Koridor Penjamin Kebebasan - Buku - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Koridor Penjamin Kebebasan

Berisi teori tentang kebebasan untuk memperkuat teori tentang institusi negara. Kebebasan hadir ketika terdapat ruang antara kekuasaan negara dan kontrol dari mobilisasi masyarakat.

i The Narrow Corridor: States, Societies, and the Fate of Liberty
The Narrow Corridor: States, Societies, and the Fate of Liberty

DUO ekonom Daron Acemoglu dari Massachusetts Insti-tute of Technology dan James A. Robinson dari University of Chicago memunculkan -teori terbaru mereka yang mengangkat tema kebebasan. Buku The Narrow Corridor ini merupakan lanjutan dari konstruksi pemikiran keduanya yang tertulis dalam buku pertama mereka, Why Nations Fail.

Dalam buku pertama, Acemoglu dan Robinson membangun teori bahwa institusi negara yang inklusif akan melahirkan ekonomi yang inklusif. Hal paling penting dari pertumbuhan ekonomi adalah terciptanya inovasi dan peningkatan produksi secara terus-menerus. Tapi bagaimana inovasi bisa terjadi tanpa ada kebebasan?

Kedua penulis membangun teori tentang kebebasan untuk memperkuat teori tentang institusi negara. Hanya dengan kebebasan, kreativitas bisa tercipta. Kreativitas itu dibutuhkan untuk menciptakan inovasi: bebas dari rasa takut, sehingga bisa melakukan eksperimen, membuka jalan -sesuai dengan pemikirannya sendiri, meskipun itu mungkin tidak menyenangkan bagi orang lain.

Dijelaskan dalam The Narrow Corridor, kebebasan hadir ketika ada ruang yang tercipta dalam tarik-menarik antara kekuasaan negara yang makin luas dan kontrol dari mobilisasi masyarakat secara konsisten dan terus-menerus. Titik keseimbangan di antara kedua unsur ini prasyarat utama terjaminnya kebebasan individu yang hanya eksis dalam “Koridor Sempit” yang diimajinasikan kedua penulis.


Koridor keseimbangan itu tidak terbuka karena proses yang statis. Kedua unsur di atas harus bergerak secara terus-menerus tanpa garis finis. Poin ini dijelaskan melalui satu konsep penting yang disebut para penulis dengan “Efek Ratu Merah”. Acemoglu dan Robinson meminjam kisah dongeng Alice di Negeri Ajaib sebagai inspirasi.

Diceritakan dalam dongeng itu, saat balapan melawan Ratu Merah, Alice menya-dari bahwa segala hal di sekelilingnya terlihat tak bergerak meskipun ia berlari sekencang mungkin. Efek Ratu Merah menjelaskan kondisi ketika kita harus terus berlari untuk mempertahankan posisi. Keseimbangan yang dibutuhkan untuk membuka “Koridor Sempit” hanya bisa terjadi ketika negara dan masyarakat terus berlari untuk mempertahankan keseimbangan kekuatan.

Meminjam teori klasik Thomas -Hobbes soal leviathan, Acemoglu dan Robinson mengupas bagaimana Efek Ratu Merah menjadi esensial dalam membentuk pola leviathan yang beraneka ragam. Terdapat empat kategori leviathan: absen (absent leviathan), despotis (despotic leviathan), terbelenggu (shackled leviathan), dan kertas (paper leviathan).

Hanya leviathan terbelenggu yang bisa menciptakan Koridor Sempit. Hal ini disebabkan oleh ekses Efek Ratu Merah dalam negara yang memastikan kontrol terhadap kekuasaan negara. Kontrol itu juga terjadi karena desain institusi memungkinkan ruang tersebut. Setiap negara yang keluar dari Koridor Sempit akan jatuh pada negara despotis—kekuatan dan kekuasaan -negara terlalu tak terkontrol. Negara absen ketika mobilisasi masyarakat melampaui kekuatan negara untuk mengontrol.

Leviathan kertas digunakan -Acemoglu dan Robinson untuk merepresentasikan negara-negara berkembang yang hadir pascakolonialisme. Leviathan ini -memiliki karakteristik terburuk. Ketika memiliki kekuasaan, ia akan cenderung represif. Ia tidak mendapat pengawasan dan kontrol dari publik. Ia tidak peduli terhadap kesejahteraan masyarakatnya, apalagi kebe-basannya. Ia begitu takut terhadap mobilisasi masyarakat karena bisa merebut berbagai keuntungan yang didapat selama ini dengan memanfaatkan birokrasi korup.

Buku ini sangat relevan bagi kalangan akademis, pemangku kebijakan, dan masyarakat sipil. Buku ini menyajikan perbandingan komprehensif mengenai pentingnya koridor kebebasan dalam menentukan pertumbuhan yang inklusif dan mampu bertahan lama. Dari buku ini, kita belajar tentang fungsi negara untuk membebaskan manusia dari belenggu norma masyarakat yang merestriksi kebebasan atau yang disebut “penjara norma”. Kita bisa menerka efek negatif ketika negara makin melembagakan norma yang merongrong kebebasan sipil.

EDBERT GANI SURYAHUDAYA, PENELITI DEPARTEMEN POLITIK DAN PERUBAHAN SOSIAL CENTRE FOR STRATEGIC AND INTERNATIONAL STUDIES

 


 

The Narrow Corridor: States, Societies, and the Fate of Liberty

Penulis: Daron Acemoglu dan James A. Robinson
Penerbit: Penguin Press, New York, 2019
Tebal: 576 halaman

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-10-20 05:33:29


Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB