Film 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ketika Sherina ada di Mana-Mana

i
Bulan ini akan menjadi Bulan Sherina. Di mana-mana Anda akan melihat sepasang matanya yang jeli melalui poster, kaus, topi, tas ransel kumal, stiker, dan…, oups, hati-hati menginjak "wajah" Sherina, karena keset karet di Mal Pondokindah pun terbuat dari wajah penyanyi yang lincah itu. Belum lagi kasetnya yang menghebohkan, yang merupakan lagu tema untuk film Petualangan Sherina, yang sudah menjadi "lagu wajib" anak-anak sekolah yang bahkan hingga hari ini belum menonton filmnya (karena memang baru beredar pekan depan).

Disney masuk Jakarta? Kurang lebih begitu, meski ini Disney versi Melayu. Adalah duo Mira Lesmana-Riri Riza yang kompak itu, bagian dari sineas generasi multimedia (artinya yang berpengalaman dalam membuat film televisi, sinetron, layar lebar, dokumenter, dan iklan) yang sangat intim dengan strategi how to grab the people's mind. Teori-teori periklanan dari yang klasik hingga abad milenium sudah digenggam erat oleh dua sahabat ini, hingga tak mengherankan bila film dan kaset Sherina kemudian muncul sebagai sebuah paket yang siap jauh sebelum hari peluncuran.

Dan segmen yang dibidik? Tentu saja seluruh keluarga. Meski film ini adalah film anak-anak, seluruh cerita dan musik bisa dinikmati seluruh keluarga. Itulah kepandaian Mira Lesmana yang, maaf saja, sama sekali tak dimiliki sineas lainnya. Padahal, selama ini film keluarga selalu dijauhi oleh para sineas karena dianggap sebagai lahan yang kering, sementara beban moralnya terlalu berat. Maka, jangan heran jika Anda harus bersusah payah mengingat bahwa film anak-anak terakhir yang pernah kita tonton adalah Langitku Rumahku (1989) karya Slamet Rahardjo Djarot.

Nah, segmen yang sudah lama kosong inilah yang dibidik Mira Lesmana dengan Petualangan Sherina. Menurut Mira, sesungguhnya Indonesia memiliki kelompok dengan budaya menonton yang kuat. Hanya mereka tak bisa memuaskan seleranya dari film nasional produksi tahun-tahun terakhir.

Maka, pertemuan Mira dengan Sherina pun menjadi berkah. Sudah lama Mira ingin memproduksi film keluarga dengan latar belakang musik, dan pertemuannya saat membuat videoklip album Sherina pertama kemudian melahirkan inspirasi bagi Mira. "Tak mungkin membuat film musikal tanpa pemain yang punya bakat yang kuat," tutur Mira. Titik pijak film ini memang sosok Sherina itu sendiri. Karena label film ini adalah musikal, proses tim kerja film ini jadi berbeda dengan pembuatan film konvensional. Penulisan diawali dengan penggarapan musik dalam skenario. Mira menulis lirik, Elfa Secioria yang menggarap lagunya. "Saya selalu meminta konsep yang detail, agar tak salah menangkap suasananya," kata Elfa. Menurut musisi ini, proses pembuatan ilustrasi musiknya (original score) lebih rumit karena ia harus menunggu selesainya proses penyuntingan. Untuk lagu yang dinyanyikan dalam film, prosesnya begitu satu lagu selesai, langsung dibawa ke lapangan untuk dibuatkan koreografinya.

Syuting mulai dilakukan pada November sampai Desember 1999. Sebetulnya, saat itu musim hujan, tetapi karena para sineas menginginkan gambar dedaunan hijau yang molek, awak film nekat. Sebagai akibat, penundaan harus terjadi beberapa kali karena tumpahan air dari langit, yang ujungnya membuat ongkos produksi melejit, "Kita memang cari gara-gara sendiri," ujar Mira geli.

Menurut sutradara Riri Riza, dirinya sangat diuntungkan karena Sherina dan Derby Romero sebagai pemain utama mudah diarahkan. "Saya sempat cemas, namanya juga anak-anak, kadang keluar mewek-nya, tapi syukur mereka tahan banting," kata Riri. Biasanya, bila Sherina lagi benar-benar ngambek, Riri minta bantuan ibu Sherina untuk membujuk. Namun, hal ini jarang terjadi karena "Dari dulu aku ingin main film, apalagi kalau ceritanya mirip komik detektif," ujar Sherina kenes.

Tahap pascaproduksi dikerjakan mulai awal pergantian tahun. Nama Interstudio yang membantu proses pencucian film dan Thalitas (milik aktor Didi Petet) untuk mixing layak disebut karena mereka bersedia dibayar telat dengan harga bersahabat pula. Saat ini film ini sedang diupayakan untuk dicetak minimal 10 kopi. Targetnya, saat liburan sekolah bulan depan, film ini bisa diputar serentak di beberapa kota.

Namun, pilihan ini membawa konsekuensi serius. Total biaya produksi, yang semula dihitung cuma Rp 1,3 miliar, akhirnya menggembung jadi Rp 2 miliar. Angka ini sudah meliputi biaya promosi seperti pembuatan situs di internet, serta bermacam kejadian di belakang layar dalam film ini, yang akan ditayangkan di televisi swasta. Untuk promosi yang lebih besar skalanya, beberapa mitra strategis, antara lain perusahaan H.M. Sampoerna, digaet. Promosi yang terakhir ini menelan jumlah yang sangat besar.

Lantas berapa prediksi keuntungan yang akan bisa dijala? "Balik modal saja sudah baik. Itu juga kalau filmnya meledak," kata Mira. Ia tak terlalu salah, pola pembagian 50:50 antara pemilik film dan pemilik bioskop memang menyesakkan. Namun, bila menilik strategi terpadu yang dijalankan, rasanya tak terlalu salah bila film ini akan mendatangkan keuntungan. Sebagai indikasi awal, album original sound track sudah terjual 50 ribu keping. Dari sisi inilah, kerja Mira, Riri, dan Elfa layak diacungi jempol.

Yusi Pareanom, Gita Laksmini, Darmawan Sepriyossa, Hani Pudjiarti


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865727870



Film 1/2

Sebelumnya Selanjutnya