Ekonomi dan Bisnis 4/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Lippo ke Televisi

Grup Lippo mengguyur Kabelvision dengan suntikan modal miliaran rupiah. Apa benar kelompok usaha ini bakal masuk ke bisnis TV?

i

Kendati jatuh terpukul krisis, bisnis media televisi tampaknya tetap merang- sang minat pengusaha. Tak mengheran- kan jika Grup Lippo berani mengucurkan dana miliaran rupiah untuk membangun PT Tanjung Bangunsemesta Terbuka (TB). Melalui perusahaan TV kabel ini, kelompok usaha yang didirikan bankir kawakan Mochtar Riady itu akan memasok beragam hiburan dan informasi melalui layar kaca.

Sebenarnya, TV kabel bukan bisnis baru bagi Lippo. Sejak lima tahun lalu, Lippo membeli hak siar TV kabel Indovision dan menyalurkan siarannya ke 14 ribu penduduk Jabotabek. Sayangnya, gara-gara terempas krisis, bisnis TV kabel ini pingsan sambil meninggalkan utang di Bank Lippo US$ 3,5 juta dan Rp 10 miliar. Ini belum termasuk pinjaman ke Datacom, induk Indovision, senilai US$ 2,5 juta.

Untuk menghidupkan kembali TV kabel ini, manajemen membutuhkan pasokan dana Rp 144 miliar. Mengharapkan duit sebesar ini, pada saat ekonomi baru sembuh dari krisis, tentu "hil yang mustahal". Kendati demikian, Lippo tak hilang akal. Seluruh utang itu diubah menjadi penyertaan saham. Berdasarkan catatan utang di atas, Datacom tercatat sebagai pemilik 14 persen saham TB dan Lippo 26 persen. Untuk menggerakkan roda TB, Lippo menyuntikkan modal baru Rp 89,6 miliar.

Sejak Februari lalu, TB berganti nama menjadi PT Broadband Multimedia Terbuka (BM), dengan mengibarkan panji Kabelvision sebagai merek dagang. "Ganti nama biar dikenal, sebutan Tanjung Bangunsemesta seperti nama perusahaan properti saja," ujar Presiden Direktur BM, Peter Setiono, menuturkan alasan penggantian nama itu.

Tapi bukan cuma nama yang berubah, komposisi saham juga berganti. Anak perusahaan Lippo di Hong Kong, Across Asia Multimedia (AAM), masuk ke BM dengan menguasai 70 persen saham. Sisanya dibagi lagi dalam porsi 13,31 persen saham untuk Datakom dan 5,3 persen untuk publik. Dengan bendera AAM ini, BM kelak bukan cuma perusahaan TV kabel, tapi tak terlepas kemungkinan juga akan membeli stasiun TV swasta yang ada.

Pada titik ini muncullah pertanyaan tentang potensi pasar TV kabel di Indonesia. Siapa kira-kira golongan masyarakat yang bisa dibidik sebagai target pemasaran? Di mata Presiden Direktur Indovision, Dicky Iskandar Di Nata, mereka ini adalah dua juta rumah tangga di Tanah Air yang memiliki pengeluaran untuk rekreasi atau hiburan hingga di atas Rp 3 juta per bulan.

Di samping indikator pengeluaran rumah tangga tersebut, Dicky meneruskan, bisa juga dilihat menjamurnya pemilikan TV. Dewasa ini di seluruh Indonesia terdapat 27 juta pesawat TV, sementara antena parabolanya mencapai 8,5 juta buah. Mereka inilah potensi pasar bagi pengelola tontonan hiburan dan informasi TV kabel.

Entah apakah potensi pasar ini masuk dalam agenda BM. Pasalnya, sejauh ini, perusahaan yang baru seumur jagung ini lebih memfokuskan diri pada layanan TV kabel untuk penghuni di kawasan Lippo Karawaci dan Lippo Cikarang, Jawa Barat.

Untuk menjamin kepuasan pelanggannya, BM bahkan telah menggelar 1.250 kilometer kabel. Adapun dari sisi manajerial, Grup Lippo juga menghadirkan bekas Gubernur Arkansas, Amerika Serikat, John Guy Tucker, untuk turut memperkuat barisan BM.

Selain strategi ini, belakangan, ternyata BM juga melirik peluang mengembangkan web TV. Melalui layanan ini, setiap pelanggan BM dapat menikmati tontonan TV sembari mengecek e-mail atau berselancar ke situs-situs di internet dengan menggunakan keyboard khusus.

Persiapan ke arah web TV ini tampaknya telah dilakukan, antara lain, pada Mei lalu. AAM dan Grup Lippo sepakat mendirikan LinkNet, yang bakal menjadi perusahaan penyedia jasa internet gratis di Indonesia.

Widjajanto, Agus Hidayat, Dewi Rina Cahyani


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161814228790



Ekonomi dan Bisnis 4/8

Sebelumnya Selanjutnya