Manis-Pahit di Atas Pit - Gaya Hidup - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Gaya Hidup 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Manis-Pahit di Atas Pit

Agar tetap kompetitif, perempuan atlet sepeda amatir harus konsisten berlatih di tengah kesibukan mengurus keluarga dan pekerjaan. Mengorbankan kehidupan sosial.

i Agar tetap kompetitif, perempuan atlet sepeda amatir harus konsisten berlatih di tengah kesibukan mengurus keluarga dan pekerjaan. Mengorbankan kehidupan sosial.
Agar tetap kompetitif, perempuan atlet sepeda amatir harus konsisten berlatih di tengah kesibukan mengurus keluarga dan pekerjaan. Mengorbankan kehidupan sosial.

HARI masih gelap ketika Helen Tan menggenjot sepeda keluar dari kediamannya di bilangan Casablanca, Jakarta Selatan. Jumat pagi tiga pekan lalu itu, ia dan teman-temannya yang doyan bersepeda punya rencana berkeliling Ibu Kota. Tak sampai 30 menit memacu Pinarello Dogma F8 miliknya, Helen tiba di titik kumpul yang telah ditetapkan: Cyclo Coffee di Sudirman Central Business District (SCBD).

Jarum jam menunjukkan pukul 05.30. Tak ingin berlama-lama, Helen dan belasan penggemar sepeda lain beranjak menyusuri rute SCBD-Semanggi-Jalan Gatot Subroto-Kuningan-Monumen Nasional-Bundaran Hotel Indonesia-SCBD. Dibutuhkan waktu 1 jam 15 menit untuk menempuh rute tersebut. "Total panjang rutenya sekitar 47 kilometer," kata Helen, 40 tahun, saat ditemui setelah gowes.

Sesi gowes pagi itu merupakan salah satu menu latihan rutin perempuan kelahiran Jakarta ini. Setiap pekan, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini selalu menyisihkan waktu pada Selasa, Kamis, Jumat, dan Sabtu untuk berlatih. Ia menjalani aktivitas tersebut sejak 2012. Berawal dari keinginannya menjajal olahraga triatlon setelah kenyang lari maraton, Helen keranjingan bersepeda, terutama road bike.


Helen pun rutin mengikuti tur road bike sejak 2016. Tur pertamanya adalah Bromo 100 KM. Yang terakhir, pada Juni lalu, ia menjadi satu di antara tiga atlet sepeda amatir dari Indonesia yang mengikuti Maxxis Taroko International Hill Climb di Taiwan. Ia mesti melahap rute sepanjang 88,8 kilometer dengan garis akhir di Gunung Hehuan, yang memiliki ketinggian 3.275 meter di atas permukaan laut.

Perjuangan Helen di Taroko tak sia-sia. Ia berhasil melewati garis finis di posisi kesepuluh kategori perempuan dengan waktu 6 jam 42 menit. Helen mengatakan torehan waktu itu ia raih dengan pengorbanan besar. Manajer operasional sebuah perusahaan alat kesehatan di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, itu harus bisa membagi waktu antara pekerjaan dan latihan.

Pada hari latihan, agar tak terlambat bekerja, ia mesti bangun sekitar pukul 05.00. Pada Selasa dan Kamis, selama satu sampai satu setengah jam, ia berlatih di dalam rumah dengan road bike yang biasa ia gunakan di jalanan, tapi dengan dipasang pada smart trainer. "Semacam sepeda statis," ujarnya. Pada Jumat, selain bersepeda, Helen kerap berlari. "Kalau Sabtu, sudah pasti outdoor untuk gowes panjang atau long ride. Kebanyakan di Sentul, Bogor; dan Alam Sutera, Tangerang Selatan."

Jika sudah mendekati waktu tur, Helen menambah porsi latihannya. Dalam sepekan, ia tetap menyisihkan waktu empat hari. Tapi durasi latihan ditambah agar tubuh terbiasa menempuh rute yang cukup jauh. "Normalnya, 100 kilometer ditempuh dalam waktu tiga setengah jam. Kalau kita enggak membiasakan diri dua-tiga jam duduk di atas sadel, pasti bakal menderita banget saat tur," katanya.

Persiapan khusus juga dijalani Andhina Ayuningtyas, 30 tahun, saat akan mengikuti turnamen yang sama dengan Helen, Maxxis Taroko International Hill Climb. Menurut wanita asal Bogor, Jawa Barat, ini, ada tanjakan yang kecuramannya mencapai 27 derajat di Taroko. Ia pun sengaja mencari tanjakan di Indonesia dengan kecuraman yang mendekati itu. "Ada di Pabangbon, Bogor, sekitar 25 derajat," ujar Dhina di apartemennya di Cawang, Jakarta Timur, Rabu dua pekan lalu.

Sehari-hari, Dhina, yang lulus dari Sekolah Penerbangan Deraya pada Maret lalu, lebih banyak berlatih dengan smart trainer. Alat yang dipasangi road bike miliknya itu terkoneksi dengan aplikasi gowes virtual Zwift, yang bisa dikontrol melalui telepon seluler pintar yang terhubung dengan televisi. Karena pada November nanti berencana mengikuti Tour de Borobudur dengan rute 200 kilometer, Dhina mengambil salah satu program latihan yang disediakan Zwift, yakni lima-enam hari sepekan dengan durasi satu jam setiap sesi.

Setiap pekan, Dhina juga rajin menjalani sesi long ride 100 kilometer, yang rata-rata menghabiskan waktu tiga setengah jam. Biasanya, pada Sabtu dan Minggu, ia gowes di Sentul. Jika sudah mendekati waktu tur, ia menambah hari untuk berlatih, yakni pada Rabu atau Kamis. "Karena latihan indoor dan outdoor beda feel-nya. Kalau latihan indoor, capek bisa lepas tangan. Kalau latihan di jalan kan enggak bisa," tutur perempuan yang juga pembalap sepeda gunung (mountain bike) ini.

Berbeda dengan Helen dan Dhina, tiga perempuan atlet amatir lain, yakni Adhityani Putri, Aidy Halimanjaya, dan Corry Cortine, punya pelatih khusus. Adhityani, yang akrab disapa Dhitri, 36 tahun, ditangani pelatih asal Aljazair yang berdomisili di Jakarta. Corry, 36 tahun, punya pelatih online dari Thailand. Sedangkan Aidy, 33 tahun, sempat memiliki pelatih selama enam bulan. Kini ia memilih berlatih sendiri. Ketiga pembalap ini akan mengikuti Master Tour of Chiang Mai di Thailand, Oktober mendatang.

Menurut Corry, keberadaan pelatih membuat latihannya terstruktur. Sang pelatih menyusun menu latihan sesuai dengan tur road bike yang akan diikuti, lengkap dengan durasinya. Dhitri menambahkan, latihan yang terstruktur itu membuatnya lebih mudah membagi waktu antara menjalani karier dan bersepeda. "Kalau saya ada perjalanan bisnis, latihan bisa diganti dengan format lain," ucap direktur salah satu lembaga kajian dan komunikasi di bidang energi ini.

Dhitri mengatakan, sebagai pekerja kantoran, ia hanya bisa berlatih di ruang tertutup dengan smart trainer maksimal satu setengah jam pada hari biasa. Begitu pula Corry, yang sehari-hari bekerja di salah satu perusahaan jasa penerbangan di kawasan Halim Perdanakusuma. Dalam sepekan, Corry paling sedikit sepuluh jam berlatih menunggang pit. Menurut Dhitri, latihan dengan durasi lebih panjang bisa dilakukan pada akhir pekan, yakni tiga-empat jam pada Sabtu dan dua hingga dua setengah jam pada Ahad.

Aidy berujar, pembalap sepeda amatir harus disiplin mengatur waktu. Mereka harus konsisten berlatih di tengah kesibukan kerja. "Apalagi kalau sudah berkeluarga," katanya.

Dhitri, yang memiliki seorang anak perempuan tujuh tahun, mengakuinya. "Aku enggak bisa ikut tur setiap bulan, mesti pilih-pilih. Karena, kalau ikut tur, aku harus bedol desa, bawa anak dan suami." Kantornya pun tak bisa ditinggalkan terlalu lama. "Bisa-bisa pas balik udah ada 5.000-an e-mail."

Kehidupan sosial juga mesti dikorbankan. Dhitri mesti mengurangi waktu berkumpul dengan teman-temannya. "Enggak semua reunian bisa dijabanin," ujarnya.

Demikian pula Corry. Waktu nongkrong dia jauh berkurang dibanding sebelum ia berfokus pada dunia sepeda. "Dulu, kalau Jumat, pulang kantor bawaannya dandan. Sekarang, kalau Jumat, pulang cepat dan tidur jam sembilan karena Sabtu mau long ride," tuturnya. Sesekali ia mencari waktu berkumpul dengan teman-temannya seusai tur. "Tapi pulang maksimal tetap jam sepuluh malam."

Adapun Aidy masih kerap meluangkan waktu untuk merawat diri, baik di rumah maupun di salon. "Kan, selalu kena matahari. Jadi harus luluran, maskeran, facial, atau creambath. Itu yang mahal," ujar Aidy, tertawa.

Andhina Ayuningtyas punya pendapat berbeda. Menurut dia, kesibukannya di dunia sepeda tidak lantas menyita banyak waktunya. "Toh, sehari cuma sejam latihan," katanya.

Setelah gowes, anak kedua dari tiga bersaudara ini tetap bisa melakukan kesibukan lain. Sesekali ia menjalani hobinya mendaki gunung. "Terakhir aku ke Merapi dan Merbabu." Pekan ini, Dhina mulai ikut kursus memasak, yang telah lama diidam-idamkannya. "Aku menikmati hidup saja," ucapnya.

Begitu juga Helen Tan. Salah satu pendiri Women’s Cycling Community ini merasa beruntung karena saat ini bekerja di perusahaan keluarga. Hal itu membuatnya lebih mudah menyesuaikan karier dengan kegilaannya pada sepeda. "Buat aku, pekerjaan tidak boleh mengganggu hobi, ha-ha-ha…. Justru gowes bikin aku lebih waras. Kalau kerja terus-menerus dan tidak ada hal yang kita cintai, pasti sulit," ujarnya.

Selain berkorban waktu, atlet sepeda amatir mesti merogoh kocek cukup dalam untuk membeli tunggangannya. "Harganya lebih mahal daripada sepeda motor," kata Corry. Pinarello Dogma F8 milik Helen, misalnya, di pasar dijual seharga Rp 120-150 juta. Trek Emonda SLR 6 yang digunakan Dhina dibanderol dengan harga Rp 65-75 juta. Harga road bike milik Dhitri dan Corry, S-Works Tarmac SL6, dipatok Rp 55-160 juta. Adapun Aidy mengayuh Canyon Aeroad CF SLX yang harganya Rp 60-85 juta.

Angelina Anjar Sawitri

2020-07-09 05:04:56


Gaya Hidup 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.