Benarkah Wabah Corona Akan Memicu Resesi dan Apa Solusinya? - Ekonomi dan Bisnis - majalah.tempo.co

Ekonomi dan Bisnis 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pukulan Ringan Saja Mematikan


Kalkulasi banyak ekonom menyimpulkan pandemi virus corona akan berujung pada krisis ekonomi dunia. Pemerintah dan bank sentral menyiapkan strategi penyelamatan.

Edisi : 21 Maret 2020
i Pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 17 Maret lalu./Tempo/Tony Hartawan
Pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 17 Maret lalu./Tempo/Tony Hartawan
  • Wabah virus corona menambah ketidakpastian industri dan pasar keuangan.
  • Ekonom menghitung skenario paling ringan hingga terburuk dampak pandemi ini.
  • Aneka strategi antisipasi krisis disiapkan.

VIRUS corona kian meresahkan pelaku usaha. Bahkan strategi pemerintah memerangi pandemi ini sudah membuat kelangsungan bisnis mereka makin serba tak pasti. Dalam istilah Dwiatmoko Setiono, Direktur Utama PT Sekawan Karsa Mulia, efek samping pasti akan mengikuti upaya “pembasmian tikus” yang tak disertai pertimbangan yang matang.  

Senin, 16 Maret lalu, Dwiatmoko sudah dipusingkan oleh bisnisnya yang kacau akibat pembatasan jam operasional dan jumlah angkutan umum di DKI Jakarta. Pagi itu, banyak karyawan Sekawan Karsa di pabrik dan gudang datang terlambat sehingga membuat produksi di perusahaan bahan baku makanan dan minuman instan tersebut kedodoran.

Kabar rencana pemerintah mengisolasi sebagian wilayah Ibu Kota untuk mengurangi potensi penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) makin membuat resah. Sebab, selain aktivitas usaha Dwiatmoko berpusat di Bandengan, Jakarta Barat, produk makanan dan minuman sangat bergantung pada kegiatan di luar rumah. “Kalau sekolah tutup, perkantoran enggak buka, dan kebanyakan orang berada di rumah, kena kami,” kata Dwiatmoko kepada Tempo, Kamis, 19 Maret lalu.

Bahkan, hingga pekan lalu, Sekawan Karsa tidak bisa menerapkan secara penuh imbauan pemerintah agar perusahaan membolehkan pegawai bekerja dari rumah (work from home). Karyawan di bagian administrasi mungkin saja bisa melakukannya. “Tapi kalau yang bertugas di pabrik bagaimana? Mereka kan harus berhadapan dengan mesin,” ujarnya.

Dilema ini menambah pelik persoalan yang kini dihadapi Dwiatmoko dan sejawatnya di bisnis makanan dan minuman. Bahan baku seperti sorbitol dan maizena yang biasa dipasok dari Cina kini langka. Rantai pasok dari Tiongkok yang melambat sejak Imlek akhir Januari lalu berlanjut seiring dengan wabah corona. Sulitnya mencari barang substitusi dari negara lain kini diperparah oleh anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Dwiatmoko cukup beruntung karena stok bahan baku masih tersedia di gudangnya. “Tapi yang dikhawatirkan kalau kondisinya begini terus. Omzet rentan turun,” ucapnya. “Mudah-mudahan daya beli masyarakat masih terjaga.”

 

•••

BELUM ada yang bisa memprediksi secara presisi seberapa besar dampak corona terhadap perekonomian global dan nasional. Namun, bagi sejumlah ekonom dan cerdik-pandai, ucapan salah satu pendiri Amerika Serikat, John Jay, menjadi penting pada masa sekarang. “Berharap yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk adalah ungkapan yang basi. Tapi itu pepatah yang baik,” kata Jay pada 1 Januari 1813. Kalkulasi kini diperlukan untuk mengantisipasi risiko terburuk dampak Covid-19 terhadap ekonomi.

Itu sebabnya, sejak Februari lalu, Andry Asmoro, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, mengotak-atik beragam skenario ketika kasus corona masih terkonsentrasi di Cina. Simulasi awal itu belum menghitung rayapan taun ke Indonesia. Belum pula dihitung jika pemerintah menerapkan karantina wilayah. Hasil akhirnya belum bisa dipublikasikan lantaran dibuat untuk kepentingan internal perseroan. Tapi Andry menggambarkan dengan bahasa yang patut membuat waswas. “Dukungan pertumbuhan global hilang semua. (Potensi) masuk resesi makin tinggi,” tuturnya.


Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kiri) memberikan keterangan pers mengenai langkah kebijakan untuk menjaga stabilitas moneter dan keuangan akibat dampak virus corona di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, 2 Maret lalu. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Pandemi Covid-19 terus meluas. Hingga Rabu, 18 Maret lalu, wabah menyerang 159 negara. Beberapa di antaranya telah mengkarantina wilayah, seperti Italia, yang mengunci seluruh negeri begitu menjadi negara dengan kasus dan kematian terbanyak akibat corona sesudah Cina. Rantai pasok global yang tersendat tak hanya dari Cina, tapi melebar lintas benua.

Menurut Chatib Basri, ekonom senior dan mantan Menteri Keuangan, sebagian besar analisis saat ini hanya membandingkan dampak Covid-19 dengan epidemi sindrom pernapasan akut parah (SARS) pada 2003. Sebab, hingga kini belum ada pandemi global seperti Covid-19 selain wabah Flu Spanyol, yang menewaskan 40 juta orang di seluruh dunia pada 1918-1919. “Masalahnya, SARS itu sebagian besar hanya terjadi di Cina,” ujar Chatib, Selasa, 17 Maret lalu. Kala itu, ekonomi Cina yang terguncang pun belum sebesar saat ini.

Warwick McKibbin Foto: researchers.anu.edu.au

Gambaran lebih jelas terlihat dari kajian Warwick McKibbin dan Roshen Fernando yang dirilis akhir Februari lalu. Laporan berjudul “The Global Macroeconomic Impact of Covid-19: Seven Scenarios” yang ditulis dua ekonom Australian National University itu mengembangkan model kalkulasi yang mirip ketika McKibbin mengkalkulasi dampak SARS terhadap perekonomian global 2004.

McKibbin membuat tujuh skenario berdasarkan tingkat sebaran, jumlah kasus, dan angka kematian akibat corona. Skenario 1-3 jika corona hanya terjadi di Cina dan sementara. Skenario 4-6 diasumsikan wabah menyebar ke seluruh dunia secara temporer. Skenario 7 bila sebaran wabah berlanjut pada masa mendatang secara permanen.

Perkiraan Penurunan Produk Domestik Bruto Negara G20 Akibat Pandemi Covid-19 (US$ miliar)

Hasil kalkulasi kemudian dihitung dengan lima faktor guncangan (shock), yakni suplai tenaga kerja, equity risk premium, biaya produksi, permintaan konsumsi, dan belanja pemerintah. Pemodelan ini memasukkan G20, kelompok 19 negara dan 1 kawasan, yaitu Uni Eropa, yang mewakili ekonomi utama dunia. Indonesia berada di dalamnya.

Hasilnya, dengan skenario 4, yang dianggap paling ringan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tergerus 1,3 persen dari patokan pertumbuhan 5 persen pada 2015 yang dijadikan baseline kalkulasi. Bila pandemi Covid-19 berlangsung separah Flu Spanyol, produk domestik bruto (PDB) yang tergerus bisa mencapai 4,7 persen. Artinya, pertumbuhan ekonomi 2020 hanya akan mencapai 0,3 persen. Dengan kalkulasi ini, wabah corona diprediksi memangkas PDB Indonesia senilai US$ 45-167 miliar. Dalam skenario terburuk, angka tersebut setara dengan belanja negara sepanjang tahun ini.

Dihubungi Tempo, Kamis, 19 Maret lalu, McKibbin menyatakan belum bisa memberikan pernyataan dalam waktu dekat. Guru besar Crawford School of Public Policy di Australian National University itu menyarankan Tempo memeriksa makalahnya saja. Chatib Basri menyimpulkan bahwa kajian ini menggambarkan, “Kita hanya akan tumbuh dalam kondisi terburuk.”

Simulasi McKibbin belakangan diperkuat kajian McKinsey & Company dalam laporan berjudul “Coronavirus Covid-19: Facts and Insights” yang dirilis pada 7 Maret lalu. McKinsey mengembangkan tiga skenario dampak Covid-19 terhadap perekonomian global: pemulihan cepat, perlambatan global, dan pandemi disertai resesi.

Skenario paling akhir ini merupakan yang terburuk dengan asumsi penularan wabah berlanjut sampai kuartal ketiga 2020, rasio kematian tinggi lantaran tak adanya terapi yang efektif, dan virus tidak bersifat musiman. Jika ini terjadi, ekonomi Cina diprediksi baru pulih pada kuartal ketiga. Resesi global akan membuat PDB negara-negara besar dan total global tersisa di kisaran 0,3-5,1 persen.

 

•••

BANK sentral dan pemerintah bukannya tak menyadari bahaya Covid-19 terhadap ekonomi dunia dan dalam negeri. Lewat konferensi video, Kamis, 19 Maret lalu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menggulirkan kebijakan lanjutan untuk menstabilkan sistem keuangan. BI kembali memangkas suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis point ke level 4,5 persen.

Pada saat bersamaan, Perry juga mengumumkan BI telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,2-4,6 persen dari sebelumnya di kisaran 5-5,4 persen. Adapun perekonomian dunia diperkirakan hanya tumbuh 2,5 persen dari prediksi awal 2,7 persen. 

Menurut Perry, pandemi Covid-19 telah membuat ketidakpastian global menjadi sangat tinggi. Pembalikan modal ke aset keuangan yang dianggap lebih aman telah menekan kinerja pasar keuangan dan banyak nilai tukar mata uang. “Kami pastikan dari pagi sampai sore Bank Indonesia selalu berada di pasar agar dalam situasi yang sangat sulit ini bisa dijaga,” kata Perry. 

(Dari kiri) Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, Menko Perekonomian Airlangga, Menteri Keuangan Sri Mulyani (ketiga kiri), Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Ketua OJK Wimboh Santoso, dan Kepala Badan Ketahanan Pangan Agung Hendriadi usai memberikan keterangan kepada media Pemerintah akan memberikan fasilitas pembebasan biaya impor untuk penelitian pembuatan obat anti virus COVID-19, di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, 13 Maret lalu. ANTARA/Muhammad Adimaja

Pasar finansial memang lebih jelas menunjukkan betapa Covid-19 telah meruntuhkan kepercayaan investor portofolio. Investor asing terus menjual asetnya di Bursa Efek Indonesia. Hingga Jumat, 20 Maret lalu, net foreign sell telah mencapai Rp 9,68 triliun dalam waktu sebulan. Penguatan tipis pada akhir perdagangan hari yang sama belum membalikkan posisi indeks harga saham gabungan yang telah rontok, minus 28 persen, sejak 21 Februari lalu. Pada periode yang hampir berbarengan, investor asing juga melepaskan kepemilikan mereka atas surat berharga negara senilai Rp 95 triliun. Rupiah pun tersungkur ke level 16.273 per dolar Amerika, terendah sejak Juni 1998.

Sehari sebelum Perry mengumumkan hasil rapat Dewan Gubernur BI tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan sejumlah kebijakan pemerintah untuk menanggulangi Covid-19. Realokasi anggaran akan dilakukan di kementerian dan lembaga serta pemerintah daerah.

Dari anggaran kementerian dan lembaga, Sri menghitung ada Rp 5-10 triliun yang bisa dialihkan untuk penanganan pandemi. Sedangkan angka dari dana transfer daerah lebih besar, yakni Rp 17,7 triliun.

Selain menggeser belanja ke sektor kesehatan, pemerintah akan memakai dana hasil realokasi untuk memperkuat jaring pengaman sosial. Targetnya bukan hanya warga miskin, tapi juga pedagang kaki lima dan pelaku sektor informal lain yang terkena dampak Covid-19. Saat ini, menurut Sri, kelompok tersebut mulai terkena dampak akibat kebijakan bekerja dari rumah. “Kami akan lihat di mana database yang mencakup kelompok informal ini dan cara membantu mereka,” ucapnya.

Pemerintah memang belum menentukan caranya, apakah dengan skema Program Keluarga Harapan, bantuan pangan nontunai, atau lainnya, seperti kredit ultra-mikro dan kredit usaha rakyat. “Kami akan memakai saluran yang tersedia,” kata Sri. Berapa jumlahnya? “Akan kami hitung. Belum kami pelajari sepenuhnya ke mana ini arahnya.”

Chatib Basri menilai realokasi ini amat penting. Dalam situasi genting seperti sekarang, yang diperlukan justru penanggulangan wabah. Stimulus fiskal, menurut Chatib, tidak relevan lagi. “Hanya dua stimulus yang cocok untuk kondisi sekarang, stimulus untuk kesehatan dan bantuan sosial,” tutur Chatib. “Jangan bicara dorong permintaan dulu.”

KHAIRUL ANAM, RETNO SULISTYOWATI

2020-04-08 20:00:41

Virus Corona Resesi Krisis Ekonomi

Ekonomi dan Bisnis 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.