Badai Agustusan Membuat Ekonomi Dunia Berpotensi Makin Bergejolak? - Ekonomi dan Bisnis - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Ekonomi dan Bisnis 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Badai Agustusan yang Lebih Dahsyat

Yopie Hidayat
Kontributor Tempo

i Ilustrasi: Tempo/Ehwan
Ilustrasi: Tempo/Ehwan

BIASANYA, kecemasan melanda pasar finansial negara-negara berkembang ketika Agustus tiba. Begitulah rekam jejak yang selalu berulang, tahun demi tahun. Gejolak dahsyat terjadi karena nilai transaksi menipis. Banyak manajer investasi menikmati liburan musim panas. Di tengah pasar yang tipis, pasar jadi mudah terguncang-guncang. Sedikit soal saja bisa mengubah harga dengan drastis.

Masalahnya, tahun ini bukanlah tahun biasa. Gelagatnya makin jelas. Tak hanya akan mengulang kisah Agustus tahun-tahun sebelumnya, gejolak bakal jauh lebih dahsyat pada 2020. Tak cuma memukul negara berkembang, guncangan “Agustusan” kali ini menghantam pula negara-negara maju. Ekonomi global sedang menghadapi ancaman serius.

Faktor terpenting yang membuat guncangan makin luas dan dalam tentu adalah Covid-19. Selain itu, ada perang dagang Amerika Serikat versus Cina yang malah makin panas ketika wabah mengganas. Tak hanya saling jegal dalam persaingan bisnis dan teknologi, Amerika dan Cina kian menunjukkan gelagat bakal terbelit dalam konflik ala Perang Dingin. Kini kedua negara saling memberikan sanksi politik, saling menutup konsulat, juga saling mengintimidasi lewat pengerahan kapal-kapal perang di Laut Cina Selatan.

Indikator mutakhir mengindikasikan gejolak pasar akan makin kencang bulan ini: ekonomi Amerika terpukul hebat pada akhir kuartal II 2020. Jika dihitung secara tahunan, ekonomi Amerika berkontraksi hingga 32,9 persen, terburuk sejak Perang Dunia Kedua. Terguncangnya ekonomi negara itu jelas akan berdampak global. Amerika masih berstatus ekonomi terbesar yang juga salah satu lokomotif utama penggerak perekonomian dunia.

Ekonomi Amerika tetap mengerut begitu dalam walaupun The Federal Reserve melakukan segala cara untuk mencegahnya. Suntikan likuiditas tak terbatas, triliunan dolar, sudah mengalir. Nyatanya, upaya luar biasa itu tak mampu mencegah rontoknya ekonomi karena dampak wabah. Nilai dolar Amerika pun pelan-pelan terus merosot. Per akhir Juli lalu, nilai dolar terhadap mata uang utama dunia sudah melorot 9,14 persen dari titik tertingginya pada Maret lalu. Investor kembali menubruk emas, sebagai tempat perlindungan di masa gawat, sehingga harganya melambung kian mendekati US$ 2.000 per troi ons.

Memburuknya ekonomi Amerika dan rontoknya nilai dolar mulai mengguncang keyakinan pasar. Goldman Sachs, salah satu lembaga finansial terbesar di dunia, kini menyoroti posisi dolar Amerika sebagai mata uang cadangan devisa dunia. Para ahli strategi Goldman mengingatkan, bukan tak mungkin dolar akan kehilangan privilese itu karena makin tak punya nilai. The Fed harus mencetak dolar besar-besaran untuk mengongkosi upaya penyelamatan ekonomi Amerika. Semenjak wabah meletus saja, sudah ada tambahan US$ 2,8 triliun baru yang dicetak bank sentral Amerika tersebut.

Keraguan Goldman Sachs memang baru berupa catatan kaki, belum menjadi pandangan utama pasar finansial. Tapi peringatan keras itu juga tak sepatutnya dianggap angin lalu. Sebab, setidaknya masih ada satu faktor lagi: memanasnya situasi politik dalam negeri Amerika di tahun pemilihan umum. Hal ini juga kian menambah sentimen negatif.

Politik membuat kebijakan pemerintah Amerika dalam penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi terbelah. Ihwal program tunjangan US$ 600 per minggu bagi kaum penganggur yang berakhir Juli ini, misalnya, Partai Republik ingin memangkasnya menjadi US$ 200 per minggu mulai Agustus. Sebaliknya, Partai Demokrat menginginkan pemberian tunjangan US$ 600 berlanjut hingga Januari 2021 karena membantu ekonomi tetap bergulir.

Dalam keadaan normal, pasar sudah biasa menghadapi kisruhnya politik di Kongres Amerika Serikat. Bahkan ketika kebuntuan itu beberapa kali membuat beberapa lembaga pemerintah Amerika harus tutup, pasar tak terlalu memusingkannya. Tapi persoalannya berbeda jika tarik-ulur kebijakan terjadi ketika ekonomi sedang megap-megap sekarat.

Investor di seluruh dunia layak cemas mengamati perkembangan di Amerika ini. Jika akhirnya kemacetan politik itu hanya menghasilkan kompromi yang tidak optimal, korbannya adalah ekonomi negeri tersebut, yang sudah pasti akan menyeret ekonomi dunia jatuh bersama.

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

2020-08-14 12:21:48

Covid-19 Resesi Pemilu Amerika Krisis Global

Ekonomi dan Bisnis 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.