatu tempat di sisi jauh bulan dirilis Badan Antariksa Nasional Cina (CNSA), Senin dua pekan lalu. Gambar yang tak terlalu terfokus itu memperlihatkan sebuah tunas hijau yang menyeruak dari tanah, yang kisi-kisi Styrofoam-nya berbunga es di dalam silinder aluminium percobaan biosfer.

Tim ilmuwan dari 28 perguruan tinggi Cina di bawah pimpinan Chongqing University menempatkan silinder percobaan berbobot 2,6 kilogram dengan volume 1 liter itu di dalam wahana antariksa Chang’e 4, yang mendarat mulus di permukaan bulan pada 2 Januari lalu.

Tunas yang diyakini muncul dari benih kapas itu satu dari enam spesies yang diboyong Chang’e 4 dalam misi pendaratan ke sisi tergelap bulan, yakni belahan bulan yang tak pernah tampak dari bumi. Lima spesies lain adalah kentang, kanola, Arabidopsis thaliana (sejenis seledri), telur lalat buah, dan jamur untuk percobaan mengamati tingkat keberhasilan fotosintesis serta kemungkinan hidup flora dan fauna di lingkungan bulan.


Misi Keempat Cina ke Bulan

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjggMjE6MTQ6NTMiXQ

Keenam spesies makhluk hidup bumi itu diharapkan dapat menciptakan ekosistem simbiosis mutualisme. Tanaman akan menyediakan oksigen untuk lalat buah. Sebaliknya, kotoran lalat buah menjadi sumber karbondioksida untuk fotosintesis dan nutrisi bagi tanaman. “Kami ingin mempelajari proses respirasi benih dan fotosintesis di bulan,” ujar Xie Gengxin, kepala perancang percobaan yang juga dekan Institute of Advanced Technology Chongqing University kepada kantor berita Xinhua.

Namun tunas kapas tersebut mati karena tak mampu bertahan dalam dinginnya malam permukaan bulan yang suhunya dapat mencapai minus 180 derajat Celsius. “Suhu di dalam silinder percobaan mencapai minus 52 derajat Celsius dan percobaan pun berakhir,” ujar Liu Hanlong, kepala eksperimen dan Wakil Rektor Chongqing University, dalam jumpa pers, Selasa pekan lalu. Menurut Liu, terjadi kegagalan sistem pengendali panas di dalam silinder percobaan pada malam hari karena tidak ada baterai.

Meski percobaan ini sudah berhenti, Cina telah mengukir sejarah sebagai negara pertama yang berhasil menumbuhkan tanaman di permukaan selain bumi. Sebelumnya Cina juga menjadi negara pertama yang mendaratkan wahana antariksa di sisi tergelap bulan, yakni di dasar kawah berdiameter 186 kilometer yang dinamai Von Kármán yang berada di kawasan kolam Aitken dekat Kutub Selatan.

Sisi jauh atau sisi tergelap bulan adalah istilah untuk belahan lain bulan yang tak pernah terlihat dari bumi. Setiap kali muncul bulan purnama, orang hanya melihat sketsa seperti wajah manusia di permukaan bulan yang dijuluki “Man in the Moon”. Hal ini terjadi karena durasi rotasi bulan sama persis dengan waktu yang dibutuhkannya untuk mengitari bumi, yakni 27 hari.

Chang’e 4, yang dinamai dari Dewi Bulan dalam mitologi Cina kuno, adalah wahana pendarat bulan (lander) Cina kedua dalam Program Eksplorasi Bulan Cina yang sukses mendarat di bulan. Pendahulunya, Chang’e 3, yang diluncurkan pada 1 Desember 2013, mendarat di sisi dekat bulan, yakni di dekat situs Sinus Iridum, pada 14 Desember 2013. Chang’e 3, yang berbobot 1.200 kilogram, membawa wahana penjelajah (rover) Yutu. Chang’e 3 menjadi wahana antariksa pertama yang berhasil mendarat mulus di permukaan bulan dalam 37 tahun terakhir setelah wahana antariksa Rusia, Luna 24, pada 1976.

Chang’e 3 dan Yutu, yang berarti Kelinci- Giok, berhasil melakukan serangkaian penelitian. Di antaranya membuat profil geologi bulan, melakukan survei antariksa dari bulan menggunakan teleskop optis, dan membuktikan tidak ada air di permukaan bulan. Adapun pendahulu Chang’e 3 adalah wahana pengorbit Chang’e 1 dan Chang’e 2, yang mengumpulkan data untuk misi selanjutnya.

Chang’e 4 akan menjalankan misi selama 12 bulan, sementara Yutu 2 direncanakan tiga bulan bertugas. Misi keempat dalam Program Eksplorasi Bulan Cina ini antara lain bertujuan menganalisis komposisi kimiawi tanah dan bebatuan bulan, meng-ukur temperatur di permukaan bulan, melakukan pengamatan astronomi dengan teleskop optis, mempelajari sinar-sinar kosmis, serta mengamati pertumbuhan flora dan fauna bumi di permukaan bulan.

DODY HIDAYAT (QBTIMES.COM, SPACE.COM, DAILYMAIL.CO.UK)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-28 21:14:53


Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB