Hitam-Putih Musim Semi - Gaya Hidup - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Gaya Hidup 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Hitam-Putih Musim Semi

Tren busana tahun depan tak banyak menampilkan motif ceria. Dampak krisis ekonomi Eropa?

i

Tiba-tiba bunga menghilang di musim semi. Warna-warna cerah digantikan hitam dan putih—memupuskan keceriaan musim bunga. Inilah isi ramalan tren busana koleksi musim semi-panas tahun depan. Dipresentasikan pekan lalu di empat ibu kota mode dunia–New York, London, Milan, dan Paris—koleksi ini akan menyerbu butik di seluruh dunia, termasuk mal-mal Jakarta, pada Maret mendatang.

Tak satu pun perancang mengeluarkan resolusi yang menyatakan koleksi musim mendatang bakal didominasi warna hitam-putih serta kain polos tanpa motif (colour blocking). Ini juga bukan kebetulan. Mode di Paris tak ubahnya seperti wine di Bor­deaux: kandungan mineral tanah, perubahan cuaca, dan harum bunga di sekitar perkebunan akan tercecap pada wine yang dihasilkan. Dalam mode, koleksi yang akan lahir dipengaruhi kondisi sosial, politik, dan ekonomi, bahkan kondisi alam raya.

Krisis ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat belakangan telah mengubah koleksi musim semi, yang biasanya penuh bunga dan warna cerah. Hasilnya? Tren busana didominasi kelir serba muram, mirip koleksi musim gugur-dingin. Balenciaga, Calvin Collection, Moschino, Prada, bahkan Valentino, yang biasanya amat meriah, kali ini memakai hitam, putih, atau netral. Toh, kreativitas dan keajaiban tetap berlangsung di dunia mode.


Di Paris, John Galliano mendandani modelnya dengan origami. Kain-kain yang sedikit kaku dilipat-lipat seperti kertas Jepang ke tubuh model. Kerapian adalah soal lain, tapi tak ada baju yang punya siluet sama. Hitam, putih, dan kelabu mendominasi, seraya tetap menghadirkan nuansa biru dan oranye muda.

Jean Paul Gaultier punya impian suram tentang apa pun, termasuk pada 1980-an, yang berkilau dan artifisial. Saat lima model pertama keluar, orang kontan akan teringat pada sampul album Grace Jones, Nightclubbing (1981): tuksedo hitam, celana gombrong, dan rambut beratap rata. Lalu muncul tiga gaya Annie Lennox dalam ­Sweet Dream: rambut pendek merah, jas, dan dasi. Madonna, Boy George, dan Michael Jackson tentu ada. Tapi mereka lebih terlihat menakutkan dibanding memukau.

Christian Dior tentu saja tampil lebih rapi. Ada juga jas-jas hitam untuk wanita, tapi tidak seram seperti Gaultier. Potongan yang rapi dan terukur mendominasi koleksi Dior musim ini. Selain menampilkan hitam dan putih, Dior memakai warna cerah, tapi hampir semua dalam format colour blocking. Rok panjang dengan motif bunga hanya keluar di akhir pertunjukan.

l l l

Di Lanvin, perancang Alber Elbaz, yang memperingati sepuluh tahun kariernya di rumah mode itu, bermain-main dengan satin. Dan tentu saja, sebagian besar berwarna hitam. Rancangannya bersih, tapi tidak minimalis. Semuanya seperti diukur hingga milimeter, tapi kita bisa melihat ketidaksimetrisan antara kiri dan kanan.

Gucci lebih berani bermain dengan warna. Selain hitam dan putih, ada merah jambu, hijau, biru, dan kuning. Tapi hampir setiap baju hanya punya satu warna, tanpa cela, tanpa motif.

Meski umumnya menghindari motif flora dan fauna dan cenderung memblok warna, ada juga yang berjalan di antara keduanya. Marc Jacobs, misalnya, memainkan hitam dan putih dalam garis-garis. Louis Vuitton memadukan kotak-kotak besar putih dan hitam atau warna lain. Siluetnya mengikuti bentuk tubuh, tapi ilusi kotak-kotak membuatnya tak terlalu kentara. Melihat koleksi ini, orang akan teringat pada desain butik-butik mereka.

Jika ada koleksi musim semi-panas yang mengingatkan kita pada tempat tertentu, bisa ditebak, perancangnya akan bilang begini: "Koleksi ini terinspirasi oleh tempat yang saya kunjungi dalam liburan musim panas lalu." Tapi, saat menampilkan gaya Jepang—kimono mini, bakiak dan kaus kaki geisha, ataupun cetakan sakura putih—dalam koleksi Prada, Miuccia Prada tidak bilang dia baru berlibur di Jepang.

"Saya mengambil gaya Jepang karena ingin menampilkan kesan teguh dan serius dari bangsa Jepang," kata doktor ilmu politik yang "dipaksa" menjadi perancang oleh keluarganya itu. "Baju-baju ini adalah ekspresi dari mimpi yang mustahil," ujarnya kepada Style.com. Jika Jepang mampu bangkit dari kekalahan Perang Dunia II, kenapa pula Italia tak bisa bangkit dari badai ekonomi?

Siapa yang tidak melongo tatkala menyaksikan koleksi Alexander McQueen yang dibuat Sarah Burton? Koleksi siap pakai (ready to wear) ini lebih mirip ­haute-couture (adibusana). Meski banyak warna hitam dalam koleksi bertajuk Queen Bee (Ratu Lebah), tak terlihat keputusasaan di sana. Model-modelnya bertopi mirip topi peternak lebah dengan wajah ditutup kelambu. Ia kerap memakai rok mengembang perempuan aristokrat era Victoria, tapi "kurungan ayam" ia letakkan di luar rok, bukan di dalamnya.

Walhasil, Maret mendatang, musim semi-panas akan tiba bersama tren fashion yang berbalur warna-warna "dasar" hitam-putih-netral. Tidak terlalu optimistis, toh tak sepenuhnya muram.

Qaris Tajudin

2020-07-09 05:44:35


Gaya Hidup 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.