Ekonomi dan Bisnis 1/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Segera Impas, Pasti Tak Rugi

Meskipun memerlukan investasi sangat besar, bisnis padang golf menjanjikan laba tinggi. pengembalian modal tak terlalu lama, karena uang kartu anggota lapangan golf mahal.

i
BEBERAPA perusahaan konglomerat dikabarkan terancam bangkrut, tapi orang kaya di Indonesia tidak berkurang jumlahnya. Malah bisa dipastikan meningkat. Mencari indikatornya tak sulit, cukup melongok ke bisnis padang golf. Sebuah iklan lapangan golf, yang dimuat pada minggu ketiga Oktober silam di sebuah harian Ibu Kota, memajang kata-kata berani, "Investasi anggota terus bertambah," begitu bunyinya. Yang dimaksud tentu saja bahwa orang yang membayar uang kartu anggota lapangan golf (membership fee) terus bertambah. Promosi ini agaknya tak berlebihan. Di Jakarta ada orang kaya yang memiliki empat kartu anggota, ada juga yang mengantongi delapan bahkan sepuluh kartu anggota. Bila satu kartu anggota harus dibayar Rp 100 juta, maka sepuluh kartu sama dengan Rp 1 milyar. Luar biasa! Ternyata, dibalik permainan bergengsi itu ada jurus bisnis yang sudah teruji sangat ampuh bila dilancarkan dilapangan golf. Apalagi kalau lapangannya luas, asri, menantang sekaligus menyegarkan. Jurus bisnis yang dimaksud adalah jurus membina relasi yang sekarang populer dengan istilah lobbying. Acapkali pengusaha merasa optimistis, kalau mitra bisnisnya tak menolak bila diajak main golf. Dalam permainan 18 hole yang menghabiskan waktu 4-5 jam. Kesepakatan untuk sebuah proyek bisa saja dicapai. Raja Kayu Mohammad Bob Hasan terus terang mengakui bahwa olah raga golf merupakan sarana yang efektif untuk melakukan "pendekatan" alias lobi. "Sambil santai bermain golf, segala masalah menjadi lebih mudah dibicarakan," ujar Bob, yang mengaku telah 30 tahun menjadi mitra Presiden Soeharto dalam kesibukan pukul-memukul bola. Pendapat serupa juga dilontarkan seorang pengusaha kakap yang tak mau disebutkan namanya. Ia kini memiliki sembilan members card, dan pasti akan bertambah lagi. Mengapa? "Bagi saya, golf merupakan salah satu acara bisnis," tutur pengusaha itu seakan melafazkan seuntai kata mutiara. Soal nya, ketika bermain golf, ada proyek berhasil disabet. Tidak syak lagi, golf dan sukses bisnis semakin erat bergandengan, hingga semakin banyak pengusaha mencoba peruntungannya di sektor ini. Ada beberapa nama yang disebut-sebut sangat berambisi. Mereka adalah Ciputra, Sudwikat mono, Ibrahim Risyad, Budi Brasali, dan keluarga Soeryadjaya pemilik Grup Astra. Pertama-tama adalah Ciputra. Bos Grup Pembangunan Jaya ini sekarang telah memiliki empat lapangan golf yakni Ancol, Pondok Indah, Bumi Serpong Damai, dan Pantai Indah Kapuk Course yang akan diresmikan Desember depan. Sekalipun koleksi lapangan golfnya paling banyak, tapi dia yakin bahwa bisnis lapangan golf masih tetap menarik dalam beberapa tahun ke depan. Kini Ciputra tengah menambah koleksinya dengan tujuh lapangan golf lagi yang berlokasi di Surabaya, Batam, dan Tangerang. Ciputra jelas menggebu-gebu, padahal investasi yang dibutuhkan untuk sebuah lapangan golf tidak kecil. Bumi Serpong Damai dan Pantai Indah Kapuk, misalnya. Kedua lapangan itu, di luar invetasi tanah yang merupakan faktor biaya terbesar, masing-masing menelan biaya Rp 50 milyar. Lantas berapa nilai investasi total termasuk biaya pembebasan tanah? Untuk mengetahui itu bisa ditengok hasil hitungan-hitungan H.M. Teddy Thohir, Presdir Emerald One yang sebagian besar sahamnya dimiliki Keluarga William Soer jadjaya -- perusahaan yang sedang membangun dua lapangan di kaki Gunung Salak, Bogor. Menurut Teddy, harga sebuah lapangan dengan 36 hole (lubang) di atas tanah seluas 150 hektare paling sedikit Rp 150 milyar. Ternyata jumlah itu kalah dibandingkan dengan investasi yang ditanamkan oleh 14 pengusaha nasional di bawah pimpinan Ibrahim Risyad (90%) beserta dua pengusaha Singapura (10%). Dengan nama Tering Bay Resort Golf Course -- berlokasi di Pulau Batam -- mereka akan mendirikan lapangan golf lengkap dengan perumahan mewah plus kapling-kapling lebar yang siap dijual serta dua hotel megah berkamar 500 buah. Total investasi 200 juta dolar atau sekitar Rp 400 milyar lebih. Kendati investasinya besar, pengembalian modal tidak terlalu lama. Tering Bay, yang akan menjaring pemain golf dari Singapura -- jarak Singapura-Batam bisa ditempuh dengan feri selama 20 menit -- diperkirakan mencapai titik impas hanya dalam lima tahun. Bahkan, kalau sasaran pengumpulan ang gotanya (2.000 orang) bisa lebih cepat, break even point (BEP) diperkirakan tiga tahun. Menurut Aldo Brasali, Direktur PT Intan Fajar yang mengelola Tering, ada tiga sumber pendapatan yang bisa diandalkan Tering untuk mencapai titik impas. Pertama, kartu keanggotaan padang golf yang dijual dengan harga 50 ribu dolar Singapura (Rp 62,75 juta) per orang. Dengan 2.000 ang gota, uang tunai yang bisa dihimpun dari members card saja mencapai Rp 125,5 milyar. Lalu, jika anggotanya banyak, pendapatan dari iuran per bulan pun tentu akan lebih banyak lagi. Selain itu perolehan dari hotel dan penjualan kapling untuk rumah -- yang menghadap ke padang golf -- ikut menentukan. Sebab di kawasan yang menghadap ke laut ini Tering menjual kaplingnya dengan harga Sin$ 320 atau sekitar Rp 400 ribu per meter persegi. Tiga tahun untuk BEP terhitung cepat, tapi ada yang lebih kilat dari itu. Beberapa padang golf di Jakarta dan sekitarnya bahkan sudah impas sebelum dioperasikan. Sukses ini memang gila-gilaan, tapi nyata, kongkret. Dan sudah bukan rahasia lagi. Kunci BEP adalah pendapatan dari membership fee. Sebut saja Bumi Serpong Damai (BSD) yang kini memiliki 1.200 anggota. Dari iuran anggotanya, yang per bulan Rp 100 ribu, padang golf ini memang hanya memperoleh Rp 120 juta. Tapi jumlah itu sudah tergolong sebagai laba. Untuk membership fee, BSD menetapkan tarif Rp 135 juta per anggota. Dari situ saja, perusahaan ini sekarang sudah mengantongi tak kurang dari Rp 162 milyar. Atau 162% dari total modal yang ditanamkan sebesar Rp 100 milyar. Trend bisnis yang seperti ini akhirnya memperlihatkan bahwa memiliki kartu anggota padang golf sama seperti menyimpan surat berharga. Nilainya bisa naik bisa pula turun. Yang penting, kartu anggota padang golf bisa diperjualbelikan. Sertifikat anggota di Pondok Indah Golf, 15 tahun lalu harganya hanya Rp 4 juta. Kini seiring dengan naiknya harga tanah, kartu anggota Pondok Indah mencapai Rp 150 juta. Harga gila-gilaan juga dipasang oleh Jagorawi Golf & Country Club (Rp 125 juta) dan Modern Land Golf (Rp 75 juta). Ajaib sekali bahwa harga setinggi itu tetap ditabrak banyak pegolf. Dan boom ini, "Diperkirakan akan terus berlangsung hingga 20 tahun ke depan," kata Made Zakir, Dirut sekaligus pemilik Jagorawi Golf. Mungkin karena itu pula, kendati di Indonesia saat ini sudah ada 68 padang golf -- 21 di antaranya terletak di Jakarta dan sekitarnya -- banyak pengusaha yang tetap mengincar keuntungan di bisnis ini. Sekarang 35 padang golf sedang dalam proses pembangunan. Adapun yang masih diurus perizinannya konon berjumlah di atas lima puluh. Jor-joran memang. Dalam suasana yang "panas" seperti itu investasi untuk lapangan golf tidak mungkin tanggung-tanggung. Harus ada nilai tambah, keunikan, atau kemewahan tertentu yang memungkinkan lapangan golf yang dibangun terkesan lebih istimewa ketimbang lapangan yang sudah ada. Harus eksklusif dan sangat bergengsi. Maka pembuatan lapangan golf menjadi semakin rumit. Untuk merancang desain lapangan, mereka tak segan memakai desainer tingkat dunia yang honornya milyaran rupiah. Tering Bay, misalnya, memakai jasa Greg Norman dengan honor US$ 850 ribu. Emerald One menggunakan jasa dua pegolf kawakan yakni Jack Nicklaus dan Arnold Palmer. Honor mereka? Masingmasing memperoleh AS$ 1,5 juta atau sekitar Rp 6 milyar untuk berdua. Jasa pelayanan tentu termasuk senjata yang ampuh untuk menarik anggota. Maka Emerald One tak ragu mempekerjakan 800 caddy. Dengan jurusjurus berani itulah Teddy yakin bahwa "Emerald pasti laku". Jarang ada bisnis -- kecuali ditunjang oleh captive market -- yang bisa memastikan sukses seperti yang diramalkan Teddy. Namun yang mustahil itu tampaknya tak mustahil bagi bisnis lapangan golf. Panen besar ini tentu akan menetes ke beberapa sektor lain, seperti perdagangan alat-alat olah raga golf (stik alias club golf, bola golf), perlengkapan golf (sepatu, payung, sarung tangan, baju kaus, topi, kaus kaki), dan juga perusahaan yang khusus menyediakan lapangan untuk latihan memukul bola (driving range). Pelatif golf juga akan kewalahan karena banyak yang memerlukan bimbingan. Sementara itu, jika olah raga golf mengenal prestasi hole in one, bisnis padang golf itu sendiri bolehlah dibilang, sekali pukul langsung masuk lubang. Dalam kata lain, begitu beroperasi langsung untung. Budi Kusumah, Bina Bektiati, dan Sri Wahyuni

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161832979036



Ekonomi dan Bisnis 1/6

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.